Li Xun Huan melihat kembali. Tenggorokan Singa Emas telah tertusuk. Juga, badannya masih berdiri. Ini menandakan siapapun yang telah membunuhnya memiliki ilmu pedang yang sangat tangguh. Keringanannya, dan kecepatannya.
Setelah pedang si pembunuh menembus tenggorokan Singa Emas, kemudian dia menarik kembali pedangnya, membutuhkan tidak hanya sedikit energi ekstra.
Singa Emas jelas telah bertahan, tapi bahkan setelah pedang menembus tenggorokannya, dia masih tidak bergerak. Tubuhnya masih dalam posisi bersandar.
Betapa gerakan ilmu pedang yang luar biasa.
Keheranan muncul di wajah Li Xun Huan. Dia tahu bahwa Singa Emas telah terkenal selama lebih dari 20 thn, dan tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti selama hidupnya. Biro pengawalan ekspedisinya juga sangat terkenal. Itu membuktikan bahwa ia sangat hebat. Tapi kenapa sebelum dia sempat membela diri, pedang seseorang telah menembus tenggorokannya.
Walaupun jika dia hanya orang-orangan kayu, untuk menembus tenggorokan seseorang, menariknya dan tetap membiarkannya tetap dalam posisi berdiri bukanlah pekerjaan yang enteng.
Li Xun Huan berputar dan memasuki bar. Hanya ada satu meja dengan makanan di atasnya. Tapi makanan itu belum disentuh, araknya juga juga belum.
Keempat murid dari Bocah 5 Racun telah menjadi mayat.
Kepala mayat-mayat itu menghadap keluar, kaki ke dalam, seperti sebuah tanda palang. Wajah mereka dipenuhi dengan kebahagiaan. Dan juga mereka mati dengan sebuah tusukan di tenggorokan.
Lalu kemudian dilihatnya Yu Er di sudut ruang. Tangannya memegang erat sebuah senjata yang disembunyikan.
Tapi sebelum dia bisa melepaskan senjata, dia juga telah mati dengan sebuah tusukan di tenggorokan.
Li Xun Huan tidak tahu apa dia harus heran atau gembira. Dia hanya terus menerus berkata, �Ilmu pedang yang sangat amat cepat!�
Jika kejadian ini dilihatnya dua hari yang lalu, dia tidak akan pernah mengira kalau ada orang dengan kemampuan ilmu pedang yang seperti itu. Dulu ada Pendekar Pedang Elang Salju yang dianggap sebagai pendekar pedang terbaik di dunia persilatan. Tapi walaupun ia memiliki ilmu meringankan dan kecepatan yang tinggi, ia tidak memiliki kekejian di dalam gerakannya. Lagipula pendekar pedang ini sudah lama mengundurkan diri dan tidak akan pernah dating ke tempat ini sekarang.
Sedangkan tokoh-tokoh hebat lainnya, Shen Lang, Neng Xiong Er, Wang Ling Hua, semuanya kalau sudah tidak mati sudah pension. Dan juga tidak satupun dari mereka yang menggunakan pedang.
Selain dari pada orang-orang itu, Li Xun Huan tidak bisa memikirkan adanya kemungkinan orang lain dengan ilmu setinggi itu di jaman sekarang. Tapi sekarang dia tahu, masih ada satu orang lagi dengan kemampuan seperti itu sekarang.
Orang itu adalah pemuda kesepian yang misterius , Ah Fei.
Li Xun Huan memejamkan matanya, seolah-olah membayangkan kembali cara bagaimana Ah Fei memasuki ruangan, kemudian keempat bocah itu mengelilingi dia. Tapi sebelum mereka bisa bergerak, pedang Ah Fei secepat kilat dan mematikan seperti pagutan ular, telah memasuki tenggorokan mereka.
Yu Er menjadi terkenal karena ilmu meringankan tubuh dan senjata rahasianya. Karena itulah kecepatannya pasti sangat luar biasa. Tapi saat dia akan melemparkan senjata rahasianya, pedang Ah Fei telah melayang ke arahnya. Sebuah pedang menembus tenggorokan.
Li Xun Huan mendesah. �Mainan. Seseorang bahkan menganggap pedang itu seperti mainan.�
Kemudian dilihatnya sebuah tulisan tertulis di tembok.
�Kau telah membunuh Zhu Ge Lei untuk aku. Aku kemudian membunuh orang-orang ini untukmu. Aku tidak lagi berhutang padamu. Aku tahu bahwa orang tidak boleh berhutang apapun.�
�Aku hanya membunuh satu orang untukmu. Tapi kau telah membunuh enam orang untukku. Kau tahu bahwa orang tidak boleh berhutang. Tapi kenapa engkau membuat aku berhutang padamu?� Li Xun Huan berkata. Kemudian ia melanjutkan membaca tulisan itu.
�Walaupun aku membunuh lebih banyak orang dari pada yang telah kau buat, tapi situasinya berbeda. Satu orang yang telah kau bunuh hanya bisa imbang dengan enam orang yang kubunuh. Jadi kau tidak berhutang apapun padaku.�
Li Xun Huan tidak bisa menahan tertawa. �Caramu membuat perhitungan jelas-jelas bukan perhitungan yang bagus. Sepertinya kamu jangan pernah terlibat dengan urusan dagang kelak.�
Tulisan di dinding itu tidak hanya memuat tulisan tersebut, tetapi juga ada bagian permulaannya. Li Xun Huan kemudian berjalan menuju kearah tulisan pembuka tersebut. Saat ia memasuki ruangan, sebuah pedang tertuju kepadanya. Sebuah pedang yang berkilauan, dengan ujung yang tertuju ke arahnya.
Orang yang memegang pedang itu adalah orang yang sudah sangat tua. Walaupun jenggotnya tidak seberapa panjang, tapi wajahnya penuh dengan kerutan.
Saat orang tersebut memegang pedangnya, ia berteriak, �Siapa kamu?�
Walaupun dia berbicara dengan lebih keras, dia tidak bisa menaikkan suaranya yang bergetar.
Li Xun Huan kemudian melihat kearah wajah tersebut. Dia tersenyum. �Kau tidak ingat siapa aku?� Orang tua itu menggeleng.
Li Xun Huang berkata, �tapi aku tahu siapa kau. Kau adalah pemilik tempat ini. Sepuluh tahun yang lalu aku kemari beberapa kali untuk minum arak.�
Ketegangan di mata orang tua tersebut telah berkurang, tapi ia masih memegang pedangnya kearah Li Xun Huan. �Siapa margamu?�
�Aku bermarga Li.�
Pada saat itulah orang tua tersebut mengeluarkan nafas panjang. Pedangnya terjatuh ke lantai. �Jadi�Li�Li Tan Hua. Aku telah menunggumu.�
�Menungguku?�
Orang tua itu kemudian menjawab, �Seorang pendekar muda datang kemari, membunuh banyak orang, tetapi membiarkanku hidup. Ia mengatakan kalau Li Tan Hua akan melewati tempat ini.�
�Dia mau aku menyerahkan seseorang kepadamu. Jika terjadi apa-apa, ia akan membunuhku.�
�Mana orangnya?�
�Di dapur.�
Dapur itu tidaklah kecil, juga ruangannya sangat bersih. Dan benar di dalamnya terdapat seseorang yang terikat di kursi. Dia sangat pendek dan kurus, dengan bulu-bulu dari lubang telinganya.
Li Xun Huan telah dapat menduga bahwa Ah Fei akan meninggalkan orang tersebut untuknya supaya bisa diinterogasi. Tapi orang ini tidak bisa percaya bahwa ia akan melihat Li Xun Huan. Wajahnya berubah pucat, tidak bisa berkata-kata. Sepertinya Ah Fei tidak hanya mengikatnya dengan sangat kencang, tetapi juga menggunakan kain untuk menyumpal mulutnya.
Jelas bahwa Ah Fei takut bahwa orang ini akan menakut-nakuti atau menyogok orang tua itu, sehingga ia membungkam mulut pria itu. Li Xun Huan baru menyadari kalau Ah Fei adalah orang yang pernuh perhatian pada detail.
Tetapi kenapa Ah Fei tidak menotok jalan darahnya saja untuk membuatnya bisu sementara?
Pisau Li Xun Huan berkilauan, memotong kain yang menutupi mulut pria itu. Pria itu ketakutan sampai hampir pingsan.
Dia mau memohon pengampunan, tetapi mulutnya sangat kering sehingga ia tidak dapat berkata apa-apa.
Li Xun Huan juga tidak memburu-buru pria itu. Ia kemudian duduk dan minta orang tua pemilik restoran itu untuk membawakan arak terbaik untuknya.
�Namamu siapa?�
Wajah pria itu mulai normal, ia mencoba membasahi mulutnya dengan lidahnya, kemudian dengan terbata-bata ia menjawab, �Namaku Hong Han Min.�
Li Xun Huan berkata, �Aku tahu kamu bisa minum. Ini..silahkan minum!�
Ia memutuskan tali pengikat pria itu. Ia mengulurkan cawan arak kearah pria itu. Pria itu sedikit kaget. Dia takut menerima arak itu, tapi juga tidak berani menolak arak itu.
Li Xun Huan tertawa. �Jika seseorang menawari aku arak, aku tidak pernah menolak.�
Hong Han Min mengambil cawan arak itu. Tangannya masih gemetaran, walau akhirnya dia meminum separoh dari cawan itu. Separoh lagi tumpah di bajunya.
Li Xun Huan mendesah. �Sayang sekali. Jika kau hanya meniru aku dan menggunakan pisau untuk memahat patung, tanganmu tidak akan gemetaran seperti itu. Memahat kayu justru membuat seseorang menjadi tenang dan stabil. Itu adalah sedikit rahasia dariku.�
Kemudian ia menuangkan dua cawan anggur lagi sambil tertawa berkata, �Seseorang harus ingat tidak boleh menyia-nyiakan arak yang bagus.�
Hong Han Min kali ini mengambil arak dari tangan Li Xun Huan dengan kedua tangannya. Takut ia akan menumpahkan arak lagi, ia segera menghabiskan arak itu dengan sekali teguk.
Li Xun Huang berkata, �Sangat bagus. Aku tidak banyak belajar dalam hidupku selain kedua hal tadi. Nah, karena aku sudah memberikan sedikit pelajaran kepadamu, apa imbalannya bagiku sebagai tanda terimakasihmu?�
Hong Han Min menjawab, �Aku�aku..!�
Li Xun Huan berkatam, �Kamu tidak perlu melakukan hal yang lain, berikan saja bungkusan itu, dan aku akan puas.�
Hong Han Min menarik nafas dalam-dalam. �Bungkusan apa?�
Li Xun Huan berkata, �Kamu tidak tahu yang kumaksud?�
Hong Han Min memaksakan dirinya untuk tersenyum.�Aku benar-benar tidak tahu.�
Li Xun Huan menggelengkan kepalanya. �Aku selalu mengira kalau orang akan menjadi lebih jujur setelah minum arak. Kamu benar-benar mengecewakan aku.�
Hong Han Min hanya bisa tersenyum. �Tuan Li, pasti ada kesalahpahaman. Aku benar-benar tidak tahu.�
Wajah Li Xun Huan terlihat serius sekali. �Kamu telah minum arakku, dank au berbohong kepadaku? Kamu harus mengembalikan arakku sekarang juga!�
Hong Han Min berkata, �Ya. Ya..saya akan membeli arak sekarang juga.�
Li Xun Huan berkata, �Aku hanya ingin dua cawan yang telah kau minum, bukan arak baru yang bisa kau beli.�
Hong Han Min mengumpulkan keberaniannya, menggunakan lengan kemejanya untuk mengelap pelunya. Dengan terbata-bata ia berkata, �Tapi..tapi arak itu telah berada di perutku. Bagaimana caranya aku mengembalikan kepadamu?�
Li Xun Huan berkata, �Itu sangat mudah.�
Pisau Li Xun Huan terlihat berkilau, dan tiba-tiba ujungnya telah mengarah di peruh Hong Han Min.
Li Xun Huan berkata dengan dingin, �Karena arak ini ada didalam perutmu, maka aku hanya perlu membuka perutmu untuk mendapatkannya kembali.�
Wajah Hong Han Min menjadi putih pucat, tapi ia memaksa tersenyum. �Tuan Li suka bercanda.�
Li XunHuan berkata, �Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?�
Li Xun Huan menggunakan sedikit tenaga dan menusukkan pisaunya kearah perut Hong Han Min, sehingga darah tidak keluar.
Li Xun Huan tahu bahwa orang ini adalah seorang pengecut, dan saat seorang pengecut melihat darahnya sendiri, dia akan menjadi berterus terang. Li Xun Huan sangat tahu pasti akan hal ini.
Siapa mengira bahwa saat ia menusukkan pisaunya ke perut Hong Han Min, ia seperti menusuk sebuah batu. Wajah Hong Han Min masih tersenyum, sepertinya ia tidak merasakan apa-apa.
Mata Li Xun Huan berkejab-kejab. Tangannya berhenti. Si pengecut ini jelas tidak bisa ditembus dengan pedang, tapi Li Xun Huan tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan.
Sebalinya ia tersenyum dan berkata, �Tentunya kau sudah cukup lama melanglang buana di dunia persilatan, bukan?�
Hong Han Min tidak mengira kalau ia akan ditanyai hal seperti itu. Ia menjawab dengan tersenyum, �Sudah 20 thn di dunia persilatan.�
Li Xun Huan berkata, �Tentunya kalau begitu kamu tahu bahwa di dunia ada sebuah harta yang jarang dilihat orang, tapi kabarnya benar-benar ada. Salah satunya adalah��
Li Xun Huan melihat kearah Hong Han Min dan meneruskan kata-katanya, �salah satunya Baju Perisai Benang Emas. Kabarnya kalau baju perisai ini tidak bisa ditembus oleh senjata, dan tidak bisa dimusnahkan oleh api. Karena engkau telah melanglang 20 thn di dunia persilatan, tentunya kamu tahu tentang benda-benda seperti itu.�
Wajah Hong Han Min sekarang kusut seperti pakaian basah. Dia melompat dan mencoba untuk kabur.
Gerakannya tidaklah lambat. Dengan segera ia sudah tiba di depan pintu. Tapi pada saat ia hampir meninggalkan ruangan, Li Xun Huan sudah menghadang jalannya.
Hong Han Min menggertakkan giginya, melihat berputar dan mengeluarkan sebuah tombak berantai perak. Seperti seekor ular, mata tombak tersebut terbang kearah Li Xun Huan.
Sepertinya ia telah berlatih selama 20-30 tahun untuk mengembangkan teknik ini. Saat dia melemparkan tombak itu, rantainya menjadi lurus, membawa angin dan mengarah langsung kearah tenggorokan Li Xun Huan.
Terdengar bunyi �Brang�. Li Xun Huan dengan tangan terangkat memegang sebuah cawan arak yang barusan digunakannya untuk menangkis ujung tombak Hong Han Min. Karena sesuatu hal, tombak tersebut tidak memecahkan cawan tersebut.
Li Xun Huan tersenyum dan berkata, �Jika ada orang lagi yang meyakinkan aku untuk tidak minum arak, aku akan mengatakan kepadanya manfaat minum arak, bahwa sebuah cawan arak pernah menyelamatkan nyawaku.�
Hong Han Min terlihat seperti patung berdiri di tempatnya. Keringat membasahi mukanya seperti hujan.
Li Xun Huan berkata, �Jika kamu tidak mau bertarung lagi, lepaskan Baju Perisai Benang Emas. Kamu bisa menggunakan itu untuk membayar dua cawan anggurku.�
Hong Han Min bertanya, �Kamu benar-benar menginginkannya?�
Li Xun Huan berkata lagi, �Aku sebenarnya tidak peduli pada barang itu. Kamu bisa mengambil barang itu dari pengawasan mataku, yang menunjukkan kalau kau punya cukup ilmu silat. Tapi seharusnya engkau tidak mengatakan kepada orang lain bahwa aku yang mengambil barang itu. Aku tidak suka dituduh sembarangan.�
�Kau benar. Aku yang mengambil barang itu. Dan barang itu memang berisi Baju Perisai Benang Emas. Tapi..tapi..�
Tidak hanya ia menjawab dengan gugup, tetapi air mata bercucuran dari matanya.
Li Xun Huan berkata, �Baju Perisai Benang Emas adalah pusaka pelindung yang berguna. Tetapi mengapa engkau membutuhkannya? Aku masih membunuhmu dengan sebuah gerakan. Kenapa engkau masih berusaha mendapatkan barang itu?�
Dia melanjutkan lagi, �Ini bukanlah jenis barang yang pantas kau miliki. Jika kau memberikannya kepadaku, kau bisa hidup beberapa tahun lagi!�
Hong Han Min menjawab, �Akupun tahu aku tidak layak untuk mendapatkan benda pusaka seperti itu, tapi aku tidak mencuri barang itu untuk diriku sendiri.�
Li Xun Huan berkata, �Jadi kau mengambil barang itu untuk orang lain? Siapa gerangan?�
Hong Han Min menggigit bibirnya, begitu kerasnya hingga bibirnya berdarah.
Li Xun Huan berkata dengan kalem, �Aku punya banyak cara untuk membuat orang mengatakan hal yang sejujurnya, tapi aku tidak akan menggunakan metode itu. Jadi dengan tulus aku minta supaya kau tidak memaksaku harus menggunakan metode itu.�
Hong Han Min kemudian berkata, �Baiklah aku bicara.�
�Lebih baik kau mulai dari awal.�
Hong Han Min memulai. �Kamu pernah mendengar Pencuri Ulung Dai Wu? Dia bukan orang yang terkenal, jadi Tuan Li mungkin tidak kenal.�
Li Xun Huan tertawa. �Tidak hanya aku tahu siapa dia. Tapi dia juga kenalanku. Ilmu meringankan tubuhnya dan kungfunya cukup bagus. Dan juga ia seorang peminum yang kuat.�
Hong Han Min berkata, �Baju Perisai Benang Emas ini adalah barang yang ia curi dari suatu tempat.�
�Benarkah? Lalu bagaimana bisa berada di tanganmu?�
Hong Han Min berkata, �Dia dan Zhu Ge Lei adalah teman baik. Kita bertemu sebentar dan minum bersama. Kemudian dia sangat mabuk, dan mengeluarkan baju perisai itu untuk pamer. Zhu Ge Lei menjadi iri dan��
Wajah Li Xun Huan berubah menjadi keras. �Kalian orang sudah berani berbuat hal yang memalukan, kenapa masih juga tidak bernyali untuk mengatakannya?�
Hong Han Min menundukkan kepalanya. �Dai Wu tahu bahwa Baju Perisai Benang Emas adalah pusaka yang banyak diinginkan oleh orang-orang di dunia persilatan. Seharusnya dia tidak minum-minum.�
Li XunHuan berkata dengan dingin. �Bukannya dia tidak seharusnya minum, tapi tidak seharusnya ia berteman dengan orang yang salah.�
Wajah pucat Hong Han Min menjadi merah mendengar hal itu.
Li Xun Huan berkata, �Baju Perisai Benang Emas adalah salah satu dari Tiga Pusaka di Dunia Persilatan. Tapi sebenarnya benda ini hanya memiliki sedikit kegunaan praktis. Karena jika dua orang ahli silat bertarung di dalam pertempuran barang ini menjadi berguna. Orang biasa tentu sudah mati karena menginginkan benda ini. Jadi aku tidak melihat alasan kenapa orang menyukai benda ini. Jadi pasti ada sesuatu yang lain bukan?�
Hong Han Min menjawab. �Benar, memang ada rahasianya. Tapi seharusnya rahasia ini sudah bukan rahasia lagi, karena��
Pembicaraan terputus karena pemilik kedai arak memasuki ruangan itu dan membawa dua botol arak. Dia berkata dengan tersenyum, �Ini adalah arak yang sangat baik. Pejabat Tan Hua harus minum ini sebelum lanjut.�
Li Xun Hua tersenyum pahit. �Jika kau mau aku masih mampir ke tempat ini, jangan panggil aku dengan gelar itu. Setiap saat mendengar gelar itu, aku tidak bisa minum lagi.�
Cawan arak masih di tangannya. Dia menuangkan arak ke cawan itu dan mencium aroma yang manis dari arak itu. Perasaannya menjadi lebih baik dan ia memuji, �Arak yang sangat baik.�
Saat dia meminum arak, batuknya mulai kambuh lagi.
Orang tua itu membawakan kursi untuk Li Xun Huan duduk, kemudian berkata, �Batuk tidak baik untuk kesehatan. Hati-hatilah.�
Wajah pria tua itu tersenyum, kemudian melanjutkan, �tapi arak ini adalah arak yang tepat untuk menyembuhkan batuk. Jika kau meminumnya, aku yakin kamu pasti berhenti batuk.�
Li Xun Huan tertawa, �Jika arak bisa menyembuhkan batuk, itu sangat bagus. Kenapa kau tidak minum juga?�
�Aku tidak minum.�
Li Xun Huan bertanya, �Kenapa? Orang yang menjual bakcang, lebih suka makan mantou dari pada bakcang. Jadi orang yang menjual arak lebih suka minum air putih saja?�
Mata orang itu tiba-tiba terlihat licik.
Li Xun Huan berpura-pura tidak memperhatikan hal itu. Dia terus tersenyum dan bertanya, �Kenapa?�
Pria tua itu tetap memperhatikan pisau di tangan Li Xun Huan kemudian berkata, �Karena jika aku minum arak ini, dan menggunakan sedikit energi, aku akan mati keracunan. �
Lidah Li Xun Huan tercekat.
Tapi Hong Han Min menjadi sangat gembira. �Aku tidak mengira kalau kau akan membantuku. Aku akan memberimu upah yang sangat besar.�
Pria tua itu berkata dengan dingin. �Kau tidak perlu berterimakasih kepadaku.�
Suasana hati Hong Han Min berubah, tapi dia tetap tersenyum. �Orang tua, kau benar-benar bisa menyembunyikan sifat aslimu. Aku rasa kau juga mau��
Saat dia berbicara, tombak berantai peraknya terbang kearah orang tua itu.
Orang tua itu berbadan kecil, dan pendek. Tapi tiba-tiba kakinya seakan bertumbuh. Ia membalikkan tangan kirinya dan menangkap ujung tombak itu. Kemudian dia berkata dengan lantang, �Apa kau pikir kamu cukup mampu untuk bertempur denganku?�
Orang tua yang pengecut itu seakan-akan dalam waktu sekejab telah berubah menjadi orang lain. Bahkan wajahnya menjadi bersinar.
Hong Han Min melihat wajah yang aneh ini dan kemudian teringat akan seseorang. Dia kemudian mulai memohon-mohon. �Orang tua, tolong ampuni hidupku. Aku tidak tahu kalau kau adalah��
Dia terlambat memohon. Tangan kanan orang tua itu telah mengarah kepadanya. Setelah sebuah gebrakan, tubuh Hong Han Min terpental ke udara, rantai di tangannya juga pecah menjadi dua. Darah mengalir saat badannya menghantam tembok.
Tenaga pukulan itu sangat luar biasa.
Li Xun Huan mendesah dan menggelengkan kepalanya. �Aku katakan tadi, dengan memiliki Baju Perisai Benang Emas, kau akan cepat mati.�
Li Xun Huan berkata lagi.�Kau sudah tidak membunuh 20 thn belakangan ini, bukan?!�
�Aku toh belum lupa cara membunuh orang,� kata orang tua itu.
�Apakah membunuh setimpal dengan harga dari benda itu?� Tanya Li Xun Huan.
Orang tua itu menjawab, �Duapuluh tahun yang lalu, aku tidak punya alasan untuk membunuh.�
Li Xun Huan berkata lagi, �Tapi duapuluh tahun telah berlalu. Menyembunyikan diri selama 20 thn tidaklah mudah. Membuka identitas seperti ini, tidaklah setimpal.
Orang tua itu bertanya, �Jadi kau tahu aku siapa?�
Li Xun Huan tertawa. �Kau jangan lupa, duapuluh tahun yang lalu Sun Kui adalah orang yang sangat terkenal. Tapi dia memiliki nyali untuk melarikan istri dari 72 Dermaga Selatan. Aku benar-benar menghargai keberanian seperti itu.�
Orang tua itu berkata, �Bahkan pada keadaan seperti ini, kamu masih bisa mengatakan hal semacam itu?�
Li Xun Huan berkata, �Tolong jangan pikir aku sedang melucu. Seorang pria yang demi wanitayang dicintainya, rela untuk mempertaruhkan nyawanya dan ketenaran namanya, dan semuanya, orang seperti ini pantas disebut sebagai pria sejati. Aku dulu sungguh-sungguh menghormatimu. Tapi sekarang��
Dia menggelengkan kepalanya. �Sekarang aku kecewa, karena aku tidak pernah mengira kamu orang yang penuh tipu daya. Kamu hanya bisa mencoba meracuniku, dari pada menantangku untuk bertempur yang sebenarnya.�
Sun Kui melihat kearahnya dan sebelum dia berkata-kata, orang lain tertawa berkata, �Kau tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Kalau soal hal racun meracun, dia sangat payah.�
Suara itu adalah suara wanita yang sangat menggoda.
Li Xun Huan tertawa. �Kamu benar. Seharusnya aku sudah menduga ini adalah hasil perbuatan Nyonya Qiang Wei. Li Xun Huan cukup puas bila dia dapat mati di tangan wanita yang paling cantik dua puluh tahun yang lalu.�
Suara itu terkekeh kecil saat dia berkata, �Mulutmu sungguh manis. Jika aku bertemu denganmu duapuluh tahun yang lalu, aku mungkin tidak akan kabur dengannya. "
Saat tertawa wanita itu keluar dari tempatnya. Setelah duapuluh tahun, wajahnya tidak terlalu tua. Matanya masih sangat menarik, giginya sangat putih, tapi pinggangnya�..
Sebenarnya dia tidak lagi memiliki pinggang. Tubuhnya bagaikan sebuah sebuah mangkok air.
Li Xun Huan bereaksi seperti ia baru menelan mentah-mentah sebutir telur.
Jadi ini Nyonya Qiang Wei? Dia tidak bisa mempercayai matanya. Wanita itu memakai jubah warna merah. Parfumnya bisa dicium dari jarak jauh.
Dia melihat kearah Li Xun Huan dan tertawa, �Tuan Li yang sangat mempesona, tidak heran sangat terkenal. Aku sudah lama tidak melihat pria yang demikian memikat dua puluh tahun belakangan ini. Tapi sebelum duapuluh tahun yang lalu��
Dia menghela nafas sebelum melanjutkan, �Dua puluh tahun yang lalu aku hidup dengan enak. Saat itu banyak pendekar muda akan berdatangan untuk melihat aku. Jika mereka hanya bisa melihat aku dan mengucapkan beberapa patah kata, mereka akan merasa seakan-akan berada di surga. Jika kau tidak percaya, kau tanya saja dia!�
Wajah Sun Kui terlihat kecut dan tidak mengatakan apa-apa.
Li Xun Huan melihat kearah leher Nyonya Qiang Wei dan semua lemak yang menggelambir itu, lalu melihat kea rah Sun Kui, yang terlihat menyesal di dalam hatinya. Kelihatannya pria tua itu tidak bahagia duapuluh tahun terakhir ini.
Ny. Qiang Wei mendesah lagi. �Tapi dua puluh tahun ini sangat berat bagiku. Aku hanya bisa bersembunyi di ruangan kecil, tak berani keluar rumah. Aku sangat menyesal lari bersama orang tolol ini.�
Sun Kui juga menarik nafas panjang. �Siapa yang tidak menyesal, siapa yang bukan telur kura-kura?.�
Ny. Qiang Wei menghentakkan kakinya dan mulai berteriak, �Apa katamu? Katakan lagi. Aku telah meninggalkan hidupku yang senang untuk tinggal di tempat semacam ini bersamamu. Seorang yang luar biasa cantik seperti aku, diterlantarkan seperti ini, dan kau punya nyali untuk berkata seperti itu?�
Hidung Sun Kui penuh asap kemarahan, tapi ia diam saja.
Ny. Qiang Wei berkata lagi, �Tuan Tan Hua, kau katakanlah, apakah pria macam ini mempunyai hati? Jika saja aku tahu akan seperti ini, aku lebih baik mati dari dulu saja.� Dia mencoba untuk mengejab-ngejabkan matanya, tapi tidak ada air mata yang keluar.
Li Xun Huan tersenyum, �Hal yang bagus nyonya tidak mati dulu, atau aku akan menyesal hidup di dunia ini.�
Ny. Qiang Wei tersenyum bangga, �Kamu benar-benar kepingin untuk melihatku?�
Li XunHuan berkata, �Tentu saja. Dimana lagi aku bisa melihat kecantikan di tumpukan lemak seperti itu?�
Wajah Ny. Qiang Wei menjadi pucat karena marah, tapi Sun Kui tidak bisa menahan tawanya.
Li Xun Huan tertawa, �Semestinya nyonya tidak memerlukan Baju Perisai Benang Emas itu juga. Karena walaupun nyonya dipotong menjadi dua, baju itu masih terlalu kecil untuk nyonya pakai!�
Nyonya Qiang Wei menggertakkan giginya berkata, �Sepertinya aku tidak akan membiarkanmu mati dengan cepat.�
Dia menarik sebuah jarum tipis dari rambutnya, berjalan mendekati Li Xun Huan. Tapi Li Xun Huan masih tidak bergeming dari tempat duduknya.
Sun Kui berkata, �Karena kita sudah mendapatkan baju itu, lebih baik kita teruskan rencana kita. Kenapa peduli dengan dia?�
Ny. Qiang Wei menjawab, �Kamu tidak berhak mencampuri urusanku.�
Li Xun Huan benar-benar tidak beranjak dan hanya memandang kearah wanita itu.
Siapa mengira kalau saat jarum itu hampir menusuk mata Li Xun Huan, tiba-tiba Sun Kui menendang dari belakang, membuat nyonya itu terbang ke langit-langit.
Saat wanita itu jatuh ke lantai, dia sudah setengah mati.
Li Xun Huan terkejut tidak bisa mempercayai apa yang baru dilihatnya. Dia tidak tahan untuk tidak bertanya, �Apakah kamu membunuhnya untukku?�
Sun Kui menjawab dengan marah, �Selama duapuluh tahun ini, aku sudah muak dengan kelakuannya, hampir gila. Jika aku tidak membunuhnya, aku mungkin akan mati setengah tahun lagi.�
Li Xun Huan berkata lagi, �Jadi itu yang kamu inginkan bukan? Jangan lupa, duapuluh tahun yang lalu��
Sun Kui berkata, �Kamu pikir aku yang merayu dia?�
�Memangnya tidak?�
�Saat aku bertemu dengannya, aku tidak tahu kalau dia adalah istri dari Yang Da Hu. Karena itu aku��
Dia mendesah dua kali kemudian melanjutkan, �Siapa sangka kalau dia memaksa aku untuk mengambilnya. Pada saat itu Yang Da Hu telah mengirimkan 20 pesilat tangguh disana. Aku harus pergi.�
Li Xun Huan berkata, �Setidaknya dia mencintaimu, kalau tidak dia tidak akan berbuat seperti itu.�
�Mencintaiku? Haha��
Kemudian dia menggertakkan giginya sembari tertawa. �Kemudian aku baru tahu kalau aku diperalat. Sepertinya saat suaminya sedang urusan bisnis, dia menemukan pria berwajah licin, dan mereka memiliki anak. Dia takut tidak bisa menjelaskan hal itu kepada suaminya, jadi dia membawa uang dan kabur.�
Li Xun Huan berkata, �Benarkah? Sepertinya cerita yang sesungguhnya lebih seru.�
Sun Kui berkata, �Siapa mengira kalau pria wajah licin itu mencuri perhiasannya yang dibawanya saat dia kabur dari rumah? Dia tidak mendapat orangnya malah hartanya dibawa kabur, tapi untung dia bertemu dengan aku.�
�Jika kamu tahu hal ini kenapa kamu tidak berusaha menjelaskannya?�
Sun Kui tertawa. �Aku baru tahu belakangan setelah dia tidak sengaja mengatakan hal itu saat mabuk. Pada saat itu semuanya sudah terlambat. Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa walau aku mau.�
�Bagaimana dengan anak itu?�
Sun Kui tidak mengatakan apa-apa.
Li Xun Huan mendesah. �Karena kau tahu hal itu, seharusnya engkau membunuh dia dari dulu. Kenapa harus menunggu?�
Sun Kui masih diam tidak mengatakan apa-apa.
Li Xun Huan berkata, �Aku hampir mati, kenapa tidak mengatakan saja kepadaku?�
Sun Kui berpikir lama baru menjawab, �Ada satu keuntungan memiliki kedai arak, yaitu bisa mendengar banyak hal yang menarik. Apakah kau tahu berita apa yang menarik akhir-akhir ini?�
Li Xun Huan menjawab, �Aku tidak punya kedai arak.�
Sun Kui melihat ke sekeliling, sepertinya ia takut seseorang akan mendengarnya, lalu ia berkata dengan suara pelan, �Apakah kau sudah mendengar? Dari tiga puluh tahun yang lalu, tidak ada bandingannya�.Bandit Bunga Plum telah muncul lagi!�
Mau tak mau Li Xun Huan menjadi tertarik demi didengarnya Bandit Bunga Plum.
Sun Kui berkata, �Saat Bandit Bunga Plum menguasai dunia persilatan, kamu masih kecil. Jadi kamu tidak tahu kehebatannya. Tapi aku bisa memberitahumu, tidak ada seorang pun di dunia persilatan yang tahu siapa dia yang sebenarnya. Bahkan kepala dari Sekte Cang De, pesilat pedang nomer satu di jamannya, Wu Wen Tian mati di tangan bandit itu.
�Orang ini memiliki sepak terjang yang misterius. Wu Wen Tian kemudian mengirim pesan untuk membunuh orang ini, tapi ia meninggal keesokan harinya. Hanya..�
Saat ia sampai pada poin itu, orang tua itu berhenti dan melihat sekeliling lagi. Seolah-olah dia takut bahwa Bandit Bunga Plum sedang mengintip dan memata-matai dari belakang.
Tapi tidak ada seseorang pun. Bahkan suara salju yang jatuh kea tap pun bisa terdengar. Kemudian Sun Kui melanjutkan, �Hanya pada dadanya tiba-tiba terdapat 50 lubang yang berbentuk bunga plum. Setiap lubang kecilnya seperti lubang jarum. Semua orang tahu bahwa itu adalah symbol dari Bandit Bunga Plum. Tapi tidak ada orang yang tahu senjata apa yang ia gunakan, karena tidak ada orang yang pernah bertempur dengannya yang pernah hidup. Satu-satunya yang orang tahu bahwa ia adalah seorang pria.�
�Benarkah?�
Sun Kui berkata, �Karena ia tidak hanya suka pada harta, tetapi ia juga pemerkosa. Setiap orang di dunia persilatan membenci perbuatannya ini, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap saat ada orang yang berikrar untuk memburu bandit ini, orang itu pasti mati dalam waktu tiga hari, dengan symbol bunga plum di dadanya.
Li Xun Huan bertanya, �Jadi setiap orang yang mati di tangannya selalu mempunyai tanda bunga plum di dadanya?�
�Ya. Dada depan semestinya adalah tempat bertahan paling baik bagi tubuh manusia, tapi Bandit Bunga Plum selalu menyerang bagian ini tanpa kecuali. Jika dia tidak begitu, orang tidak akan tahu tenaganya.�
Li Xun Huan tertawa. �Karena itu kau pikir kalau kau bisa memakai baju perisai itu, kau bisa menangani Bandit Bunga Plum. Dan setelah menangkap dia, kamu bisa terkenal lagi. Semua orang akan berterimakasih padamu, dan tidak akan memperdulikan masa lalumu lagi.�
Mata Sun Kui berkejab-kejab berkata, �Semua orang tahu bila kau berhasil menghindari serangan pertama di dada, kau bisa memenangkan pertandingan.�
Wajahnya penuh dengan suka cita kemudian melanjutkan, �Karena gerakan pertamanya tidak pernah gagal, maka dia tidak pernah peduli pada gerakan selanjutnya. Membuatnya mudah untuk diserang.�
Li Xun Huan berkata, �Kedengarannya cukup masuk akal.�
Sun Kui tertawa dengan senang. �Jika itu tidak masuk akal, maka orang tidak akan berlomba-lomba untuk mendapatkan baju perisai itu.�
Li Xun Huan berkata, �Tapi kau telah hidup tenang selama 20 thn ini. Kenapa masih mau kembali ke dunia persilatan?
Thursday, May 12, 2011
Xiao Li Fei Dao - 2
Kereta kuda itu sekarang dipenuhi oleh botol-botol arak. Arak ini dibeli oleh pemuda itu dan diminumnya arak itu dengan penuh nikmat.
Li Xun Huan menatapnya dengan penuh kegembiraan, dia jarang bertemu dengan orang yang ia benar-benar tertarik. Tapi pemuda ini benar-benar menarik.
Pemuda itu tiba-tiba meletakkan botol arak yang diminumnya, dan mengarahkan pandangannya ke Li Xun Huan.
�Mengapa kamu harus mengundangku ke keretamu hanya untuk minum ?�
Li Xun Huan tertawa, � Karena hotel itu bukan tempat yang tepat untuk kita singgah dalam waktu yang lama.�
�Kenapa ?�
Li Xun Huan membalas, � Siapapun yang membunuh orang, dia akan selalu berakhir dalam kesulitan. Sementara aku tidak takut akan membunuh, aku tidak menghiraukan kesulitan.�
Sementara pemuda itu berpikir, kemudian mulai meminum arak kembali. Li Xun Huan tersenyum sambil menatap pemuda itu, seolah2 mempelajari pemuda itu saat dia sedang minum.
Setelah beberapa saat, pemuda itu menghela napas, � membunuh bukanlah sesuatu yang enak. Tapi ada beberapa orang di dunia ini yang harus kita bunuh, dan aku harus membunuh mereka !�
Li Xun Huan tertawa, �apakah kamu membunuh dia hanya untuk 50 taels perak ?�
Pemuda itu membalas,� Bahkan tanpa uang itu, aku akan tetap membunuh dia. Tapi dengan mendapat 50 taels perak lebih baik bukan ? �
Li Xun Huan bertanya, � kenapa kamu meminta 50 taels ? �
Pemuda itu menjawab,� Karena dia Cuma seharga segitu.�
Li Xun Huan tersenyum,� Ada banyak orang di dunia persilatan yang pantas untuk mati dan beberapa dari mereka bahkan seharga lebih dari 50 taels. Mungkin kamu bakalan kaya.�
Pemuda itu berkata,� Sayangnya, aku terlalu miskin, kalau tidak aku akan memberimu 50 taels.�
�Kenapa ?�
�Karena kamu membantuku membunuh org itu.�
Li Xun Huan tertawa lepas,� Kamu salah, Orang itu tidak pantas dihargai 50 taels. Kenyataannya, dia bahkan tidak pantas dihargai 1 wen ( 1 wen seperti penny atau cent)
Dia tiba2 bertanya,� Kamu tau, kenapa dia mencoba membunuhmu ?�
�Tidak.�
�Karena meskipun ular putih tidak membunuh dia, dia tetap membuat Zhu Ge Lei tidak sanggup mempertahankan reputasinya di dunia persilatan. Kau membuh ular putih. Hanya dengan membunuhmu dia bakal mengembalikan reputasinya kembali. Itulah sebabnya dia harus membunuhmu. Orang2 di dunia persilatan sangat berbahaya melebihi apa yg kamu bayangkan.�
Pemuda itu berpikir sejenak,� Kadangkala, hati seseorang lebih berbisa dari pada macan. Setidaknya, ketika macan mau memangsa, kita akan mengetahuinya terlebih dahulu.�
Dia meminum sebotol lagi, kemudian melanjutkan,� Dan aku hanya mendengar orang2 berkata macan sangat berbahaya, tapi tidak pernah mendengar macan berkata manusia sangat berbahaya. Kenyataannya, macan Cuma membunuh untuk hidup tapi manusia dapat membunuh karena berbagai sebab. Dan dari apa yg aku tau, manusia membunuh sesama manusia lebih byk dari pada yg dilakukan macan.�
Li Xun Huan melihat kearah pemudah itu,� Itulah sebabnya lebih baik berteman dengan seekor macan bukan ?�
Pemuda itu berpikir sejenak, dan tiba2 tertawa,� Masalahnya mereka nggak bisa minum arak.�
Ini adalah pertama kali bagi Li Xun Huan melihat pemuda ini tersenyum. Dia tidak pernah berpikir bahwa dia dapat membawa sebuah perubahan yang besar kepada seseorang.
Wajah pemuda itu sebelumnya keliatan sangat kesepian, sangat bangga, membuat Li Xun Huan berpikir dia seperti serigala ditengah salju. Dan ketika ia tersenyum, sangat berbeda. Dia menjadi sangat hangat, dekat dan menarik.
Li Xun Huan tidak pernah melihat senyum seseorang bisa sehangat itu.
Tiba2 pemuda itu bertanya,� Apakah kamu benar2 orang terkenal?�
Li Xun Huan tersenyum,� Kadangkala, menjadi terkenal bukanlah sesuatu yang bagus.�
� Tapi aku ingin menjadi terkenal, aku ingin menjadi paling terkenal diseluruh dunia.�
Dari caranya berkata membuat dirinya keliatan tak berdosa.
Li Xun Huan tertawa kembali,� Setiap orang ingin menjadi terkenal. Kamu hanya lebih jujur daripada kebanyakan orang.�
Pemuda itu berkata,� Aku berbeda dari yang lain, aku harus terkenal. Jika aku tidak terkenal, aku lebih baik mati.�
Li Xun Huan kaget mendengar pernyataan ini,� Kenapa?�
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan ini dan terlihat luka yang sangat dalam dari tatapan matanya.
Baru kali ini Li Xun Huan melihat bahwa anak ini memendam banyak rahasia. Masa kecilnya pasti telah membawa luka yang dalam kedirinya.
Li Xun Huan berkata dengan suara yang hangat,� Jika kau ingin terkenal, setidaknya kamu harus menyebut namamu.�
Pemuda itu berpikir agak lama, kemudian merespons,� Semua orang yang mengenalku memanggilku Ah Fei.�
�Ah Fei ?�
Li Xun Huan tertawa,� Jadi nama margamu adalah �Ah�? Tidak satu pun orang di dunia ini menggunakan nama marga itu.�
Pemuda itu menjawab,� Aku tidak mempunyai nama marga!� Dengan mata berapi2.
Li Xun Huan menyadari bahkan air mata tidak akan mampu memadamkan api itu. Dia tidak sanggup untuk terus bertanya. Dia tidak pernah berpikir pemuda itu akan terus bercerita.
� Saat aku menjadi terkenal, aku mungkin akan menyebut nama margaku, sampai saat itu���
Li Xun Huan berkata dengan pembawaan yang tenang.� Untuk saat ini, aku akan memanggilmu Ah Fei.�
Pemuda itu menjawab,� Baik, kamu dapat memanggilku Ah Fei sekarang , jujur saja, kamu dapat memanggilku apa saja.�
Li Xun Huan berkata,� Ah Fei, cheers.�
Baru saja dia meneguk setengah gelas, Li Xun Huan batuk kembali, mukanya pucat menunjukkan sakit yang parah. Tapi, dia tetap meneguk arak itu hinggah habis.
Ah Fei menatapnya dengan heran, bagaimana mungkin seorang yang terkenal kayak dia bisa dalam keadaan begini. Tapi dia tidak bersuara, hanya meneguk habis arak yang ada digenggamannya.
Li Xun Huan tiba2 tersenyum,� tahukah kamu, kenapa aku menyukaimu sebagai teman?�
Ah Fei tidak menjawab, dan Li Xun Huan melanjutkan,� Karena semua teman2ku, kamu adalah satu2nya melihat aku batuk dan tidak melarang aku untuk minum.�
Ah Fei berkata,� Apakah kamu harus berhenti minum karena batuk ?�
�Kenyataannya, aku harus berhenti menyentuh alcohol.�
Ah Fei berkata,� Kenapa kamu tetap minum ? Apakah kamu memiliki masa lalu yang menyedihkan ?�
Sinar matanya yang cemerlang menjadi suram, melihat ke Ah Fei.� Apakah aku pernah bertanya sesuatu yang kamu tidak ingin menjawabnya ? Apakah aku pernah bertanya dimana orang tuamu ? Siapa yang mengajari kamu kungfu ? Kamu dari mana? Dan mau kemana ?�
�Tidak�
�Jadi mengapa kamu bertanya kepadaku ?�
Ah Fei duduk dengan tenang, dan tersenyum,� Aku tidak akan bertanya lagi.�
Li Xun Huan tersenyum juga, dia kelihatan ingin melakukan toast kembali, tapi baru saja dia mengangkat gelas, dia mulai batuk lagi.
Ah Fei membuka pintu untuk dia, tapi tiba2 kereta itu berhenti.
�Ada apa?� Li Xun Huan bertanya.
Sang kusir berkata,� Ada orang yang menghalangi jalan.�
�Siapa ?�
�Manusia salju.�
Mereka turun dari kereta. Li Xun Huan bernapas dengan pelan dan Ah Fei menatapa ke arah manusia salju itu seperti dia tidak pernah melihat manusia salju sepanjang hidupnya.
Li Xun Huan melihat dia dan bertanya,� Apakah kamu tidak pernah melihat manusia salju sebelumnya ?�
Ah Fei menjawab,� Aku hanya mengetahui kalau salju tidak menyenangkan, tidak hanya membuat orang kedinginan tapi juga membuat tanaman mati, hewan2 bersembunyi, manusia menjadi kesepian dan kelaparan.�
Dia membuat bola salju dan melemparnya. Bola itu mendarat jauh dari tempat itu, pecah dan menghilang. Dia juga melihat kearah bola salju itu. �Kepada mereka yang cukup makan, cukup pakaian, salju mungkin menyenangkan. Karena bukan saja mereka bisa membuat manusia salju tapi juga menikmati pemandangan padang salju. Tapi untuk orang kayak aku �.�
Dia melihat kearah Li Xun Huan,� Apakah kamu menyadari kalai seseorang yang tumbuh ditempat seperti ini seperti aku, angin, salju, hujan es, dan hujan adalah musuh terbesar ?�
Li Xun Huan membuat bola salju juga, dan berkata,� Aku tidak membenci salju, tapi aku membenci orang yang menghalangi jalanku.�
Dia melempar bola salju itu kearah manusia salju. Anehnya, manusia salju itu tidak roboh. Mereka hanya melihat kalau salju itu terpecah, memperlihatkan sesuatu di bawahnya.
Ternyata didalam salju ada benar2 manusia, seorang mayat. Wajah seorang mayat tidak pernah menarik, wajah ini bener2 menjijikan.
� Ular hitam!� Ah Fei tiba2 menyela.
Kenapa ular hitam tewas disini ? kenapa seseorang membunuh dia dan meninggalkannya sebagai manusia salju ? Kusir itu mengangkat mayat itu dari salju dan mengamatinya dengan seksama, mencoba menemukan serangan yang membunuh dia.
Li Xun Huan bertanya,� Kamu tau siapa yang membunuh dia ?�
Ah Fei menjawab,� Aku tidak tau.�
Li Xun Huan berkata,� paket itu.�
�Paket?�
Li Xun Huan melanjutkan,� Paket itu selalu berada di meja, jadi aku tidak memperhatikannya. Tapi ketika ular hitam pergi, paket itu lenyap. Karena itu, aku piker dia berpura2 gia untuk mengalihkan perhatian orang sementara dia pergi dengan paket itu.�
�Iyah� Ah Fei berkata.
� Dan dia tidak pernah berpikir kalau paket itu akan menyebabkan kematiannya. Pembunuhnya mesti membunuh dia demi mendapatkan paket itu.�
Tak seorang pun tahu kapan pisau itu kembali kearah tangannya kembali.� Aku ingin tau apa yg berada didalam paket itu ? Mengapa begitu banyak orang tertarik dengan isinya ? Mungkin seharusnya aku melihatnya tadi.�
Ah Fei sedang mendengarkan dengan seksama, tapi tiba2 memotong,� Jika dia terbunuh karena paket itu, mengapa mereka membuat manusia salju untuk memblok jalan kita ?�
Li Xun Huan tidak merespon , tapi berkata,� Apakah kamu menemui luka yang fatal ?�
Tapi sebelum kusir itu merespon, Li Xun Huan berkata,� Tidak perlu repot2.�
Ah Fei menambahkan,�Benar, orang2 itu sudah tiba disini, mengapa harus repot2 mengamati?�
Penglihatan dan pendengaran Li Xun Huan dapat dikatakan tidak ada duanya di dunia. Dia benar2 tidak percaya kalau pendengaran pemuda itu hamper sama baiknya.
Pemuda ini keliatannya mempunyai instinct yang tajam, untuk mengamati sesuatu yang orang lain tidak bisa. Li Xun Huan tertawa dan berkata,� Karena kalian sudah berada di sini, mengapa tidak keluar dan minum ?�
Salju yang berada di atas pohon disamping jalan tiba2 berjatuhan.
Seorang tertawa dengan lepas,� Sudah 10 tahun sejak terakhir kita bertemu. Aku tidak pernah berpikir bahwa pisaumu masih tetap muda. Aku mesti memberi selamat kepadamu.�
Sementara itu, seorang bertangan satu dengan tatapan �lan muncul dari hutan.
Seorang yang lain juga muncul dari sisi jalan yang lain. Orang ini kurus dan kecil. Keliatannya dia tidak mempunyai lebih dari 1 pound daging melekat pada dirinya, dan angin yang ringan mungkin dapat menghembusnya jauh.
Ah Fei dapat melihat secara cepat ketika orang ini muncul, tanpa ada jejak di atas salju.
Untuk orang yang bisa meninggalkan tanpa jejak di salju, meskitpun dia memiliki badan yang ringan, dia pastilah mempunyai tenaga dalam yang hebat.
Li Xun Huan tersenyum,� Aku baru saja kembali dari perbatasan setengah bulan yang lalu. Dan ketua Ekspedisi Macan Emas dan �pejalan tanpa bayangan� tuan Yu Er berdua datang menemuiku. Reputasiku mesti sangat bagus.
Orang tua itu tertawa dengan licik,� Sepertinya reputasi Li Tan Hua bukanlah omong kosong. Ingatanmu sangat luar biasa, kita hanya bertemu sekali 13 tahun yang lalu dan kamu masih mengingat orang tua yang tak berguna ini.�
*Tan Hua = peringkat 3 dalam ujian penempatan untuk pejabat Negara.
Ah Fei baru saja menyadari kalau salah satu kaki dari orang tua itu pincang. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin seorang yang pincang dapat menjadi ahli dalam ilmu peringan tubuh.
Tapi dia tidak mengerti kalau orang ini cacat sejak lahir dan berlatih lebih giat untuk menutupi kekurangannya.
Ah Fei hanya bisa terkagum2 melihat orang ini.
Li Xun Huan tertawa kecil,� Karena kamu juga mengundang beberapa teman, mengapa tidak memperkenalkan mereka ke kami ?�
Tuan Yu Er berkata dengan dingin,� Kamu benar, mereka juga mendengar reputasimu dan ingin bertemu denganmu.�
Sementara dia berbicara, 4 orang muncul dari hutan. Meskipun sekarang adalah siang harii, Li Xun Huan tetap merasa sangat dingin ketika melihat 4 orang ini.
Keempat orang ini terlihat dewasa, tetapi mengenakan pakaian seperti anak2, dengan warna yang cerah dan corak bunga2an. Sepatu mereka adalah sepatu anak2 dengan kulit harimau di bagian depan Apron terikat sampai pinggang mereka. Meskipun mata mereka memperlihatkan kalau mereka telah dewasa, tapi tingkah mereka seperti anak kecil, dan sangat menyolok.
Yang paling menarik mereka memiliki gelang dengan bel di pergelangan tangan dan kaki mereka. Sehingga menimbulkan suara ketika mereka berjalan.
Ketika sang kusir melihat 4 orang ini, dia berkata,� Ular hitam tidak dibunuh oleh siapa pun.�
Li Xun Huan berkata,� Huh?�
Sang kusir berkata,� Mereka terbunuh oleh racun kalajengking.�
Mood Li Xun Huan berubah,� jadi keempat orang ini mesti adalah murid dari Bocah 5 Racun.�
�Anak� yang mengenakan pakaian kuning tertawa,� Kamu hancurkan manusia salju yang kami buat dengan susah payah. Kamu akan membayarnya.�
Bersamaan dengan kata �bayar�, dia terbang kearah Li Xun Huan, tanpa menimbulkan suara dari bel yang ada pada dirinya.
Li Xun Huan hanya tersenyum tidak bergerak sama sekali.
Tapi Yu Er juga terbang, menghalangi �bocah� berbaju kuning. Menarik di ke samping.
�Macan emas� tiba2 tertawa dengan keras,� tuan Tan Hua sangatlah kaya. Lupakan tentang manusia salju, dia dapat membayarnya dengan manusia emas, kalian berempat tidak perlu terburu2, aku ingin memperkenalkan setiap orang.�
Bocah berbaju merah berkata,� Aku tahu dia, nama keluarganya adalah Li, Li Xun Huan.�
Bocah lain yang memakai baju merah menambahkan,� Aku juga tahu kalau dia ahli dalam makan, minum, wanita, dan judi. Jadi aku selalu ingin minta bantuannya untuk mencarikan kita kesenangan.�
Bocah yang berbaju hijau berkata,� Aku juga tahu kalau dia orang yang berpengetahuan luas, dapat meraih Tan Hua dalam ujian kenegaraan. Aku dengar kalau ayahnya, kakeknya , semua adalah Tan Hua.
Bocah yang berbaju merah tertawa kecil,� Sayangnya, Li Tan Hua yang ini tidak mau menjadi pejabat kenegaraan, dia lebih memilih menjadi pencuri.�
Sementara itu, yang lain tidak memperdulikan apa yang mereka sebutkan, Ah Fei terkagum2 mendengar informasi ini. Dia tidak pernah membayangkan kalau teman barunya memiliki hidup yang beraneka warna.
Dia tidak menyadari kalau mereka hanya menyebutkan beberapa dari aspek yang menarik dari kehidupan Li Xun Huan. Cerita kehidupan Li Xun Huan tidak akan berakhir dalam 3 hari 3 malam.
Ah Fei juga tidak melihat waktu Li Xun Huan tersenyum, kedua matanya menunjukkan luka yang dalam, seperti hatinya akan hancur mendengar orang lain menceritakan masa lalunya.
Tiba2 Yu Er dengan wajah yang serius,� Kamu benar2 mengetahui banyak tentang Li Tan Hua. Tapi apakah kamu pernah mendengar Little Li�s Legendary Dagger ? (belum terpikir terjemahan yang cocok) tiada duanya di dunia, sekali meninggalkan tangannya tidak pernah meleset.�
Bocah berbaju kuning tertawa.� Sekali pisau itu dilemparkan, pisau itu tak akan meleset. Jadi kamu takut kalau aku bakal mati karena pisaunya, dan kemudian tidak mampu menjelaskannya kepada guruku, bukan ? Jadi karena itu kamu menghentikan aku.�
Li Xun Huan berkata sambil tersenyum,� Tapi kalian dapat tenang, pisau keduaku tidaklah begitu hebat. Dan pisau pertamaku tidaklah mungkin dapat membunuh 6 orang sekaligus.�
�Jadi kalau ada yang ingin membalas kematian Zhu Ge Lei, silahkan maju.�
�Macan emas tertawa 2 kali,� Zhu Ge Lei tidak pantas untuk hidup, mengapa harus menyalahkan saudara Li ?�
Li Xun Huan merespon,� Karena kalian kesini bukan karena ingin balas dendam, apakah kalian datang kesini untuk minum ?�
Yu Er merespon dengan dingin,� Kami hanya menginginkan paket!�
Li Xun Huan mengangkat alisnya,� Paket ?�
�Yah, paket yang perlu di jaga oleh ekspedisi. Jika ada masalah dengannya, reputasi ekspedisi Macan Emas bakal dipertaruhkan.�
Li Xun Huan melihat kearah ular hitam.� Jadi maksudmu paket itu tidak bersamanya?�
Macan emas merespon,� Saudara Li benar2 tau cara melucu, dengan kehadiran saudara li , bagaimana mungkin ular hitam bisa pergi dengan membawa paket ini ?�
Li Xun Huan menghela napas,� Yang paling aku benci dalam hidup ini adalah masalah. Mengapa masalah selalu datang mencariku ?�
Macan emas kelihatan tidak mendengarkannya, sebaliknya malah tetap berbicara,� Saudara Li hanya perlu menyerahkan paket itu, aku akan meninggalkan tempat ini dengan segera dan memberikan Arak juga kepadamu.�
Li Xun Huan bermain dengan pisau di tangannya dan tiba2 tersenyum,� Kamu benar, paket itu berada di tanganku. Tapi aku tidak tahu apakah perlu memberikannya kepadamu atau tidak. Berikan waktu untuk berpikir.
Yu Er bertanya,� Berapa lama kau perlukan ?�
Li Xun Huan menjawab,� Hanya 2 jam, setelah 2 jam kalian dapat datang kesini lagi.�
Yu Er dengan tidak ragu2, dan berkata dengan segera,� Baik!�
Dia tidak berkata sepatah kata pun sebelum pergi.
Bocah berbaju kuning tiba2 tertawa kecil,� Dalam 1 jam saja kamu dapat dengan mudahnya melarikan diri, mengapa perlu 2 jam ?�
Yu Er berkata,� Sejak Li Tan Hua masuk ke dunia persilatan dan sebelum pension, dia telah mengalami lebih dari 300 pertarungan. Dia tidak pernah melarikan diri sekalipun.�
Mereka datang dan pergi bagaikan angin, bahkan sementara berbicara, mereka telah lenyap kearah hutan.
Ah Fei berkata,� Kami tidak memiliki paket itu.�
�Benar.�
�Kenapa kamu berbohong ?�
Li Xun Huan tersenyum.� Meskipun aku tidak mengambilnya, mereka tidak akan mempercayainya. Pertarungan tidak dapat dihindari. Lebih baik aku mengaku dari pada harus berbicara lebih banyak lagi.�
�Jika pertarungan tidak dapat dihindari mengapa harus menunggu ?�
Li Xun Huan berkata,� Kita harus menemui seseorang dalam 2 jam.�
�Siapa ?�
�Orang yang mencuri paket itu.�
Li Xun Huan melanjutkan,� Malam itu ada 3 orang di meja, 2 diantaranya telah tewas. Kita harus menemukan orang ketiga.�
Ah Fei berpikir sejenak,� Maksudmu orang yang memakai jubah ungu, dengan cambuk di pinggangnya dan rambut di telinga, bukan ?�
Li Xun Huan tersenyum,� Kamu hanya melihatnya dalam waktu yang singkat tapi dapat mengingatnya dengan jelas!�
�Benar aku melihatnya selintas tapi cukup bagiku .�
�Kamu benar, dia orangnya yang aku maksud. Dari orang2 yang berada di restoran malam itu, hanya dia yang mengetahui nilai sebenarnya dari paket itu. Dia bersembunyi di pinggir sehingga tidak seorangpun memperhatikannya. Itulah sebabnya dia memiliki kesempatan mengambilnya. Karena paket itu sangat berharga, dia ingin menyimpannya sendiri, tapi dia takut kalau boss nya mengetahui dan mengkambing hitamkannya ke aku.
Dia tersenyum ringan dan melanjutkan,� Untunglah ini bukan pertama kalinya aku dituduh yang tidak benar.�
Ah Fei berkata,� Satu2nya alas an mengapa orang2 tau dimana kamu berada pastilah karena dia.�
�Benar.�
�Itulah sebabnya dia mesti berada bersama orang2 macan emas. Jadi apa yang perlu kita lakukan adalah menemukan mereka untuk menemukan dia.�
Li Xun Huan menepuk bahunya.� Kamu baru saja terjun ke dunia persilatan 3 � 5 tahun, dan orang lain mulai merasakan menderita. Mudah2an ketika kita bertemu kembali, kita tetap berteman.�
Dia tertawa dengan lepas dan melanjutkan.� Karena aku benar2 tidak ingin menjadi musuhmu.�
Ah Fei melihatnya dengan tenang dan berkata.� Kamu ingin aku pergi sekarang ?�
Li Xun Huan berkata,� Ini adalah urusanku, dan tidak ada sangkut pautnya denganmu. Mereka datang kesini bukan untuk mencarimu. Mengapa kamu harus tetap disini ?�
Ah Fei berkata,� Kamu tidak ingin merepotkanku bukan ? atau kamu tidak ingin aku bersama denganmu ?�
Li Xun Huan dengan wajah kelihatan sedih, tapi berusaha untuk tetap tersenyum, �Tidak ada pertemuan yang tanpa harus diakhiri perpisahan, kita akan berpisah pada akhirnya, mengapa harus pusing apakah itu terjadi lebih awal atau lebih telat.�
Dengan wajah yang berat dan meminum 2 gelas arak dari kereta.
� Biarkan aku toast denganmu sekali lagi.�
Li Xun Huan meminum arak itu dengan singkat, dia ingin tersenyum tetapi dia mulai batuk lagi.
Ah Fei melihatnya dengan tenang untuk waktu yang lama, dan kemudian berbalik dan pergi.
Hujan salju mulai turun kembali, sangat tenang sehingga setiap orang dapat mendengar salju mendarat ke tanah.
Li Xun Huan menatap kepergian pemuda itu, hilang ditengah2 salju dan angina, melihat kearah tanah dan jejak2 kesepian.
Dia kemudian mengisi cangkir dengan arak dan berkata,� Anak muda, aku memberimu sekali toast lagi.�
�Kamu tidak tahu aku tidak benar2 ingin kamu pergi. Ini hanya karena masa depanmu terlalu cemerlang. Dengan bersamaku akan membawamu banyak masalah. Aku adalah orang yang membawa teman masalah, nasib buruk, bahaya, dan kesedihan. Aku tidak dapat memiliki tambahan seorang teman lagi.�
Tapi Ah Fei tidak dapat mendengar kata2 itu.
Sang kusir hanya berdiri di sana seperti patung, dia tidak tertawa dan meskipun ditengah2 salju dia tidak akan bergerak.
Li Xun Huan minum lagi, dan menuju kearahnya,� Kamu tunggu disiini, sebaiknya kubur tubuh ular hitam dan aku akan balik lagi dalam 2 jam.�
Sang kusir merendahkan kepalanya,� Aku tahu telapak Macan Emas sangat terkenal, tapi kehebatannya terlalu dibesar2kan. Kamu akan memerlukan paling banyak 40 jurus untuk mengalahkannya.�
Li Xun Huan berkata,� Mungkin tidak sampai 10 jurus .�
�Kalo Yu Er ?�
�Ilmu peringan tubuhnya lumayan bagus, dan ahli dalam senjata rahasia. Tapi, seharusnya aku tidak akan menemui kesulitan menghadapinya.�
Sang kusir berkata,� Aku dengar murid2 dari Bocah 5 Racun mengetahui beberapa kungfu yang aneh. Berdasarkan penglihatanku, kung fu mereka berbeda dari kebanyakan.�
Li Xun Huan memotongnya dan tertawa,� Jangan khawatir, aku tidak takut pada orang2 ini, mereka tidak akan menimbulkan masalah.�
Kusir itu tetap bersikap sangat serius,� Kamu tidak perlu membohongiku, aku tahu perjalanan ini akan sangat berbahaya. Tuan muda tidak harus membiarkan Tuan Fei pergi.�
Li Xun Huan tiba2 menjadi sedikit marah,� Sejak kapan kamu mulai senang bercakap2 ?� Li Xun Huan berkata dengan agak marah.
Kusir itu terdiam dengan segera, dan merendahkan kepalanya. Ketika dia mengangkat kepalanya lagi, Li Xun Huan telah hilang, hanya meninggalkan suara batuknya.�
Setiap orang yang mendengar suara batuk ditengah padang salju tidak dapat berbuat banyak kecuali simpati. Tapi salju2 akhirnya menutupi suara batuknya.
Air mata mengalir di wajah sang kusir dan berkata kepada dirinya sendiri,� Tuan Muda kita telah hidup dengan damai di perbatasan. Kenapa Kamu kembali lagi ketempat yang penuh dengan luka dan kesedihan ini? Dapatkah kamu melupakannya setelah 10 tahun ? Apakah kamu masih ingin melihat dia ? Tapi setelah kamu melihatnya, kamu tetap tidak berbicara dengannya. Mengapa kamu terlalu peduli dan membawa penderitaan bagi diri sendiri ?�
Ketika memasuki hutan, Wajah Li Xun Huan yang penuh pengetahuan dan gembira tiba2 berubah menjadi pemangsa. Telinganya, matanya, dan setiap bagian dari otot2nya mencari didalam hutan, tanpa melewatkan satu jejak sedikit pun. 20 tahun terakhir ini, tidak ada orang yang lepas dari pengejarannya.
Meskipun gerakannya sangat cepat bagaikan kelinci, dia tidak kelihatan terburu2. Bagaikan penari yang hebat, tidak perduli dalam kondisi apa, dia tetap menjaga keanggunan dan iramanya.
10 tahun yang lalu, ketika dia meninggalkan semuanya dan pergi ke perbatasan, dia juga menggunakan jalan ini. Pada waktu itu, bunga2 musim semi baru saja bermekaran.
Dia ingat kalau disini ada bar kecil. Dia selalu berhenti disini untuk minum, meskipun araknya bukan yang terbaik, pemandangannya adalah yang terbaik. Pegunungan di sisi yang lain, air terjun, banyak turis disini. Dia melihat kearah beberapa pasangan ketika dia sedang meminum arak dari cangkir ke cangkir. Berpikir kalau dia akan selamanya meninggalkan tempat ini. Ini adalah memori yang tidak akan pernah dia lupakan.
Sekarang, dia tidak percaya kalau dia kembali kesini lagi setelah 10 tahun. Orang2 disini pasti adalah orang baru semuanya. Pelayan muda sekarang sudah menikah. Pasangan yang mencintai satu sama lainnya dengan dalam. Bahkan pohon peach sekarang terperangkap dalam salju.
Tapi dia menginginkan bar ini akan selalu berada disini.
Ini bukanlah karena memori masa yang silam, tapi lebih karena orang yang dia inginkan berada disini.
Meskipun dunia di selimuti salju sangat berbeda dengan angin musim semi, dia tetap merasakan sakitnya.
Uang, kekuasaan, reputasi, posisi dalam masyarakat semuanya mudah untuk ditinggalkan. Tapi memori itu, memori yang indah, semuanya seperti kunci, mengikat dirinya sehingga dia tidak akan pernah melepaskan diri.
Li Xun Huan mengangkat botol arak dan meminum seluruh isinya, dan mulai bergerak lagi setelah dia berhenti batuk. Dia benar2 melihat bar ini kembali.
Dia mengingat waktu musim semi itu, bunga2 pegunungan akan tumbuh dimana saja.Dia akan minum disini sambil menikmati bunga2 itu.
Sekarang semuanya berubah. Tapi dia melihat kereta dan mendengar suara kuda dari belakang. Li Xun Huan tahu tebakannya tidak salah. Mereka berada disini! Karena dalam cuaca ini, daerah ini tidak akan banyak turis yang datang.
Dia meningkatkan kecepatannya, lebih berhati2, dengan tanpa suara mendengarkan beberapa saat. Tidak ada suara datang dari bar itu. Dia kemudian memacu langkahnya ke arah bar.
Ketika sudah dekat dengan bar, dia menemukan kalau bar ini sangat tenang diluar perkiraannya. Selain suara kuda, semuanya tampak tenang.
Ketika Li Xun Huan melangkah memasuki pintu, terdengar suara dari lantai. Dia dengan segera mundur. Tapi tetap saja tidak ada suara.
Li Xun Huan bersembunyi di belakang, dan berpikir,� Mungkin mereka tidak disini.�
Tapi kemudian dia melihat macan emas melihat kearahnya, tapi tidak ada pergerakan darinya seperti patung.
Li Xun Huan menghela napas.� Aku seharusnya telah memikirkannya!�
Dia hanya menyebutkan beberapa kata itu sebelum menutup mulutnya, karena dia menyadari kalau macan emas tidak akan pernah mendengarkan yang lain.
Li Xun Huan menatapnya dengan penuh kegembiraan, dia jarang bertemu dengan orang yang ia benar-benar tertarik. Tapi pemuda ini benar-benar menarik.
Pemuda itu tiba-tiba meletakkan botol arak yang diminumnya, dan mengarahkan pandangannya ke Li Xun Huan.
�Mengapa kamu harus mengundangku ke keretamu hanya untuk minum ?�
Li Xun Huan tertawa, � Karena hotel itu bukan tempat yang tepat untuk kita singgah dalam waktu yang lama.�
�Kenapa ?�
Li Xun Huan membalas, � Siapapun yang membunuh orang, dia akan selalu berakhir dalam kesulitan. Sementara aku tidak takut akan membunuh, aku tidak menghiraukan kesulitan.�
Sementara pemuda itu berpikir, kemudian mulai meminum arak kembali. Li Xun Huan tersenyum sambil menatap pemuda itu, seolah2 mempelajari pemuda itu saat dia sedang minum.
Setelah beberapa saat, pemuda itu menghela napas, � membunuh bukanlah sesuatu yang enak. Tapi ada beberapa orang di dunia ini yang harus kita bunuh, dan aku harus membunuh mereka !�
Li Xun Huan tertawa, �apakah kamu membunuh dia hanya untuk 50 taels perak ?�
Pemuda itu membalas,� Bahkan tanpa uang itu, aku akan tetap membunuh dia. Tapi dengan mendapat 50 taels perak lebih baik bukan ? �
Li Xun Huan bertanya, � kenapa kamu meminta 50 taels ? �
Pemuda itu menjawab,� Karena dia Cuma seharga segitu.�
Li Xun Huan tersenyum,� Ada banyak orang di dunia persilatan yang pantas untuk mati dan beberapa dari mereka bahkan seharga lebih dari 50 taels. Mungkin kamu bakalan kaya.�
Pemuda itu berkata,� Sayangnya, aku terlalu miskin, kalau tidak aku akan memberimu 50 taels.�
�Kenapa ?�
�Karena kamu membantuku membunuh org itu.�
Li Xun Huan tertawa lepas,� Kamu salah, Orang itu tidak pantas dihargai 50 taels. Kenyataannya, dia bahkan tidak pantas dihargai 1 wen ( 1 wen seperti penny atau cent)
Dia tiba2 bertanya,� Kamu tau, kenapa dia mencoba membunuhmu ?�
�Tidak.�
�Karena meskipun ular putih tidak membunuh dia, dia tetap membuat Zhu Ge Lei tidak sanggup mempertahankan reputasinya di dunia persilatan. Kau membuh ular putih. Hanya dengan membunuhmu dia bakal mengembalikan reputasinya kembali. Itulah sebabnya dia harus membunuhmu. Orang2 di dunia persilatan sangat berbahaya melebihi apa yg kamu bayangkan.�
Pemuda itu berpikir sejenak,� Kadangkala, hati seseorang lebih berbisa dari pada macan. Setidaknya, ketika macan mau memangsa, kita akan mengetahuinya terlebih dahulu.�
Dia meminum sebotol lagi, kemudian melanjutkan,� Dan aku hanya mendengar orang2 berkata macan sangat berbahaya, tapi tidak pernah mendengar macan berkata manusia sangat berbahaya. Kenyataannya, macan Cuma membunuh untuk hidup tapi manusia dapat membunuh karena berbagai sebab. Dan dari apa yg aku tau, manusia membunuh sesama manusia lebih byk dari pada yg dilakukan macan.�
Li Xun Huan melihat kearah pemudah itu,� Itulah sebabnya lebih baik berteman dengan seekor macan bukan ?�
Pemuda itu berpikir sejenak, dan tiba2 tertawa,� Masalahnya mereka nggak bisa minum arak.�
Ini adalah pertama kali bagi Li Xun Huan melihat pemuda ini tersenyum. Dia tidak pernah berpikir bahwa dia dapat membawa sebuah perubahan yang besar kepada seseorang.
Wajah pemuda itu sebelumnya keliatan sangat kesepian, sangat bangga, membuat Li Xun Huan berpikir dia seperti serigala ditengah salju. Dan ketika ia tersenyum, sangat berbeda. Dia menjadi sangat hangat, dekat dan menarik.
Li Xun Huan tidak pernah melihat senyum seseorang bisa sehangat itu.
Tiba2 pemuda itu bertanya,� Apakah kamu benar2 orang terkenal?�
Li Xun Huan tersenyum,� Kadangkala, menjadi terkenal bukanlah sesuatu yang bagus.�
� Tapi aku ingin menjadi terkenal, aku ingin menjadi paling terkenal diseluruh dunia.�
Dari caranya berkata membuat dirinya keliatan tak berdosa.
Li Xun Huan tertawa kembali,� Setiap orang ingin menjadi terkenal. Kamu hanya lebih jujur daripada kebanyakan orang.�
Pemuda itu berkata,� Aku berbeda dari yang lain, aku harus terkenal. Jika aku tidak terkenal, aku lebih baik mati.�
Li Xun Huan kaget mendengar pernyataan ini,� Kenapa?�
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan ini dan terlihat luka yang sangat dalam dari tatapan matanya.
Baru kali ini Li Xun Huan melihat bahwa anak ini memendam banyak rahasia. Masa kecilnya pasti telah membawa luka yang dalam kedirinya.
Li Xun Huan berkata dengan suara yang hangat,� Jika kau ingin terkenal, setidaknya kamu harus menyebut namamu.�
Pemuda itu berpikir agak lama, kemudian merespons,� Semua orang yang mengenalku memanggilku Ah Fei.�
�Ah Fei ?�
Li Xun Huan tertawa,� Jadi nama margamu adalah �Ah�? Tidak satu pun orang di dunia ini menggunakan nama marga itu.�
Pemuda itu menjawab,� Aku tidak mempunyai nama marga!� Dengan mata berapi2.
Li Xun Huan menyadari bahkan air mata tidak akan mampu memadamkan api itu. Dia tidak sanggup untuk terus bertanya. Dia tidak pernah berpikir pemuda itu akan terus bercerita.
� Saat aku menjadi terkenal, aku mungkin akan menyebut nama margaku, sampai saat itu���
Li Xun Huan berkata dengan pembawaan yang tenang.� Untuk saat ini, aku akan memanggilmu Ah Fei.�
Pemuda itu menjawab,� Baik, kamu dapat memanggilku Ah Fei sekarang , jujur saja, kamu dapat memanggilku apa saja.�
Li Xun Huan berkata,� Ah Fei, cheers.�
Baru saja dia meneguk setengah gelas, Li Xun Huan batuk kembali, mukanya pucat menunjukkan sakit yang parah. Tapi, dia tetap meneguk arak itu hinggah habis.
Ah Fei menatapnya dengan heran, bagaimana mungkin seorang yang terkenal kayak dia bisa dalam keadaan begini. Tapi dia tidak bersuara, hanya meneguk habis arak yang ada digenggamannya.
Li Xun Huan tiba2 tersenyum,� tahukah kamu, kenapa aku menyukaimu sebagai teman?�
Ah Fei tidak menjawab, dan Li Xun Huan melanjutkan,� Karena semua teman2ku, kamu adalah satu2nya melihat aku batuk dan tidak melarang aku untuk minum.�
Ah Fei berkata,� Apakah kamu harus berhenti minum karena batuk ?�
�Kenyataannya, aku harus berhenti menyentuh alcohol.�
Ah Fei berkata,� Kenapa kamu tetap minum ? Apakah kamu memiliki masa lalu yang menyedihkan ?�
Sinar matanya yang cemerlang menjadi suram, melihat ke Ah Fei.� Apakah aku pernah bertanya sesuatu yang kamu tidak ingin menjawabnya ? Apakah aku pernah bertanya dimana orang tuamu ? Siapa yang mengajari kamu kungfu ? Kamu dari mana? Dan mau kemana ?�
�Tidak�
�Jadi mengapa kamu bertanya kepadaku ?�
Ah Fei duduk dengan tenang, dan tersenyum,� Aku tidak akan bertanya lagi.�
Li Xun Huan tersenyum juga, dia kelihatan ingin melakukan toast kembali, tapi baru saja dia mengangkat gelas, dia mulai batuk lagi.
Ah Fei membuka pintu untuk dia, tapi tiba2 kereta itu berhenti.
�Ada apa?� Li Xun Huan bertanya.
Sang kusir berkata,� Ada orang yang menghalangi jalan.�
�Siapa ?�
�Manusia salju.�
Mereka turun dari kereta. Li Xun Huan bernapas dengan pelan dan Ah Fei menatapa ke arah manusia salju itu seperti dia tidak pernah melihat manusia salju sepanjang hidupnya.
Li Xun Huan melihat dia dan bertanya,� Apakah kamu tidak pernah melihat manusia salju sebelumnya ?�
Ah Fei menjawab,� Aku hanya mengetahui kalau salju tidak menyenangkan, tidak hanya membuat orang kedinginan tapi juga membuat tanaman mati, hewan2 bersembunyi, manusia menjadi kesepian dan kelaparan.�
Dia membuat bola salju dan melemparnya. Bola itu mendarat jauh dari tempat itu, pecah dan menghilang. Dia juga melihat kearah bola salju itu. �Kepada mereka yang cukup makan, cukup pakaian, salju mungkin menyenangkan. Karena bukan saja mereka bisa membuat manusia salju tapi juga menikmati pemandangan padang salju. Tapi untuk orang kayak aku �.�
Dia melihat kearah Li Xun Huan,� Apakah kamu menyadari kalai seseorang yang tumbuh ditempat seperti ini seperti aku, angin, salju, hujan es, dan hujan adalah musuh terbesar ?�
Li Xun Huan membuat bola salju juga, dan berkata,� Aku tidak membenci salju, tapi aku membenci orang yang menghalangi jalanku.�
Dia melempar bola salju itu kearah manusia salju. Anehnya, manusia salju itu tidak roboh. Mereka hanya melihat kalau salju itu terpecah, memperlihatkan sesuatu di bawahnya.
Ternyata didalam salju ada benar2 manusia, seorang mayat. Wajah seorang mayat tidak pernah menarik, wajah ini bener2 menjijikan.
� Ular hitam!� Ah Fei tiba2 menyela.
Kenapa ular hitam tewas disini ? kenapa seseorang membunuh dia dan meninggalkannya sebagai manusia salju ? Kusir itu mengangkat mayat itu dari salju dan mengamatinya dengan seksama, mencoba menemukan serangan yang membunuh dia.
Li Xun Huan bertanya,� Kamu tau siapa yang membunuh dia ?�
Ah Fei menjawab,� Aku tidak tau.�
Li Xun Huan berkata,� paket itu.�
�Paket?�
Li Xun Huan melanjutkan,� Paket itu selalu berada di meja, jadi aku tidak memperhatikannya. Tapi ketika ular hitam pergi, paket itu lenyap. Karena itu, aku piker dia berpura2 gia untuk mengalihkan perhatian orang sementara dia pergi dengan paket itu.�
�Iyah� Ah Fei berkata.
� Dan dia tidak pernah berpikir kalau paket itu akan menyebabkan kematiannya. Pembunuhnya mesti membunuh dia demi mendapatkan paket itu.�
Tak seorang pun tahu kapan pisau itu kembali kearah tangannya kembali.� Aku ingin tau apa yg berada didalam paket itu ? Mengapa begitu banyak orang tertarik dengan isinya ? Mungkin seharusnya aku melihatnya tadi.�
Ah Fei sedang mendengarkan dengan seksama, tapi tiba2 memotong,� Jika dia terbunuh karena paket itu, mengapa mereka membuat manusia salju untuk memblok jalan kita ?�
Li Xun Huan tidak merespon , tapi berkata,� Apakah kamu menemui luka yang fatal ?�
Tapi sebelum kusir itu merespon, Li Xun Huan berkata,� Tidak perlu repot2.�
Ah Fei menambahkan,�Benar, orang2 itu sudah tiba disini, mengapa harus repot2 mengamati?�
Penglihatan dan pendengaran Li Xun Huan dapat dikatakan tidak ada duanya di dunia. Dia benar2 tidak percaya kalau pendengaran pemuda itu hamper sama baiknya.
Pemuda ini keliatannya mempunyai instinct yang tajam, untuk mengamati sesuatu yang orang lain tidak bisa. Li Xun Huan tertawa dan berkata,� Karena kalian sudah berada di sini, mengapa tidak keluar dan minum ?�
Salju yang berada di atas pohon disamping jalan tiba2 berjatuhan.
Seorang tertawa dengan lepas,� Sudah 10 tahun sejak terakhir kita bertemu. Aku tidak pernah berpikir bahwa pisaumu masih tetap muda. Aku mesti memberi selamat kepadamu.�
Sementara itu, seorang bertangan satu dengan tatapan �lan muncul dari hutan.
Seorang yang lain juga muncul dari sisi jalan yang lain. Orang ini kurus dan kecil. Keliatannya dia tidak mempunyai lebih dari 1 pound daging melekat pada dirinya, dan angin yang ringan mungkin dapat menghembusnya jauh.
Ah Fei dapat melihat secara cepat ketika orang ini muncul, tanpa ada jejak di atas salju.
Untuk orang yang bisa meninggalkan tanpa jejak di salju, meskitpun dia memiliki badan yang ringan, dia pastilah mempunyai tenaga dalam yang hebat.
Li Xun Huan tersenyum,� Aku baru saja kembali dari perbatasan setengah bulan yang lalu. Dan ketua Ekspedisi Macan Emas dan �pejalan tanpa bayangan� tuan Yu Er berdua datang menemuiku. Reputasiku mesti sangat bagus.
Orang tua itu tertawa dengan licik,� Sepertinya reputasi Li Tan Hua bukanlah omong kosong. Ingatanmu sangat luar biasa, kita hanya bertemu sekali 13 tahun yang lalu dan kamu masih mengingat orang tua yang tak berguna ini.�
*Tan Hua = peringkat 3 dalam ujian penempatan untuk pejabat Negara.
Ah Fei baru saja menyadari kalau salah satu kaki dari orang tua itu pincang. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin seorang yang pincang dapat menjadi ahli dalam ilmu peringan tubuh.
Tapi dia tidak mengerti kalau orang ini cacat sejak lahir dan berlatih lebih giat untuk menutupi kekurangannya.
Ah Fei hanya bisa terkagum2 melihat orang ini.
Li Xun Huan tertawa kecil,� Karena kamu juga mengundang beberapa teman, mengapa tidak memperkenalkan mereka ke kami ?�
Tuan Yu Er berkata dengan dingin,� Kamu benar, mereka juga mendengar reputasimu dan ingin bertemu denganmu.�
Sementara dia berbicara, 4 orang muncul dari hutan. Meskipun sekarang adalah siang harii, Li Xun Huan tetap merasa sangat dingin ketika melihat 4 orang ini.
Keempat orang ini terlihat dewasa, tetapi mengenakan pakaian seperti anak2, dengan warna yang cerah dan corak bunga2an. Sepatu mereka adalah sepatu anak2 dengan kulit harimau di bagian depan Apron terikat sampai pinggang mereka. Meskipun mata mereka memperlihatkan kalau mereka telah dewasa, tapi tingkah mereka seperti anak kecil, dan sangat menyolok.
Yang paling menarik mereka memiliki gelang dengan bel di pergelangan tangan dan kaki mereka. Sehingga menimbulkan suara ketika mereka berjalan.
Ketika sang kusir melihat 4 orang ini, dia berkata,� Ular hitam tidak dibunuh oleh siapa pun.�
Li Xun Huan berkata,� Huh?�
Sang kusir berkata,� Mereka terbunuh oleh racun kalajengking.�
Mood Li Xun Huan berubah,� jadi keempat orang ini mesti adalah murid dari Bocah 5 Racun.�
�Anak� yang mengenakan pakaian kuning tertawa,� Kamu hancurkan manusia salju yang kami buat dengan susah payah. Kamu akan membayarnya.�
Bersamaan dengan kata �bayar�, dia terbang kearah Li Xun Huan, tanpa menimbulkan suara dari bel yang ada pada dirinya.
Li Xun Huan hanya tersenyum tidak bergerak sama sekali.
Tapi Yu Er juga terbang, menghalangi �bocah� berbaju kuning. Menarik di ke samping.
�Macan emas� tiba2 tertawa dengan keras,� tuan Tan Hua sangatlah kaya. Lupakan tentang manusia salju, dia dapat membayarnya dengan manusia emas, kalian berempat tidak perlu terburu2, aku ingin memperkenalkan setiap orang.�
Bocah berbaju merah berkata,� Aku tahu dia, nama keluarganya adalah Li, Li Xun Huan.�
Bocah lain yang memakai baju merah menambahkan,� Aku juga tahu kalau dia ahli dalam makan, minum, wanita, dan judi. Jadi aku selalu ingin minta bantuannya untuk mencarikan kita kesenangan.�
Bocah yang berbaju hijau berkata,� Aku juga tahu kalau dia orang yang berpengetahuan luas, dapat meraih Tan Hua dalam ujian kenegaraan. Aku dengar kalau ayahnya, kakeknya , semua adalah Tan Hua.
Bocah yang berbaju merah tertawa kecil,� Sayangnya, Li Tan Hua yang ini tidak mau menjadi pejabat kenegaraan, dia lebih memilih menjadi pencuri.�
Sementara itu, yang lain tidak memperdulikan apa yang mereka sebutkan, Ah Fei terkagum2 mendengar informasi ini. Dia tidak pernah membayangkan kalau teman barunya memiliki hidup yang beraneka warna.
Dia tidak menyadari kalau mereka hanya menyebutkan beberapa dari aspek yang menarik dari kehidupan Li Xun Huan. Cerita kehidupan Li Xun Huan tidak akan berakhir dalam 3 hari 3 malam.
Ah Fei juga tidak melihat waktu Li Xun Huan tersenyum, kedua matanya menunjukkan luka yang dalam, seperti hatinya akan hancur mendengar orang lain menceritakan masa lalunya.
Tiba2 Yu Er dengan wajah yang serius,� Kamu benar2 mengetahui banyak tentang Li Tan Hua. Tapi apakah kamu pernah mendengar Little Li�s Legendary Dagger ? (belum terpikir terjemahan yang cocok) tiada duanya di dunia, sekali meninggalkan tangannya tidak pernah meleset.�
Bocah berbaju kuning tertawa.� Sekali pisau itu dilemparkan, pisau itu tak akan meleset. Jadi kamu takut kalau aku bakal mati karena pisaunya, dan kemudian tidak mampu menjelaskannya kepada guruku, bukan ? Jadi karena itu kamu menghentikan aku.�
Li Xun Huan berkata sambil tersenyum,� Tapi kalian dapat tenang, pisau keduaku tidaklah begitu hebat. Dan pisau pertamaku tidaklah mungkin dapat membunuh 6 orang sekaligus.�
�Jadi kalau ada yang ingin membalas kematian Zhu Ge Lei, silahkan maju.�
�Macan emas tertawa 2 kali,� Zhu Ge Lei tidak pantas untuk hidup, mengapa harus menyalahkan saudara Li ?�
Li Xun Huan merespon,� Karena kalian kesini bukan karena ingin balas dendam, apakah kalian datang kesini untuk minum ?�
Yu Er merespon dengan dingin,� Kami hanya menginginkan paket!�
Li Xun Huan mengangkat alisnya,� Paket ?�
�Yah, paket yang perlu di jaga oleh ekspedisi. Jika ada masalah dengannya, reputasi ekspedisi Macan Emas bakal dipertaruhkan.�
Li Xun Huan melihat kearah ular hitam.� Jadi maksudmu paket itu tidak bersamanya?�
Macan emas merespon,� Saudara Li benar2 tau cara melucu, dengan kehadiran saudara li , bagaimana mungkin ular hitam bisa pergi dengan membawa paket ini ?�
Li Xun Huan menghela napas,� Yang paling aku benci dalam hidup ini adalah masalah. Mengapa masalah selalu datang mencariku ?�
Macan emas kelihatan tidak mendengarkannya, sebaliknya malah tetap berbicara,� Saudara Li hanya perlu menyerahkan paket itu, aku akan meninggalkan tempat ini dengan segera dan memberikan Arak juga kepadamu.�
Li Xun Huan bermain dengan pisau di tangannya dan tiba2 tersenyum,� Kamu benar, paket itu berada di tanganku. Tapi aku tidak tahu apakah perlu memberikannya kepadamu atau tidak. Berikan waktu untuk berpikir.
Yu Er bertanya,� Berapa lama kau perlukan ?�
Li Xun Huan menjawab,� Hanya 2 jam, setelah 2 jam kalian dapat datang kesini lagi.�
Yu Er dengan tidak ragu2, dan berkata dengan segera,� Baik!�
Dia tidak berkata sepatah kata pun sebelum pergi.
Bocah berbaju kuning tiba2 tertawa kecil,� Dalam 1 jam saja kamu dapat dengan mudahnya melarikan diri, mengapa perlu 2 jam ?�
Yu Er berkata,� Sejak Li Tan Hua masuk ke dunia persilatan dan sebelum pension, dia telah mengalami lebih dari 300 pertarungan. Dia tidak pernah melarikan diri sekalipun.�
Mereka datang dan pergi bagaikan angin, bahkan sementara berbicara, mereka telah lenyap kearah hutan.
Ah Fei berkata,� Kami tidak memiliki paket itu.�
�Benar.�
�Kenapa kamu berbohong ?�
Li Xun Huan tersenyum.� Meskipun aku tidak mengambilnya, mereka tidak akan mempercayainya. Pertarungan tidak dapat dihindari. Lebih baik aku mengaku dari pada harus berbicara lebih banyak lagi.�
�Jika pertarungan tidak dapat dihindari mengapa harus menunggu ?�
Li Xun Huan berkata,� Kita harus menemui seseorang dalam 2 jam.�
�Siapa ?�
�Orang yang mencuri paket itu.�
Li Xun Huan melanjutkan,� Malam itu ada 3 orang di meja, 2 diantaranya telah tewas. Kita harus menemukan orang ketiga.�
Ah Fei berpikir sejenak,� Maksudmu orang yang memakai jubah ungu, dengan cambuk di pinggangnya dan rambut di telinga, bukan ?�
Li Xun Huan tersenyum,� Kamu hanya melihatnya dalam waktu yang singkat tapi dapat mengingatnya dengan jelas!�
�Benar aku melihatnya selintas tapi cukup bagiku .�
�Kamu benar, dia orangnya yang aku maksud. Dari orang2 yang berada di restoran malam itu, hanya dia yang mengetahui nilai sebenarnya dari paket itu. Dia bersembunyi di pinggir sehingga tidak seorangpun memperhatikannya. Itulah sebabnya dia memiliki kesempatan mengambilnya. Karena paket itu sangat berharga, dia ingin menyimpannya sendiri, tapi dia takut kalau boss nya mengetahui dan mengkambing hitamkannya ke aku.
Dia tersenyum ringan dan melanjutkan,� Untunglah ini bukan pertama kalinya aku dituduh yang tidak benar.�
Ah Fei berkata,� Satu2nya alas an mengapa orang2 tau dimana kamu berada pastilah karena dia.�
�Benar.�
�Itulah sebabnya dia mesti berada bersama orang2 macan emas. Jadi apa yang perlu kita lakukan adalah menemukan mereka untuk menemukan dia.�
Li Xun Huan menepuk bahunya.� Kamu baru saja terjun ke dunia persilatan 3 � 5 tahun, dan orang lain mulai merasakan menderita. Mudah2an ketika kita bertemu kembali, kita tetap berteman.�
Dia tertawa dengan lepas dan melanjutkan.� Karena aku benar2 tidak ingin menjadi musuhmu.�
Ah Fei melihatnya dengan tenang dan berkata.� Kamu ingin aku pergi sekarang ?�
Li Xun Huan berkata,� Ini adalah urusanku, dan tidak ada sangkut pautnya denganmu. Mereka datang kesini bukan untuk mencarimu. Mengapa kamu harus tetap disini ?�
Ah Fei berkata,� Kamu tidak ingin merepotkanku bukan ? atau kamu tidak ingin aku bersama denganmu ?�
Li Xun Huan dengan wajah kelihatan sedih, tapi berusaha untuk tetap tersenyum, �Tidak ada pertemuan yang tanpa harus diakhiri perpisahan, kita akan berpisah pada akhirnya, mengapa harus pusing apakah itu terjadi lebih awal atau lebih telat.�
Dengan wajah yang berat dan meminum 2 gelas arak dari kereta.
� Biarkan aku toast denganmu sekali lagi.�
Li Xun Huan meminum arak itu dengan singkat, dia ingin tersenyum tetapi dia mulai batuk lagi.
Ah Fei melihatnya dengan tenang untuk waktu yang lama, dan kemudian berbalik dan pergi.
Hujan salju mulai turun kembali, sangat tenang sehingga setiap orang dapat mendengar salju mendarat ke tanah.
Li Xun Huan menatap kepergian pemuda itu, hilang ditengah2 salju dan angina, melihat kearah tanah dan jejak2 kesepian.
Dia kemudian mengisi cangkir dengan arak dan berkata,� Anak muda, aku memberimu sekali toast lagi.�
�Kamu tidak tahu aku tidak benar2 ingin kamu pergi. Ini hanya karena masa depanmu terlalu cemerlang. Dengan bersamaku akan membawamu banyak masalah. Aku adalah orang yang membawa teman masalah, nasib buruk, bahaya, dan kesedihan. Aku tidak dapat memiliki tambahan seorang teman lagi.�
Tapi Ah Fei tidak dapat mendengar kata2 itu.
Sang kusir hanya berdiri di sana seperti patung, dia tidak tertawa dan meskipun ditengah2 salju dia tidak akan bergerak.
Li Xun Huan minum lagi, dan menuju kearahnya,� Kamu tunggu disiini, sebaiknya kubur tubuh ular hitam dan aku akan balik lagi dalam 2 jam.�
Sang kusir merendahkan kepalanya,� Aku tahu telapak Macan Emas sangat terkenal, tapi kehebatannya terlalu dibesar2kan. Kamu akan memerlukan paling banyak 40 jurus untuk mengalahkannya.�
Li Xun Huan berkata,� Mungkin tidak sampai 10 jurus .�
�Kalo Yu Er ?�
�Ilmu peringan tubuhnya lumayan bagus, dan ahli dalam senjata rahasia. Tapi, seharusnya aku tidak akan menemui kesulitan menghadapinya.�
Sang kusir berkata,� Aku dengar murid2 dari Bocah 5 Racun mengetahui beberapa kungfu yang aneh. Berdasarkan penglihatanku, kung fu mereka berbeda dari kebanyakan.�
Li Xun Huan memotongnya dan tertawa,� Jangan khawatir, aku tidak takut pada orang2 ini, mereka tidak akan menimbulkan masalah.�
Kusir itu tetap bersikap sangat serius,� Kamu tidak perlu membohongiku, aku tahu perjalanan ini akan sangat berbahaya. Tuan muda tidak harus membiarkan Tuan Fei pergi.�
Li Xun Huan tiba2 menjadi sedikit marah,� Sejak kapan kamu mulai senang bercakap2 ?� Li Xun Huan berkata dengan agak marah.
Kusir itu terdiam dengan segera, dan merendahkan kepalanya. Ketika dia mengangkat kepalanya lagi, Li Xun Huan telah hilang, hanya meninggalkan suara batuknya.�
Setiap orang yang mendengar suara batuk ditengah padang salju tidak dapat berbuat banyak kecuali simpati. Tapi salju2 akhirnya menutupi suara batuknya.
Air mata mengalir di wajah sang kusir dan berkata kepada dirinya sendiri,� Tuan Muda kita telah hidup dengan damai di perbatasan. Kenapa Kamu kembali lagi ketempat yang penuh dengan luka dan kesedihan ini? Dapatkah kamu melupakannya setelah 10 tahun ? Apakah kamu masih ingin melihat dia ? Tapi setelah kamu melihatnya, kamu tetap tidak berbicara dengannya. Mengapa kamu terlalu peduli dan membawa penderitaan bagi diri sendiri ?�
Ketika memasuki hutan, Wajah Li Xun Huan yang penuh pengetahuan dan gembira tiba2 berubah menjadi pemangsa. Telinganya, matanya, dan setiap bagian dari otot2nya mencari didalam hutan, tanpa melewatkan satu jejak sedikit pun. 20 tahun terakhir ini, tidak ada orang yang lepas dari pengejarannya.
Meskipun gerakannya sangat cepat bagaikan kelinci, dia tidak kelihatan terburu2. Bagaikan penari yang hebat, tidak perduli dalam kondisi apa, dia tetap menjaga keanggunan dan iramanya.
10 tahun yang lalu, ketika dia meninggalkan semuanya dan pergi ke perbatasan, dia juga menggunakan jalan ini. Pada waktu itu, bunga2 musim semi baru saja bermekaran.
Dia ingat kalau disini ada bar kecil. Dia selalu berhenti disini untuk minum, meskipun araknya bukan yang terbaik, pemandangannya adalah yang terbaik. Pegunungan di sisi yang lain, air terjun, banyak turis disini. Dia melihat kearah beberapa pasangan ketika dia sedang meminum arak dari cangkir ke cangkir. Berpikir kalau dia akan selamanya meninggalkan tempat ini. Ini adalah memori yang tidak akan pernah dia lupakan.
Sekarang, dia tidak percaya kalau dia kembali kesini lagi setelah 10 tahun. Orang2 disini pasti adalah orang baru semuanya. Pelayan muda sekarang sudah menikah. Pasangan yang mencintai satu sama lainnya dengan dalam. Bahkan pohon peach sekarang terperangkap dalam salju.
Tapi dia menginginkan bar ini akan selalu berada disini.
Ini bukanlah karena memori masa yang silam, tapi lebih karena orang yang dia inginkan berada disini.
Meskipun dunia di selimuti salju sangat berbeda dengan angin musim semi, dia tetap merasakan sakitnya.
Uang, kekuasaan, reputasi, posisi dalam masyarakat semuanya mudah untuk ditinggalkan. Tapi memori itu, memori yang indah, semuanya seperti kunci, mengikat dirinya sehingga dia tidak akan pernah melepaskan diri.
Li Xun Huan mengangkat botol arak dan meminum seluruh isinya, dan mulai bergerak lagi setelah dia berhenti batuk. Dia benar2 melihat bar ini kembali.
Dia mengingat waktu musim semi itu, bunga2 pegunungan akan tumbuh dimana saja.Dia akan minum disini sambil menikmati bunga2 itu.
Sekarang semuanya berubah. Tapi dia melihat kereta dan mendengar suara kuda dari belakang. Li Xun Huan tahu tebakannya tidak salah. Mereka berada disini! Karena dalam cuaca ini, daerah ini tidak akan banyak turis yang datang.
Dia meningkatkan kecepatannya, lebih berhati2, dengan tanpa suara mendengarkan beberapa saat. Tidak ada suara datang dari bar itu. Dia kemudian memacu langkahnya ke arah bar.
Ketika sudah dekat dengan bar, dia menemukan kalau bar ini sangat tenang diluar perkiraannya. Selain suara kuda, semuanya tampak tenang.
Ketika Li Xun Huan melangkah memasuki pintu, terdengar suara dari lantai. Dia dengan segera mundur. Tapi tetap saja tidak ada suara.
Li Xun Huan bersembunyi di belakang, dan berpikir,� Mungkin mereka tidak disini.�
Tapi kemudian dia melihat macan emas melihat kearahnya, tapi tidak ada pergerakan darinya seperti patung.
Li Xun Huan menghela napas.� Aku seharusnya telah memikirkannya!�
Dia hanya menyebutkan beberapa kata itu sebelum menutup mulutnya, karena dia menyadari kalau macan emas tidak akan pernah mendengarkan yang lain.
Xiao Li Fei Dao 1. Pisau Terbang Lawan Pedang Kilat
Dinginnya angin menusuk bagaikan pisau, menggunakan tanah sebagai telenan dan orang-orang sebagai daging.
Hamparan salju terhampar sejauh ratusan li, membuat semuanya terlihat terang seperti perak putih yang mengkilau.
Di tengah dinginnya musim salju, sebuah kereta kuda bergerak dari arah utara. Roda kereta tersebut memecahkan salju di tengah, tetapi tidak memecahkan kesunyian dunia.
Li Xun Huang menguap, mencoba untuk meregangkan kakinya. Ruangan dalam keretanya mungkin cukup nyaman, tetapi perjalanannya terlalu jauh, dan terlalu sepi. Dia tidak hanya merasa kecapaian, tetapi juga perasaannya terluka. Dia merasa bahwa kesepian adalah hal yang paling mengganggu di dalam hidupnya. Tetapi justru kesepianlah yang kerap menghinggapinya.
Hidup seseorang memang biasanya penuh dengan kontradiksi. Tidak ada seseorangpun yang bisa melakukan apa-apa dengan hal ini.
Li Xun Huan menghembuskan nafas panjang dan mulai mengambil botol arak. Ketika dia mulai meminum arak itu, dia mulai terbatuk-batuk. Batuknya yang terus menerus membuat wajahnya yang pucat terlihat sangat sakit, seakan-akan api dari neraka sedang membakar tubuh dan jiwanya.
Botol telah kosong dan dia mulai mengambil sebuah pisau dan mulai mengukir sebuah patung manusia. Pisaunya terlihat tipis dan tajam, tangannya panjang dan kuat.
Patung yang dibuat itu adalah figure seorang wanita, sangat cantik dan hangat karena dibuat oleh tangan yang terampil yang membuat patung tersebut sangat hidup.
Dia tidak hanya memberi patung itu wajah yang mengesankan, tetapi juga memberikan patung itu jiwa dan kehidupan, hanya karena hidupnya telah lenyap di ujung pisau.
Dia tidak lagi muda.
Keriput terlihat di ujung matanya, setiap kerutan dipenuhi dengan semua kebahagiaan dan kesedihan di hidupnya. Hanya matanya yang terlihat muda.
Sepasang mata yang aneh, bersemu kehijauan, seperti angin musim semi yang meniup daun pohon willow, hangat dan fleksibel. Atau seperti air laut di bawah sinar matahari, dipenuhi oleh energi.
Mungkin hanya karena mata inilah yang membuatnya masih hidup sampai sekarang.
Patung kayu itu akhirnya selesai. Dia melihatnya dengan pikiran kosong ke arah patung itu, entah sampai berapa lama, kemudian dia mendorong pintu kereta sampai terbuka dan melompat ke luar.
Dengan segera pengendara kereta itu menghentikan kudanya.
Pengendara kereta itu memiliki mata yang tajam laksana elang, tapi saat mata itu menatap Li Xun Huan, mata itu berubah menjadi hangat, penuh dengan kesetiaan dan simpati. Seperti seekor binatang yang memandang ke arah majikannya.
Li Xun Huan menggali sebuah lubang di tanah, menguburkan patung yang baru dibuatnya itu. Kemudian dengan pandangan kosong dia menatap gundukan tanah dimana dia menguburkan patung itu.
Jari tangannya mulai membeku, wajahnya memerah karena dingin dan salju menutupi seluruh tubuhnya. Tetapi dia tidak merasa kedinginan. Benda yang terkubur di salju itu adalah sesuatu yang paling penting di dalam hidupnya. Saat dia menguburkannya, hidupnya menjadi diliputi oleh kekosongan.
Oran gyang melihat kejadian itu akan menganggap kejadian itu cukup aneh, tetapi pengemudi kereta itu telah terbiasa dengan kejadian itu. Dia hanya berkata, �Sudah hamper gelap. Kita masih harus menempuh jalan yang panjang di depan. Mohon anda kembali ke dalam kereta, Tuan Muda.�
Li Xun Huan menoleh, menemukan ada jejak kaki di samping keretanya, berasal dari utara.
Jejak kaki itu cukup dalam, menunjukkan bahwa orang ini telah berjalan jauh, sangat lelah tetapi tetap tidak mau beristirahat.
very sorrowful person.
Li Xun Huan menghela nafas panjang dan berkata,�Aku tak percaya bahwa ada orang yang mau bepergian di tempat seperti ini di dalam cuaca yang seperti ini. Aku rasa dia pasti adalah orang sangat kesepian dan sangat menderita.
Pengemudi kereta yang mendengar hal itu tidak mengatakan apa-apa, hanya mendesah. Dia berkata dalam hati, �Bukankah kau sendiri adalah orang yang kesepian dan menderita? Kenapa kau hanya simpati kepada orang lain, tetapi melupakan dirimu sendiri?�
Masih ada banyak kayu pinus di bawah kursi kereta, jadi Li Xun Huan mulai memahat lagi. Teknik memahatnya semakin terasah dengan banyaknya latihan, karena yang dia pahat selamanya adalah figure satu orang.
Orang tidak hanya memenuhi isi hatinya, tetapi juga seluruh tubuhnya.
Badai salju akhirnya reda, tetapi udara semakin dingin menusuk, kesepian semakin menebal. Suara angin membawa suara langkah kaki seseorang.
Walaupun suara ini lebih pelan dari pada suara kuda-kuda, itu adalah suara yang diharapkan Li Xun Huan utk didengarnya. Jadi bagaimanapun pelannya, suara itu tdk bisa lepas dr telinga Li Xun Huan.
Saat ia menarik gorden keretanya, dia melihat bayangan orang yang kesepian itu berjalan di depannya.
Orang itu berjalan lambat, tetapi ia tidak berhenti. Walaupun dia mendengar suara kuda, dia tidak menoleh. Dia tidak memakai payung atau topi. Salju yang meleleh menetes dari wajahnya ke lehernya. Dia hanya memakai sebuah pakaian yang tipis.
Walaupun demikian tetapi dia tetap menegakkan kepalanya, seakan dia terbuat dari baja. Salju, udara dingin, kecapaian, kelelahan, dan kelaparan tidak bisa menaklukkannya.
Tak seorangpun dapat menaklukkannya.
Hanya karena keretanya melewati orang itu Li Xun Huan melihat wajah orang itu.
Alisnya tebal, atanya sangat besar, segaris bibir tipis yang tertutup rapat, hidung yang lurus yang membuat wajahnya menjadi semakin terlihat kurus.
Wajah itu mengingatkan seseorang akan batu di pot bunga, kuat, kokoh, dingin, seakan-akan tidak peduli pada apapun termasuk dirinya sendiri.
Walaupun demikian wajah itu adalah wajah yang paling tampan yang pernah dilihat Li Xun Huan sepanjang hidupnya, walau wajah itu sedikit terlalu muda, sedikit tidak dewasa, tetapi wajah itu telah memiliki daya tarik tersendiri.
Seakan-akan mata Li XunHuan tersenyum. Dia membuka pintu kereta dan berkata,�Masuklah ke dalam kereta. Aku akan membawamu menuju tempat tujuanmu yang berikutnya.�
Kata-katanya selalu pendek dan sederhana, dipenuhi oleh energi, yang mana di hamparan salju seperti itu, tak seorang pun akan menolak tawaran itu.
Siapa yang mengira bahwa pemuda itu bahkan tidak memandang ke arahnya, langkah kakinya pun bahkan tidak melambat, seakan-akan dia tidak mendengar apapun.
�Apakah kamu tuli?� Tanya Li Xun Huan.
Sekonyong-konyong tangan pemuda itu meraih pedang dari pinggangnya. Walaupun tangannya sudah membeku, gerakannya masih cepat dan mantap.
Li Xun Huang tertawa dan berkata, �Aku rasa kau tidak tuli sama sekali. Masuklah dan minum bersamaku. Seteguk arak tidak akan melukai siapapun!�
�Aku tidak mampu membayarnya!� kata pemuda itu dengan cepat.
Dia sebenarnya bisa mengatakan sesuatu seperti ini. Bahkan kerutan di ujung mata Li Xun Huan seakan tersenyum mendengar ucapan itu, tetapi dia tidak tertawa. Sebaliknya dia berkata, �Aku mengundangmu untuk minum arak, bukan menjual arak kepadamu!�
Pemuda itu menjawab kembali, �Jika itu bukan sesuatu yang kubeli dengan uangku sendiri, aku tidak akan mau menerimanya. Jika arak itu bukanlah arak yang kubeli dengan uangku sendiri, aku tidak akan meminumnya. Sudah puas dengan jawabanku?!�
Li Xun Huan berkata, �Cukup puas.�
�Bagus, kalau begitu pergilah kamu!� kata pemuda itu lagi.
Li Xun Huan berpikir sejenak, dan tiba-tiba berkata sambil tersenyum, �Baiklah. Aku akan membiarkanmu pergi. Tapi kalau kamu mempunyai uang untuk membeli arak, maukah kamu mengundangku untuk minum?�
Pemuda itu menatap Li Xun Huan sejenak, dan kemudian berkata, �Baiklah, aku akan mengundangmu.�
Lui Xun Huang tertawa saat kereta kudanya dilarikan dengan cepat sampai ia tidak bisa melihat pemuda itu lagi. Li Xun Huan tertawa dan bertanya, �Apakah kamu pernah melihat remaja aneh seperti itu sebelumnya? Aku rasa ia orang yang bijak, tapi perkatannya sangat polos, begitu jujur.
�Dia hanyalah seorang anak yang berkemauan keras. Itu saja,� jawab pengemudi kereta itu.
Li Xun Huan bertanya, �Apakah kamu melihat pedang di pinggangnya?�
Sebuah senyum tersirat di muka pengemudi kereta itu. �Apakah benda itu masih bisa disebut sebuah pedang?�
Itu adalah sebuah jawaban yang sangat tepat, bahwa apa yang disebut dengan �pedang� oleh Li Xun Huan hanyalah sebuah batang logam sepanjang satu meter. Logam itu bahkan tidak memiliki bagian yang tajam, tidak ada penutup pedang, hanya dua potong kayu yang dipaku di sebuah logam, yang seolah-olah menjadi sebuah gagang.
Pengemudi kereta itu melanjutkan sambil tersenyum, �Aku melihat itu hanya sebagai mainan anak-anak.�
Kali ini Li Xun Huan tidak hanya tidak tersenyum, tetapi ia bahkan mendesah dan berkata, �Pandanganku mengatakan bahwa mainan itu sangat berbahaya. Paling baik tidak bermain-main dengannya.�
Hotel di kota kecil itu tidaklah besar, tetapi penuh dengan orang yang terperangkap badai salju, membuat tempat itu sangat penuh sesak.
Di halaman terdapat banyak kereta kosong dari biro ekspedisi. Di bagian timur terdapat sebuah bendera dari tim ekspedisi, berkibar-kibar tertiup angin kencang. Membuat orang tidak bisa melihat dengan jelas apakah bendera itu bergambar harimau atau singa.
Di restoran kecil di dalam hotel itu, seorang pria berbadan besar dengan mantel bulu biri-biri terus menerus mondar-mandir keluar masuk. Sesekali setelah minum, dia akan membuka mantelnya, menunjukkan bahwa dia tidak takut pada udara dingin.
Saat Li Xun Huan tiba, tidak ada lagi meja kosong di restoran itu. Tapi dia tidak menjadi bingung karena dia tahu bahwa tidak banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang. Dia mendapatkan meja di sudut restoran, meminta arak, dan mulai minum dengan pelan.
Dia tidak minum dengan cepat, tetapi dia bisa minum berhari-hari siang malam tanpa berhenti. Dia terus menerus minum, terus menerus batuk, dan hari telah menjadi gelap.
Pengemudi keretanya masuk, berdiri di belakangnya dan berkata, �Kamar di bagian selatan sudah kosong dan dibersihkan. Tuan Muda bisa beristirahat kapan saja sekarang.�
Li Xun Huan hanya mengangguk. Setelah beberapa saat, pengemudi itu menambahkan, �Biro Ekspedisi Singa Emas juga mempunyai orang-orang di sini, kemungkinan mereka mengawal barang dari perbatasan.�
Li Xun Huan bertanya, �Benarkah? Siapa yang menjadi pengawal utama?�
Pengemudi itu menjawab, �Si Pedang Angin Kilat, Zhu Ge Lei.�
Li Xun Huan mengernyitkan alisnya dan tertawa, �Manusia rendah itu bisa hidup sampai sekarang? Tidak terlalu jelek!�
Walaupun dia terus membicarakan orang yang duduk di belakangnya, matanya menatap ke depan pintu seolah-olah menanti seseorang.
Pengemudi kereta berkata, �Anak itu tidak berjalan dengan cepat. Kemungkinan anda harus menunggu sampai tengah malam sebelum dia tiba!�
Li Xun Huan tertawa, �Aku rasa dia tidak berjalan perlahan, tapi dia mau menyimpan energi. Pernahkan engkau melihat seekor serigala di sekitar hamparan salju? Jika tidak ada mangsa di depan, dan tidak ada musuh di belakang, pastilah dia tidak akan berjalan dengan cepat. Karena ia merasa ia menghamburkan banyak energi di jalan adalah sia-sia.
�Tapi anak itu bukan seekor serigala,� kata pengemudi itu tertawa.
Li Xun Huan tidak meneruskan perkataannya, karena saat itu dia mulai batuk-batuk lagi.
Kemudian, dia melihat tiga orang masuk dari pintu belakang. Semuanya bercakap-cakap dengan suara keras tentang kejadian-kejadian yang terjadi di dunia persilatan, seolah-olah mereka khawatir kalau orang lain tidak tahu bahwa mereka adalah orang penting di Biro Expedisi Singa Emas.
Li Xun Huan mengenali orang yang berwajah merah dan berbadan gendut itu sebagai �Pedang Angin Kilat�, tetapi sepertinya tidak menginginkan orang itu mengenalinya. Maka ia menundukkan kepalanya untuk mengukir patung kayu.
Beruntung bahwa Zhu Ge Lei tidak pernah memperhatikan orang-orang di kota kecil itu. Dengan cepat mereka memesan makanan, arak dan mulai makan.
Sayangnya, makanan dan arak tidak membuat mulut mereka bungkam. Setelah beberapa teguk arak, Zhu Ge Lei menjadi semakin sombong. Ia tertawa keras-keras dan berkata, �Nomer dua, apakah kau ingat saat kita berada di kaki gunung Tai Xing ketika kita bertemu Empat Macan dari Tai Xing?�
Orang kedua tersenyum, �Bagaimana aku bisa lupa? Waktu itu Empat Macan dari Tai Xing cukup berani menjarah barang yang kita kawal, bahkan berkata � kalau kau Zhu Ge Lei, merangkaklah di tanah maka kami akan melepaskan kalian. Sebaliknya jika tidak, tinggalkan barang-barang kalian dan juga kepala kalian!�
Orang ketiga tertawa keras-keras dan menukas, �Siapa yang menyangka kalau saat pedang mereka belum sempat menyambar, Kakak Tertua telah memotong kepala mereka!�
Orang kedua berkata, �Dia tidak mencoba membual. Bicara soal kekuatan pukulan, yang paling lihai jelas adalah Kepala Biro kita, �Telapak Singa Emas�. Tapi bicara soal kemampuan pedang, jelas tidak ada yang bisa menandingi kakak tertua kita disini.
Zhu Ge Lei tertawa dan menaikkan cawannya. Tapi tiba-tiba tawanya terhenti saat tiba-tiba dua buntelan di sebelahnya diterbangkan angin.
Dua bayangan manusia muncul.
Kedua orang itu mengenakan mantel tanpa lengan dengan warna merah menyolok dengan topeng yang ganjil bagi orang yang melihatnya di daerah perbatasan. Kedua orang itu seolah-olah memiliki kesamaan fisik, dan tinggi yang sama.
Orang banyak di ruangan itu mungkin tidak melihat wajah mereka, tapi demi melihat ilmu meringankan tubuh dan penampilan kedua orang itu, mereka semua tanpa sengaja mulai menatap kedua orang itu.
Hanya mata Li Xun Huan yang masih menatap kearah pintu, karena saat angin meniup pintu, dia melihat pemuda yang dilihatnya sebelumnya.
Pemuda itu hanya berdiri di depan pintu, dan kelihatannya dia berdiri di tempat itu untuk waktu yang lama, seperti seekor binatang liar. Walaupun dia merindukan kehangatan di dalam hotel itu dan tidak mau meninggalkannya, dia takut untuk memasuki dunia manusia.
Li Xun Huan mendesah pelan dan mengalihkan perhatiannya kepada dua orang tadi. Kini dia melihat bahwa dua orang itu telah menanggalkan topeng mereka, menampakkan dua wajah yang buruk rupa.
Telinga mereka kecil, tetapi hidungnya besar, memenuhi sepertu dari wajah, membuat mata dan telinga menjadi janggal.
Tapi mata memancarkan hawa jahat, mata mereka bagaikan ular derik.
Kemudian mereka mulai menanggalkan mantel mereka, sehingga terlihat baju mereka yang bewarna hitam. Seolah-olah badan mereka juga seperti seekor ular yang kurus dan panjang, dan siap memagut kapan saja. Membuat semua orang gentar, tapi juga muak.
Kedua orang itu terlihat sangat mirip, kecuali bahwa yang satu berwajah lebih putih dan yang satu lebih hitam. Gerakan mereka lambat saat mereka membuka mantel dan melipatnya, dan dengan perlahan mereka menuju kea rah kasir. Lalu mereka berjalan di depan Zhu Ge Lei.
Suasana menjadi sangat sunyi di restoran itu sehingga orang bisa mendengar suara Li Xun Huan yang sedang memahat patung.
Zhu Ge Lei berpura-pura tidak melihat kedua orang itu, tetapi ia gagal.
Kedua orang itu juga memandang kearahnya, mata mereka bagaikan kuas cat minyak yang menyapu Zhu Ge Lei dari atas ke bawah.
Zhu Ge Lei berdiri dan bertanya, �Bolehkan aku tahu siapa nama kedua Tuan? Maafkan saya karena tidak mengenali!�
Orang yang berwajah putih kemudian berkata, �Jadi kamu si Pedang Angin Kilat, Zhu Ge Lei?�
Suaranya tajam, dan berkesan menggema, bagaikan suara ular derik. Zhu Ge Lei menjadi ketakutan dan terpaku mendengar suara itu. �I�ya!� katanya.
Pria yang berwajah hitam tertawa dingin. �Apa pantas kamu disebut �Pedang Angin Kilat?�
Tangannya tiba-tiba mengebaskan sebuah pedang hitam yang tipis dan panjang. Saat pedang itu diarahkan ke Zhu Ge Lei, dia berkata, �Tinggalkan barang yang kamu kawal dan aku akan mengampuni hidupmu!�
Orang kedua yang sedang duduk kemudian berdiri dan berkata sambil tersenyum, �Tuan berdua pasti telah membuat kesalahan. Pada perjalanan ini, kami mengawal barang ke luar perbatasan, tidak membawanya masuk. Sekarang barang kawalan kami telah kosong.
Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, pedang di tangan pria berwajah hitam telah menusuk lehernya. Dengan sedikit sentilah, kepala itu telah terpisah dengan lehernya. Semua orang terkejut. Kaki mereka bergetar di bawah meja.
Bagaimanapun juga Zhu Ge Lei bisa hidup sampai sekarang, jelas bahwa ia mempunyai kemampuan yang lumayan. Dia mengambil sebuah buntalah dari bawah tangannya dan meletakkannya di bawah meja.
�Informasimu sangat tepat. Kita memang membawa sesuatu dari perbatasan. Tapi kalian berdua, sayangnya belum cukup mempunyai kemampuan untuk mengambilnya.
Pria berwajah hitam tertawa. �Apa maumu?�
Zhu Ge Lei menjawab, �Kalian berdua paling tidak harus bertarung beberapa jurus ilmu silat disini, sehingga aku memiliki alasan saat aku kembali.�
Walaupun berbicara begitu, kakinya mundur tujuh langkah ke belakang. Tak seorang pun menyangka kalau ia menyentil meja di sebelahnya. Makanan bakso udang di meja berhampuran ke udara.
Hanya setelah terdengar desiran pedang dan cahaya dari kelebatan pedang, sepuluh bakso udang telah terpotong semuanya menjadi dua bagian.
Zhu Ge Lei berkata, �Jika kamu bisa mengerjakan hal yang sama, aku akan menyerahkan bungkusan ini. Kalau tidak, silahkan pergi dari sini!�
Ilmu pedang itu cukup lumayan, perkataannya juga cukup bagus. Li Xun Huan tertawa tanpa suara mendengarnya. Dengan berkata seperti itu, lawan Zhu Ge Lei hanya bisa memotong bakso udang. Jadi menang atau kalah, Zhu Ge Lei tetap akan hidup.
Pria berwajah hotam tertawa. �Itu hanyalah bisa dianggap sebagai ketrampilan tukang masak. Apakah kamu pikir itu adalah kemampuan silat?�
Saat dia mengatakan itu, dia mengambil napas dalam-dalam, membuat potongan-potongan baksi udang terpental naik. Dan kemudian dengan sebuah gerakan cepat, bakso udang itu kemudian lenyap, semuanya tertusuk di pedangnya. Bahkan orang yang tidak mengenal ilmu silat pun tahu bahwa memotong bakso udang tidaklah gampang, tapi untuk menangkap bakso udang itu di pedang adalah lebih sukar.
Wajah Zhu Ge Lei menjadi pucat, karena dia melihat ilmu pedang itu, dan kemudian mundur beberapa langkah ke belakang. Ia berkata, �Aku rasa, tuan berdua adalah �Ular Kembar Bernoda Darah�. �
Orang ke tiga yang sedang duduk di meja yang mendengar kata-kata itu, menjadi jerih, dan diam-diam mencoba untuk merangkak pergi.
Bahkan pengemudi kereta Li Xun Huang mengernyitkan alisnya, karena ia tahu beberapa tahun belakangan ini, perompak-perompak di daerah Sungai Kuning hanya sedikit yang bisa menandingi kedua orang ini dalam hal ilmu dan kekejamannya. Bahkan berita angin mengatakan bahwa warna mantel mereka yang bewarna merah itu adalah berasal dari darah korban mereka.
Tapi dia belum banyak tahu, bahwa 9 dari 10 orang yang pernah bertemu dengan kedua orang itu selalu kehilangan kepala mereka.
Si Ular Hitam tertawa berkata, �Ternyata kau bisa mengenali kami?
Setidaknya matamu tidak buta.�
Zhu Ge Lei menggertakkan giginya dan berkata, �Karena kalian berdua menginginkan barang ini, aku rasa aku tidak bisa berbuat apapun untuk melarang kalian. Ambillah dan pergi!�
Si Ular Putih tiba-tiba berkata, �Jika kamu mau merangkak di lantai, kami akan membiarkannmu hidup. Sebaliknya jika tidak, tidak hanya kalian harus meninggalkan bungkusan itu, tetapi juga kepala kalian!�
Itu adalah kata-kata Zhu Ge Lei saat ia membual sebelumnya. Saat kata-kata itu keluar dari mulut pria berwajah putih itu, setiap kata-kata bagaikan pisau yang menyayat-nyayat.
Pada saat itu Li Xun Huan mengeluarkan desahan dalam berkata pada dirinya sendiri, �Aku lihat kepribadian orang ini telah berubah, tidak heran dia bisa hidup sampai saat ini.�
Walaupun dia berkata sangat pelan, kedua Ular Kembar masih bisa mendengar perkataannya dan mereka menoleh kearah sumber suara tersebut.
Sebaliknya Li Xun Huan sepertinya tidak merasakan hal itu, ia tetap berkonsentrasi dengan patung manusianya.
Ular Putih tertawa, �Sepertinya ada ahli ilmu silat disini, yang aku dan saudaraku tidak melihatnya.�
Ular Hitam berkata, �Barang ini diberikan kepada kami dengan sukarela. Jika ada seseorang yang pedangnya lebih cepat dari kami, maka kami pun rela memberikan barang ini kepadanya!�
Si Ular Putih mengebaskan tangannya, dan sebuah pedang bewarna putih muncul, dan berkata, �Jika ada seseorang yang pedangnya lebih cepat dari pada kami, tidak hanya kami akan menyerahkan bungkusan ini, tetapi juga kepala kami!�
Mata mereka tertuju kepada Li Xun Huan saat mereka berbicara. Tapi Li Xun Huan tetap berkonsentrasi kepada ukiran patungnya seolah-olah ia tidak mendengar apa-apa.
Tiba-tiba seseorang di luar berteriak, �Berapa nilainya kepalamu?�
Saat mendengar perkataan itu, Li Xun Huan tiba-tiba terhenyak, tapi juga merasa gembira. Dia mengangkat kepalanya, dan dilihatnya seorang muda berjalan ke dalam ruangan.
Pakaiannya belum sepenuhnya kering. Bahkan sebagian dari pakaiannya telah membeku menjadi es, tapi ia tetap berdiri tegak bagaikan sebuah tombak.
Matanya terlihat sombong, tapi kesepian. Matanya mengandung sinar liar yang tidak bisa dijinakkan, seolah-olah ia bisa bertarung kapan saja membuat semua orang susah untuk mendekatinya.
Tapi perhatian semua orang tertuju kepada pedang yang ada di pinggangnya. Saat si Ular Putih melihat pedang itu, ia tertawa. �Apakah kata-kata barusan keluar dari mulutmu?�
Pemuda itu menjawab, �Ya!�
Ular Putih berkata, �Kamu mau membeli kepalaku?�
Pemuda itu menjawab, �Aku hanya mau tahu berapa harganya, karena aku mau menjualnya kepadamu!�
Ular Putih menjawab keheranan, �Menjual kepadaku kepalaku sendiri?�
Pemuda itu berkata, �Tepat, karena tidak hanya aku tidak menginginkan bungkusan itu, tetapi aku juga tidak menginginkan kepalamu. �
Ular Putih berkata lagi, �Jadi kau hanya ingin menantangku duel?�
�Ya.�
Ular Putih melihat kearah pemuda itu dan melihat kearah pedangnya, dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia tidak pernah melihat hal yang selucu itu di dalam hidupnya.
Pemudia itu hanya berdiri dengan diam, sepertinya ia tidak mengerti apa yang perlu ditertawakan. Dia merasa bahwa perkataannya barusan tidak lucu sehingga patut ditertawakan.
Pengemudi kereta mendesah, seolah-olah menganggap bahwa anak itu pasti sudah tidak waras. Zhu Ge Lei juga berpikir bahwa otak pemuda itu pasti sudah tidak beres.
Ular Putih kemudian berkata, �Seribu tael emas rasanya tidak cukup untuk membeli kepalaku.�
Pemuda itu menjawab, �Seribu tael emas terlalu berlebihan. Aku hanya perlu 50 tael.�
Ular Putih berhenti tertawa, karena ia menganggap pemuda itu pasti gila dan tidak bercanda.
Dia kemudian melihat pedang pemuda itu lagi dan tertawa tanpa bisa mengontrolnya.
�Baik. Bila kau bisa melakukan hal seperti yang kulakukan, aku akan memberimu 50 tael.�
Dalam keadaan tertawa dia tiba-tiba menyambar lilin yang ada di meja kasir. Tidak terjadi apa-apa pada lilin itu. Semuanya terkejut, terheran-heran melihat apa yang telah terjadi. Saat itulah si Ular Putih meniup lilin itu dan mereka bisa melihat bahwa lilin itu telah terpotong-potong menjadi 7 bagian. Pedangnya bergerak-gerak lagi. Ketujuh potong lilin itu kemudian tertangkap di pedangnya, dan yang mengherankan, api di lilin itu tidak padam.
Ular Putih berkata dengan sombong, �Apakah kau pikir pedangku cukup cepat?�
Pemuda itu dengan wajah tanpa emosi menjawab, �Sangat cepat.�
Ular Putih tertawa, �Bagaimana dengan kemampuan pedangmu?�
Pemuda itu menjawab, �Pedangku bukan untuk memotong lilin.�
�Lalu untuk apa itu lembaran logam itu?�
Pemuda itu menyentuh pedangnya dan berkata, �Pedangku adalah untuk membunuh orang.�
Ular Putih tersenyum. �Membunuh orang? Siapa yang akan kau bunuh?�
Pemuda itu menjawab, �KAMU!�
Pada saat kata-kata itu keluar dari mulut pemuda itu, pemuda itu menyabetkan pedangnya. Pedang itu semulanya berada di pinggang pemuda itu, semua orang melihatnya. Tapi dalam waktu sekejab pedang itu telah menancap di tenggorokan Ular Putih. Semua orang kini melihat bahwa pedang sepanjang semester itu telah menembus tenggorokan Ular Putih.
Tak ada seorang pun melihat bagaimana pedang itu menancap ke tenggorokan Ular Putih.
Tidak ada darah yang mengalir, karena darah belum keluar.
Pemuda itu menatap kearah Ular Putih, �Jadi, pedangmu atau pedangku yang lebih cepat?�
Ular Putih mengeluarkan suara �krok krok� dari tenggorokannya. Otot-otot mukanya tergetar. Tiba-tiba mulutnya terbuka, lidahnya keluar.
Darah keluar dari mulutnya.
Ular Hitam mengangkat pedangnya, tetapi tidak berani membalas. Keringat membasahi kepalanya. Tangannya bergetar.
Demi dilihatnya pemuda itu tiba-tiba mengeluarkan pedangnya, dan darah yang keluar dari tenggorokan Ular Putih. Ular Putih berteriak keras, �Kau!�
Kemudian dia jatuh ke lantai.
Pemuda itu menoleh kearah Ular Hitam dan berkata, �Dia telah kalah. Mana 50 tael ku?�
Dia masih serius. Serius seperti seorang anak yang tidak bersalah.
Tapi kali ini tidak ada orang yang berani menertawakan dia lagi.
Dengan gemetar Ular Hitam berkata, �Jadi kamu benar-benar membunuh dia untuk 50 tael perak?�
�Benar!�
Ular Hitam tidak tahu harus tertawa atau menangis. Dia kemudian menjambak rambutnya sendiri, mengoyakkan pakaiannya sampai uang di dalamnya berhamburan. Dia kemudian melempar perak-perak itu kearah pemuda itu.
�Ambillah. Ambillah semuanya.�
Kemudian dia lari keluar dari restoran itu seperti orang gila.
Tidak hanya pemuda itu tidak mengikutinya, dia juga tidak marah. Dengan polos ia membungkuk mengambil perak-perak itu dan membawanya kea rah manager hotel dan bertanya, �Apakah ini benar 50 tael?�
Manager hotel itu sudah menyusup di kolong meja. Tidak bisa berkata-kata dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Saat itulah Li Xun Huan menoleh kearah pengemudi keretanya sambil tertawa. �Aku benar, bukan?�
Pengemudi itu hanya mendesah. �Anda sangat benar. Mainan itu sungguh berbahaya.�
Dia melihat pemuda itu berjalan kearah mereka, tapi tidak melihat Zhu Ge Lei. Zhu Ge Lei tidak pernah meninggalkan kolong mejanya.
Saat itulah dia keluar dan tiba-tiba menyerang pemuda itu dari belakang.
Ilmu pedangnya tidak lambat. Pemuda itu juga tidak menyangka kalau Zhu Ge Lei akan berusaha untuk membunuhnya. Dia baru saja membunuh Ular Putih. Seharusnya Zhu Ge Lei berterimakasih kepadanya. Kenapa justru mau membunuhnya?
Saat semua orang mengira pedang Zhu Ge Lei akan menembus jantung pemuda itu, Zhu Ge Lei tiba-tiba mengeluarkan teriakan keras. Pedangnya terpental dari tangannya, tertancap di langit-langit.
Saat pedangnya masih bergoyang-goyang di langit-langit, tangan Zhu Ge Lei sudah memegangi tenggorokannya. Matanya terarah kearah Li Xun Huan, bola matanya melotot hampir keluar.
Li Xun Huan saat itu sudah tidak lagi memahat. Karena pisaunya yang dipakai untuk memahat sudah tidak ada di tangannya.
Darah menetes dari punggung Zhu Ge Lei.
Dia melotot kea rah Li Xun Huan. Tenggorokannya juga mengeluarkan suara �krok krok�. Saat itulah orang baru sadar bahwa pisau Li Xun Huan yang tertancap di tenggorokan Zhu Ge Lei.
Walaupun demikian, tidak seorang pun tahu bagaimana pisau itu bisa berpindah tempat dengan cepat.
Keringat menetes dari dahi Zhu Ge Lei, wajahnya penuh kesakitan. Kemudian dia menggertakkan gigi, dan menarik pisau itu keluar dari tenggorokannya. Dia menatap Li Xun Huan dan berteriak, �Semestinya dari tadi aku mengenalimu!�
Li Xun Huan mendesah. �Tapi sayang, kamu baru mengetahuinya sekarang, sehingga tadi kau tidak perlu melakukan hal yang memalukan seperti itu!�
Zhu Ge Lei tidak mendengar kata-kata terakhir itu. Dia sudah tidak bisa lagi mendengar untuk selamanya.
Pemuda itu menoleh untuk melihat, wajahnya kelihatan penasaran, seolah-olah dia tidak mengerti kenapa kenapa orang ini hendak membunuhnya.
Tapi dia hanya melihat sejenak, kemudian dia berjalan kearah Li Xun Huan. Di luar dari kesan liar dan biadab, wajahnya menyiratkan kehangatan dan senyuman.
Dia hanya berkata sepatah kata. �Aku mengundangmu untuk minum.�
Hamparan salju terhampar sejauh ratusan li, membuat semuanya terlihat terang seperti perak putih yang mengkilau.
Di tengah dinginnya musim salju, sebuah kereta kuda bergerak dari arah utara. Roda kereta tersebut memecahkan salju di tengah, tetapi tidak memecahkan kesunyian dunia.
Li Xun Huang menguap, mencoba untuk meregangkan kakinya. Ruangan dalam keretanya mungkin cukup nyaman, tetapi perjalanannya terlalu jauh, dan terlalu sepi. Dia tidak hanya merasa kecapaian, tetapi juga perasaannya terluka. Dia merasa bahwa kesepian adalah hal yang paling mengganggu di dalam hidupnya. Tetapi justru kesepianlah yang kerap menghinggapinya.
Hidup seseorang memang biasanya penuh dengan kontradiksi. Tidak ada seseorangpun yang bisa melakukan apa-apa dengan hal ini.
Li Xun Huan menghembuskan nafas panjang dan mulai mengambil botol arak. Ketika dia mulai meminum arak itu, dia mulai terbatuk-batuk. Batuknya yang terus menerus membuat wajahnya yang pucat terlihat sangat sakit, seakan-akan api dari neraka sedang membakar tubuh dan jiwanya.
Botol telah kosong dan dia mulai mengambil sebuah pisau dan mulai mengukir sebuah patung manusia. Pisaunya terlihat tipis dan tajam, tangannya panjang dan kuat.
Patung yang dibuat itu adalah figure seorang wanita, sangat cantik dan hangat karena dibuat oleh tangan yang terampil yang membuat patung tersebut sangat hidup.
Dia tidak hanya memberi patung itu wajah yang mengesankan, tetapi juga memberikan patung itu jiwa dan kehidupan, hanya karena hidupnya telah lenyap di ujung pisau.
Dia tidak lagi muda.
Keriput terlihat di ujung matanya, setiap kerutan dipenuhi dengan semua kebahagiaan dan kesedihan di hidupnya. Hanya matanya yang terlihat muda.
Sepasang mata yang aneh, bersemu kehijauan, seperti angin musim semi yang meniup daun pohon willow, hangat dan fleksibel. Atau seperti air laut di bawah sinar matahari, dipenuhi oleh energi.
Mungkin hanya karena mata inilah yang membuatnya masih hidup sampai sekarang.
Patung kayu itu akhirnya selesai. Dia melihatnya dengan pikiran kosong ke arah patung itu, entah sampai berapa lama, kemudian dia mendorong pintu kereta sampai terbuka dan melompat ke luar.
Dengan segera pengendara kereta itu menghentikan kudanya.
Pengendara kereta itu memiliki mata yang tajam laksana elang, tapi saat mata itu menatap Li Xun Huan, mata itu berubah menjadi hangat, penuh dengan kesetiaan dan simpati. Seperti seekor binatang yang memandang ke arah majikannya.
Li Xun Huan menggali sebuah lubang di tanah, menguburkan patung yang baru dibuatnya itu. Kemudian dengan pandangan kosong dia menatap gundukan tanah dimana dia menguburkan patung itu.
Jari tangannya mulai membeku, wajahnya memerah karena dingin dan salju menutupi seluruh tubuhnya. Tetapi dia tidak merasa kedinginan. Benda yang terkubur di salju itu adalah sesuatu yang paling penting di dalam hidupnya. Saat dia menguburkannya, hidupnya menjadi diliputi oleh kekosongan.
Oran gyang melihat kejadian itu akan menganggap kejadian itu cukup aneh, tetapi pengemudi kereta itu telah terbiasa dengan kejadian itu. Dia hanya berkata, �Sudah hamper gelap. Kita masih harus menempuh jalan yang panjang di depan. Mohon anda kembali ke dalam kereta, Tuan Muda.�
Li Xun Huan menoleh, menemukan ada jejak kaki di samping keretanya, berasal dari utara.
Jejak kaki itu cukup dalam, menunjukkan bahwa orang ini telah berjalan jauh, sangat lelah tetapi tetap tidak mau beristirahat.
very sorrowful person.
Li Xun Huan menghela nafas panjang dan berkata,�Aku tak percaya bahwa ada orang yang mau bepergian di tempat seperti ini di dalam cuaca yang seperti ini. Aku rasa dia pasti adalah orang sangat kesepian dan sangat menderita.
Pengemudi kereta yang mendengar hal itu tidak mengatakan apa-apa, hanya mendesah. Dia berkata dalam hati, �Bukankah kau sendiri adalah orang yang kesepian dan menderita? Kenapa kau hanya simpati kepada orang lain, tetapi melupakan dirimu sendiri?�
Masih ada banyak kayu pinus di bawah kursi kereta, jadi Li Xun Huan mulai memahat lagi. Teknik memahatnya semakin terasah dengan banyaknya latihan, karena yang dia pahat selamanya adalah figure satu orang.
Orang tidak hanya memenuhi isi hatinya, tetapi juga seluruh tubuhnya.
Badai salju akhirnya reda, tetapi udara semakin dingin menusuk, kesepian semakin menebal. Suara angin membawa suara langkah kaki seseorang.
Walaupun suara ini lebih pelan dari pada suara kuda-kuda, itu adalah suara yang diharapkan Li Xun Huan utk didengarnya. Jadi bagaimanapun pelannya, suara itu tdk bisa lepas dr telinga Li Xun Huan.
Saat ia menarik gorden keretanya, dia melihat bayangan orang yang kesepian itu berjalan di depannya.
Orang itu berjalan lambat, tetapi ia tidak berhenti. Walaupun dia mendengar suara kuda, dia tidak menoleh. Dia tidak memakai payung atau topi. Salju yang meleleh menetes dari wajahnya ke lehernya. Dia hanya memakai sebuah pakaian yang tipis.
Walaupun demikian tetapi dia tetap menegakkan kepalanya, seakan dia terbuat dari baja. Salju, udara dingin, kecapaian, kelelahan, dan kelaparan tidak bisa menaklukkannya.
Tak seorangpun dapat menaklukkannya.
Hanya karena keretanya melewati orang itu Li Xun Huan melihat wajah orang itu.
Alisnya tebal, atanya sangat besar, segaris bibir tipis yang tertutup rapat, hidung yang lurus yang membuat wajahnya menjadi semakin terlihat kurus.
Wajah itu mengingatkan seseorang akan batu di pot bunga, kuat, kokoh, dingin, seakan-akan tidak peduli pada apapun termasuk dirinya sendiri.
Walaupun demikian wajah itu adalah wajah yang paling tampan yang pernah dilihat Li Xun Huan sepanjang hidupnya, walau wajah itu sedikit terlalu muda, sedikit tidak dewasa, tetapi wajah itu telah memiliki daya tarik tersendiri.
Seakan-akan mata Li XunHuan tersenyum. Dia membuka pintu kereta dan berkata,�Masuklah ke dalam kereta. Aku akan membawamu menuju tempat tujuanmu yang berikutnya.�
Kata-katanya selalu pendek dan sederhana, dipenuhi oleh energi, yang mana di hamparan salju seperti itu, tak seorang pun akan menolak tawaran itu.
Siapa yang mengira bahwa pemuda itu bahkan tidak memandang ke arahnya, langkah kakinya pun bahkan tidak melambat, seakan-akan dia tidak mendengar apapun.
�Apakah kamu tuli?� Tanya Li Xun Huan.
Sekonyong-konyong tangan pemuda itu meraih pedang dari pinggangnya. Walaupun tangannya sudah membeku, gerakannya masih cepat dan mantap.
Li Xun Huang tertawa dan berkata, �Aku rasa kau tidak tuli sama sekali. Masuklah dan minum bersamaku. Seteguk arak tidak akan melukai siapapun!�
�Aku tidak mampu membayarnya!� kata pemuda itu dengan cepat.
Dia sebenarnya bisa mengatakan sesuatu seperti ini. Bahkan kerutan di ujung mata Li Xun Huan seakan tersenyum mendengar ucapan itu, tetapi dia tidak tertawa. Sebaliknya dia berkata, �Aku mengundangmu untuk minum arak, bukan menjual arak kepadamu!�
Pemuda itu menjawab kembali, �Jika itu bukan sesuatu yang kubeli dengan uangku sendiri, aku tidak akan mau menerimanya. Jika arak itu bukanlah arak yang kubeli dengan uangku sendiri, aku tidak akan meminumnya. Sudah puas dengan jawabanku?!�
Li Xun Huan berkata, �Cukup puas.�
�Bagus, kalau begitu pergilah kamu!� kata pemuda itu lagi.
Li Xun Huan berpikir sejenak, dan tiba-tiba berkata sambil tersenyum, �Baiklah. Aku akan membiarkanmu pergi. Tapi kalau kamu mempunyai uang untuk membeli arak, maukah kamu mengundangku untuk minum?�
Pemuda itu menatap Li Xun Huan sejenak, dan kemudian berkata, �Baiklah, aku akan mengundangmu.�
Lui Xun Huang tertawa saat kereta kudanya dilarikan dengan cepat sampai ia tidak bisa melihat pemuda itu lagi. Li Xun Huan tertawa dan bertanya, �Apakah kamu pernah melihat remaja aneh seperti itu sebelumnya? Aku rasa ia orang yang bijak, tapi perkatannya sangat polos, begitu jujur.
�Dia hanyalah seorang anak yang berkemauan keras. Itu saja,� jawab pengemudi kereta itu.
Li Xun Huan bertanya, �Apakah kamu melihat pedang di pinggangnya?�
Sebuah senyum tersirat di muka pengemudi kereta itu. �Apakah benda itu masih bisa disebut sebuah pedang?�
Itu adalah sebuah jawaban yang sangat tepat, bahwa apa yang disebut dengan �pedang� oleh Li Xun Huan hanyalah sebuah batang logam sepanjang satu meter. Logam itu bahkan tidak memiliki bagian yang tajam, tidak ada penutup pedang, hanya dua potong kayu yang dipaku di sebuah logam, yang seolah-olah menjadi sebuah gagang.
Pengemudi kereta itu melanjutkan sambil tersenyum, �Aku melihat itu hanya sebagai mainan anak-anak.�
Kali ini Li Xun Huan tidak hanya tidak tersenyum, tetapi ia bahkan mendesah dan berkata, �Pandanganku mengatakan bahwa mainan itu sangat berbahaya. Paling baik tidak bermain-main dengannya.�
Hotel di kota kecil itu tidaklah besar, tetapi penuh dengan orang yang terperangkap badai salju, membuat tempat itu sangat penuh sesak.
Di halaman terdapat banyak kereta kosong dari biro ekspedisi. Di bagian timur terdapat sebuah bendera dari tim ekspedisi, berkibar-kibar tertiup angin kencang. Membuat orang tidak bisa melihat dengan jelas apakah bendera itu bergambar harimau atau singa.
Di restoran kecil di dalam hotel itu, seorang pria berbadan besar dengan mantel bulu biri-biri terus menerus mondar-mandir keluar masuk. Sesekali setelah minum, dia akan membuka mantelnya, menunjukkan bahwa dia tidak takut pada udara dingin.
Saat Li Xun Huan tiba, tidak ada lagi meja kosong di restoran itu. Tapi dia tidak menjadi bingung karena dia tahu bahwa tidak banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang. Dia mendapatkan meja di sudut restoran, meminta arak, dan mulai minum dengan pelan.
Dia tidak minum dengan cepat, tetapi dia bisa minum berhari-hari siang malam tanpa berhenti. Dia terus menerus minum, terus menerus batuk, dan hari telah menjadi gelap.
Pengemudi keretanya masuk, berdiri di belakangnya dan berkata, �Kamar di bagian selatan sudah kosong dan dibersihkan. Tuan Muda bisa beristirahat kapan saja sekarang.�
Li Xun Huan hanya mengangguk. Setelah beberapa saat, pengemudi itu menambahkan, �Biro Ekspedisi Singa Emas juga mempunyai orang-orang di sini, kemungkinan mereka mengawal barang dari perbatasan.�
Li Xun Huan bertanya, �Benarkah? Siapa yang menjadi pengawal utama?�
Pengemudi itu menjawab, �Si Pedang Angin Kilat, Zhu Ge Lei.�
Li Xun Huan mengernyitkan alisnya dan tertawa, �Manusia rendah itu bisa hidup sampai sekarang? Tidak terlalu jelek!�
Walaupun dia terus membicarakan orang yang duduk di belakangnya, matanya menatap ke depan pintu seolah-olah menanti seseorang.
Pengemudi kereta berkata, �Anak itu tidak berjalan dengan cepat. Kemungkinan anda harus menunggu sampai tengah malam sebelum dia tiba!�
Li Xun Huan tertawa, �Aku rasa dia tidak berjalan perlahan, tapi dia mau menyimpan energi. Pernahkan engkau melihat seekor serigala di sekitar hamparan salju? Jika tidak ada mangsa di depan, dan tidak ada musuh di belakang, pastilah dia tidak akan berjalan dengan cepat. Karena ia merasa ia menghamburkan banyak energi di jalan adalah sia-sia.
�Tapi anak itu bukan seekor serigala,� kata pengemudi itu tertawa.
Li Xun Huan tidak meneruskan perkataannya, karena saat itu dia mulai batuk-batuk lagi.
Kemudian, dia melihat tiga orang masuk dari pintu belakang. Semuanya bercakap-cakap dengan suara keras tentang kejadian-kejadian yang terjadi di dunia persilatan, seolah-olah mereka khawatir kalau orang lain tidak tahu bahwa mereka adalah orang penting di Biro Expedisi Singa Emas.
Li Xun Huan mengenali orang yang berwajah merah dan berbadan gendut itu sebagai �Pedang Angin Kilat�, tetapi sepertinya tidak menginginkan orang itu mengenalinya. Maka ia menundukkan kepalanya untuk mengukir patung kayu.
Beruntung bahwa Zhu Ge Lei tidak pernah memperhatikan orang-orang di kota kecil itu. Dengan cepat mereka memesan makanan, arak dan mulai makan.
Sayangnya, makanan dan arak tidak membuat mulut mereka bungkam. Setelah beberapa teguk arak, Zhu Ge Lei menjadi semakin sombong. Ia tertawa keras-keras dan berkata, �Nomer dua, apakah kau ingat saat kita berada di kaki gunung Tai Xing ketika kita bertemu Empat Macan dari Tai Xing?�
Orang kedua tersenyum, �Bagaimana aku bisa lupa? Waktu itu Empat Macan dari Tai Xing cukup berani menjarah barang yang kita kawal, bahkan berkata � kalau kau Zhu Ge Lei, merangkaklah di tanah maka kami akan melepaskan kalian. Sebaliknya jika tidak, tinggalkan barang-barang kalian dan juga kepala kalian!�
Orang ketiga tertawa keras-keras dan menukas, �Siapa yang menyangka kalau saat pedang mereka belum sempat menyambar, Kakak Tertua telah memotong kepala mereka!�
Orang kedua berkata, �Dia tidak mencoba membual. Bicara soal kekuatan pukulan, yang paling lihai jelas adalah Kepala Biro kita, �Telapak Singa Emas�. Tapi bicara soal kemampuan pedang, jelas tidak ada yang bisa menandingi kakak tertua kita disini.
Zhu Ge Lei tertawa dan menaikkan cawannya. Tapi tiba-tiba tawanya terhenti saat tiba-tiba dua buntelan di sebelahnya diterbangkan angin.
Dua bayangan manusia muncul.
Kedua orang itu mengenakan mantel tanpa lengan dengan warna merah menyolok dengan topeng yang ganjil bagi orang yang melihatnya di daerah perbatasan. Kedua orang itu seolah-olah memiliki kesamaan fisik, dan tinggi yang sama.
Orang banyak di ruangan itu mungkin tidak melihat wajah mereka, tapi demi melihat ilmu meringankan tubuh dan penampilan kedua orang itu, mereka semua tanpa sengaja mulai menatap kedua orang itu.
Hanya mata Li Xun Huan yang masih menatap kearah pintu, karena saat angin meniup pintu, dia melihat pemuda yang dilihatnya sebelumnya.
Pemuda itu hanya berdiri di depan pintu, dan kelihatannya dia berdiri di tempat itu untuk waktu yang lama, seperti seekor binatang liar. Walaupun dia merindukan kehangatan di dalam hotel itu dan tidak mau meninggalkannya, dia takut untuk memasuki dunia manusia.
Li Xun Huan mendesah pelan dan mengalihkan perhatiannya kepada dua orang tadi. Kini dia melihat bahwa dua orang itu telah menanggalkan topeng mereka, menampakkan dua wajah yang buruk rupa.
Telinga mereka kecil, tetapi hidungnya besar, memenuhi sepertu dari wajah, membuat mata dan telinga menjadi janggal.
Tapi mata memancarkan hawa jahat, mata mereka bagaikan ular derik.
Kemudian mereka mulai menanggalkan mantel mereka, sehingga terlihat baju mereka yang bewarna hitam. Seolah-olah badan mereka juga seperti seekor ular yang kurus dan panjang, dan siap memagut kapan saja. Membuat semua orang gentar, tapi juga muak.
Kedua orang itu terlihat sangat mirip, kecuali bahwa yang satu berwajah lebih putih dan yang satu lebih hitam. Gerakan mereka lambat saat mereka membuka mantel dan melipatnya, dan dengan perlahan mereka menuju kea rah kasir. Lalu mereka berjalan di depan Zhu Ge Lei.
Suasana menjadi sangat sunyi di restoran itu sehingga orang bisa mendengar suara Li Xun Huan yang sedang memahat patung.
Zhu Ge Lei berpura-pura tidak melihat kedua orang itu, tetapi ia gagal.
Kedua orang itu juga memandang kearahnya, mata mereka bagaikan kuas cat minyak yang menyapu Zhu Ge Lei dari atas ke bawah.
Zhu Ge Lei berdiri dan bertanya, �Bolehkan aku tahu siapa nama kedua Tuan? Maafkan saya karena tidak mengenali!�
Orang yang berwajah putih kemudian berkata, �Jadi kamu si Pedang Angin Kilat, Zhu Ge Lei?�
Suaranya tajam, dan berkesan menggema, bagaikan suara ular derik. Zhu Ge Lei menjadi ketakutan dan terpaku mendengar suara itu. �I�ya!� katanya.
Pria yang berwajah hitam tertawa dingin. �Apa pantas kamu disebut �Pedang Angin Kilat?�
Tangannya tiba-tiba mengebaskan sebuah pedang hitam yang tipis dan panjang. Saat pedang itu diarahkan ke Zhu Ge Lei, dia berkata, �Tinggalkan barang yang kamu kawal dan aku akan mengampuni hidupmu!�
Orang kedua yang sedang duduk kemudian berdiri dan berkata sambil tersenyum, �Tuan berdua pasti telah membuat kesalahan. Pada perjalanan ini, kami mengawal barang ke luar perbatasan, tidak membawanya masuk. Sekarang barang kawalan kami telah kosong.
Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, pedang di tangan pria berwajah hitam telah menusuk lehernya. Dengan sedikit sentilah, kepala itu telah terpisah dengan lehernya. Semua orang terkejut. Kaki mereka bergetar di bawah meja.
Bagaimanapun juga Zhu Ge Lei bisa hidup sampai sekarang, jelas bahwa ia mempunyai kemampuan yang lumayan. Dia mengambil sebuah buntalah dari bawah tangannya dan meletakkannya di bawah meja.
�Informasimu sangat tepat. Kita memang membawa sesuatu dari perbatasan. Tapi kalian berdua, sayangnya belum cukup mempunyai kemampuan untuk mengambilnya.
Pria berwajah hitam tertawa. �Apa maumu?�
Zhu Ge Lei menjawab, �Kalian berdua paling tidak harus bertarung beberapa jurus ilmu silat disini, sehingga aku memiliki alasan saat aku kembali.�
Walaupun berbicara begitu, kakinya mundur tujuh langkah ke belakang. Tak seorang pun menyangka kalau ia menyentil meja di sebelahnya. Makanan bakso udang di meja berhampuran ke udara.
Hanya setelah terdengar desiran pedang dan cahaya dari kelebatan pedang, sepuluh bakso udang telah terpotong semuanya menjadi dua bagian.
Zhu Ge Lei berkata, �Jika kamu bisa mengerjakan hal yang sama, aku akan menyerahkan bungkusan ini. Kalau tidak, silahkan pergi dari sini!�
Ilmu pedang itu cukup lumayan, perkataannya juga cukup bagus. Li Xun Huan tertawa tanpa suara mendengarnya. Dengan berkata seperti itu, lawan Zhu Ge Lei hanya bisa memotong bakso udang. Jadi menang atau kalah, Zhu Ge Lei tetap akan hidup.
Pria berwajah hotam tertawa. �Itu hanyalah bisa dianggap sebagai ketrampilan tukang masak. Apakah kamu pikir itu adalah kemampuan silat?�
Saat dia mengatakan itu, dia mengambil napas dalam-dalam, membuat potongan-potongan baksi udang terpental naik. Dan kemudian dengan sebuah gerakan cepat, bakso udang itu kemudian lenyap, semuanya tertusuk di pedangnya. Bahkan orang yang tidak mengenal ilmu silat pun tahu bahwa memotong bakso udang tidaklah gampang, tapi untuk menangkap bakso udang itu di pedang adalah lebih sukar.
Wajah Zhu Ge Lei menjadi pucat, karena dia melihat ilmu pedang itu, dan kemudian mundur beberapa langkah ke belakang. Ia berkata, �Aku rasa, tuan berdua adalah �Ular Kembar Bernoda Darah�. �
Orang ke tiga yang sedang duduk di meja yang mendengar kata-kata itu, menjadi jerih, dan diam-diam mencoba untuk merangkak pergi.
Bahkan pengemudi kereta Li Xun Huang mengernyitkan alisnya, karena ia tahu beberapa tahun belakangan ini, perompak-perompak di daerah Sungai Kuning hanya sedikit yang bisa menandingi kedua orang ini dalam hal ilmu dan kekejamannya. Bahkan berita angin mengatakan bahwa warna mantel mereka yang bewarna merah itu adalah berasal dari darah korban mereka.
Tapi dia belum banyak tahu, bahwa 9 dari 10 orang yang pernah bertemu dengan kedua orang itu selalu kehilangan kepala mereka.
Si Ular Hitam tertawa berkata, �Ternyata kau bisa mengenali kami?
Setidaknya matamu tidak buta.�
Zhu Ge Lei menggertakkan giginya dan berkata, �Karena kalian berdua menginginkan barang ini, aku rasa aku tidak bisa berbuat apapun untuk melarang kalian. Ambillah dan pergi!�
Si Ular Putih tiba-tiba berkata, �Jika kamu mau merangkak di lantai, kami akan membiarkannmu hidup. Sebaliknya jika tidak, tidak hanya kalian harus meninggalkan bungkusan itu, tetapi juga kepala kalian!�
Itu adalah kata-kata Zhu Ge Lei saat ia membual sebelumnya. Saat kata-kata itu keluar dari mulut pria berwajah putih itu, setiap kata-kata bagaikan pisau yang menyayat-nyayat.
Pada saat itu Li Xun Huan mengeluarkan desahan dalam berkata pada dirinya sendiri, �Aku lihat kepribadian orang ini telah berubah, tidak heran dia bisa hidup sampai saat ini.�
Walaupun dia berkata sangat pelan, kedua Ular Kembar masih bisa mendengar perkataannya dan mereka menoleh kearah sumber suara tersebut.
Sebaliknya Li Xun Huan sepertinya tidak merasakan hal itu, ia tetap berkonsentrasi dengan patung manusianya.
Ular Putih tertawa, �Sepertinya ada ahli ilmu silat disini, yang aku dan saudaraku tidak melihatnya.�
Ular Hitam berkata, �Barang ini diberikan kepada kami dengan sukarela. Jika ada seseorang yang pedangnya lebih cepat dari kami, maka kami pun rela memberikan barang ini kepadanya!�
Si Ular Putih mengebaskan tangannya, dan sebuah pedang bewarna putih muncul, dan berkata, �Jika ada seseorang yang pedangnya lebih cepat dari pada kami, tidak hanya kami akan menyerahkan bungkusan ini, tetapi juga kepala kami!�
Mata mereka tertuju kepada Li Xun Huan saat mereka berbicara. Tapi Li Xun Huan tetap berkonsentrasi kepada ukiran patungnya seolah-olah ia tidak mendengar apa-apa.
Tiba-tiba seseorang di luar berteriak, �Berapa nilainya kepalamu?�
Saat mendengar perkataan itu, Li Xun Huan tiba-tiba terhenyak, tapi juga merasa gembira. Dia mengangkat kepalanya, dan dilihatnya seorang muda berjalan ke dalam ruangan.
Pakaiannya belum sepenuhnya kering. Bahkan sebagian dari pakaiannya telah membeku menjadi es, tapi ia tetap berdiri tegak bagaikan sebuah tombak.
Matanya terlihat sombong, tapi kesepian. Matanya mengandung sinar liar yang tidak bisa dijinakkan, seolah-olah ia bisa bertarung kapan saja membuat semua orang susah untuk mendekatinya.
Tapi perhatian semua orang tertuju kepada pedang yang ada di pinggangnya. Saat si Ular Putih melihat pedang itu, ia tertawa. �Apakah kata-kata barusan keluar dari mulutmu?�
Pemuda itu menjawab, �Ya!�
Ular Putih berkata, �Kamu mau membeli kepalaku?�
Pemuda itu menjawab, �Aku hanya mau tahu berapa harganya, karena aku mau menjualnya kepadamu!�
Ular Putih menjawab keheranan, �Menjual kepadaku kepalaku sendiri?�
Pemuda itu berkata, �Tepat, karena tidak hanya aku tidak menginginkan bungkusan itu, tetapi aku juga tidak menginginkan kepalamu. �
Ular Putih berkata lagi, �Jadi kau hanya ingin menantangku duel?�
�Ya.�
Ular Putih melihat kearah pemuda itu dan melihat kearah pedangnya, dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia tidak pernah melihat hal yang selucu itu di dalam hidupnya.
Pemudia itu hanya berdiri dengan diam, sepertinya ia tidak mengerti apa yang perlu ditertawakan. Dia merasa bahwa perkataannya barusan tidak lucu sehingga patut ditertawakan.
Pengemudi kereta mendesah, seolah-olah menganggap bahwa anak itu pasti sudah tidak waras. Zhu Ge Lei juga berpikir bahwa otak pemuda itu pasti sudah tidak beres.
Ular Putih kemudian berkata, �Seribu tael emas rasanya tidak cukup untuk membeli kepalaku.�
Pemuda itu menjawab, �Seribu tael emas terlalu berlebihan. Aku hanya perlu 50 tael.�
Ular Putih berhenti tertawa, karena ia menganggap pemuda itu pasti gila dan tidak bercanda.
Dia kemudian melihat pedang pemuda itu lagi dan tertawa tanpa bisa mengontrolnya.
�Baik. Bila kau bisa melakukan hal seperti yang kulakukan, aku akan memberimu 50 tael.�
Dalam keadaan tertawa dia tiba-tiba menyambar lilin yang ada di meja kasir. Tidak terjadi apa-apa pada lilin itu. Semuanya terkejut, terheran-heran melihat apa yang telah terjadi. Saat itulah si Ular Putih meniup lilin itu dan mereka bisa melihat bahwa lilin itu telah terpotong-potong menjadi 7 bagian. Pedangnya bergerak-gerak lagi. Ketujuh potong lilin itu kemudian tertangkap di pedangnya, dan yang mengherankan, api di lilin itu tidak padam.
Ular Putih berkata dengan sombong, �Apakah kau pikir pedangku cukup cepat?�
Pemuda itu dengan wajah tanpa emosi menjawab, �Sangat cepat.�
Ular Putih tertawa, �Bagaimana dengan kemampuan pedangmu?�
Pemuda itu menjawab, �Pedangku bukan untuk memotong lilin.�
�Lalu untuk apa itu lembaran logam itu?�
Pemuda itu menyentuh pedangnya dan berkata, �Pedangku adalah untuk membunuh orang.�
Ular Putih tersenyum. �Membunuh orang? Siapa yang akan kau bunuh?�
Pemuda itu menjawab, �KAMU!�
Pada saat kata-kata itu keluar dari mulut pemuda itu, pemuda itu menyabetkan pedangnya. Pedang itu semulanya berada di pinggang pemuda itu, semua orang melihatnya. Tapi dalam waktu sekejab pedang itu telah menancap di tenggorokan Ular Putih. Semua orang kini melihat bahwa pedang sepanjang semester itu telah menembus tenggorokan Ular Putih.
Tak ada seorang pun melihat bagaimana pedang itu menancap ke tenggorokan Ular Putih.
Tidak ada darah yang mengalir, karena darah belum keluar.
Pemuda itu menatap kearah Ular Putih, �Jadi, pedangmu atau pedangku yang lebih cepat?�
Ular Putih mengeluarkan suara �krok krok� dari tenggorokannya. Otot-otot mukanya tergetar. Tiba-tiba mulutnya terbuka, lidahnya keluar.
Darah keluar dari mulutnya.
Ular Hitam mengangkat pedangnya, tetapi tidak berani membalas. Keringat membasahi kepalanya. Tangannya bergetar.
Demi dilihatnya pemuda itu tiba-tiba mengeluarkan pedangnya, dan darah yang keluar dari tenggorokan Ular Putih. Ular Putih berteriak keras, �Kau!�
Kemudian dia jatuh ke lantai.
Pemuda itu menoleh kearah Ular Hitam dan berkata, �Dia telah kalah. Mana 50 tael ku?�
Dia masih serius. Serius seperti seorang anak yang tidak bersalah.
Tapi kali ini tidak ada orang yang berani menertawakan dia lagi.
Dengan gemetar Ular Hitam berkata, �Jadi kamu benar-benar membunuh dia untuk 50 tael perak?�
�Benar!�
Ular Hitam tidak tahu harus tertawa atau menangis. Dia kemudian menjambak rambutnya sendiri, mengoyakkan pakaiannya sampai uang di dalamnya berhamburan. Dia kemudian melempar perak-perak itu kearah pemuda itu.
�Ambillah. Ambillah semuanya.�
Kemudian dia lari keluar dari restoran itu seperti orang gila.
Tidak hanya pemuda itu tidak mengikutinya, dia juga tidak marah. Dengan polos ia membungkuk mengambil perak-perak itu dan membawanya kea rah manager hotel dan bertanya, �Apakah ini benar 50 tael?�
Manager hotel itu sudah menyusup di kolong meja. Tidak bisa berkata-kata dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Saat itulah Li Xun Huan menoleh kearah pengemudi keretanya sambil tertawa. �Aku benar, bukan?�
Pengemudi itu hanya mendesah. �Anda sangat benar. Mainan itu sungguh berbahaya.�
Dia melihat pemuda itu berjalan kearah mereka, tapi tidak melihat Zhu Ge Lei. Zhu Ge Lei tidak pernah meninggalkan kolong mejanya.
Saat itulah dia keluar dan tiba-tiba menyerang pemuda itu dari belakang.
Ilmu pedangnya tidak lambat. Pemuda itu juga tidak menyangka kalau Zhu Ge Lei akan berusaha untuk membunuhnya. Dia baru saja membunuh Ular Putih. Seharusnya Zhu Ge Lei berterimakasih kepadanya. Kenapa justru mau membunuhnya?
Saat semua orang mengira pedang Zhu Ge Lei akan menembus jantung pemuda itu, Zhu Ge Lei tiba-tiba mengeluarkan teriakan keras. Pedangnya terpental dari tangannya, tertancap di langit-langit.
Saat pedangnya masih bergoyang-goyang di langit-langit, tangan Zhu Ge Lei sudah memegangi tenggorokannya. Matanya terarah kearah Li Xun Huan, bola matanya melotot hampir keluar.
Li Xun Huan saat itu sudah tidak lagi memahat. Karena pisaunya yang dipakai untuk memahat sudah tidak ada di tangannya.
Darah menetes dari punggung Zhu Ge Lei.
Dia melotot kea rah Li Xun Huan. Tenggorokannya juga mengeluarkan suara �krok krok�. Saat itulah orang baru sadar bahwa pisau Li Xun Huan yang tertancap di tenggorokan Zhu Ge Lei.
Walaupun demikian, tidak seorang pun tahu bagaimana pisau itu bisa berpindah tempat dengan cepat.
Keringat menetes dari dahi Zhu Ge Lei, wajahnya penuh kesakitan. Kemudian dia menggertakkan gigi, dan menarik pisau itu keluar dari tenggorokannya. Dia menatap Li Xun Huan dan berteriak, �Semestinya dari tadi aku mengenalimu!�
Li Xun Huan mendesah. �Tapi sayang, kamu baru mengetahuinya sekarang, sehingga tadi kau tidak perlu melakukan hal yang memalukan seperti itu!�
Zhu Ge Lei tidak mendengar kata-kata terakhir itu. Dia sudah tidak bisa lagi mendengar untuk selamanya.
Pemuda itu menoleh untuk melihat, wajahnya kelihatan penasaran, seolah-olah dia tidak mengerti kenapa kenapa orang ini hendak membunuhnya.
Tapi dia hanya melihat sejenak, kemudian dia berjalan kearah Li Xun Huan. Di luar dari kesan liar dan biadab, wajahnya menyiratkan kehangatan dan senyuman.
Dia hanya berkata sepatah kata. �Aku mengundangmu untuk minum.�
Pendekar Bloon - 11. Banci
Melihat tingkah laku si Blo'on, kakek Lo Kun dan kakek Keruan Putih tertawa gelak-gelak. Suatu hal yang makin membuat Bloon merah muka-nya.
"Anak goblok, anak tolol " seru kakek Lo Kun "mengapa diberi hidangan lezar engkau tak mau makan ?"
"Heh. heh. heh" Kakek Kerbau Putih hanya tertawa mengekeh. "tuh, rasakan bagaimana enaknya kalau dipeluk oleh perempuan genit"
"Sia-sia," seru Blo'on, "perempuan tak tahu malu, Masakan celana orang laki mau dibuka"
'Hayo sekarang engkau pakai pakaian bujang muda itu !" seru kakek Kerbau Putih.
Blo'on kerutkan dahi.
"Ya, agar kita jadi perempuan semua dan lekas keluar dari sarang ini," seru kakek Lo Kun.
Terpaksa Blo'on menurut. Tak lama jadilah dia seorang bujang perempuan muda. Pipinyapun dilumuri kapur tembok yang tebal.
"Celaka," tiba-tiba kakek Lo Kun berseru.
"Mengapa ?" tanya Blo'on ikut kaget.
"Bujang perempuan itu memelihara rambut dan engkau gundul. Masakan ada perempuan gundul seperti engkau ?"
"Benar." seru Kakek Kerbau Putih, "ai. mengapa orang masih semuda engkau suka gundul?"
"Bukan karena suka gundul tetapi memana tak dapat tumbuh rambutnya. Inilah gara-gara orang-orang Hoa-san pay." gerutu Blo'on. "lalu bagaimana ? Kalau begitu lebih baik tidak jadi perempuan saja."
"Tidak bisa !" kakek Kerbau Putih berkeras
'"Lalu bagaimana dengan rambutku ini ?" tanya Bloon
"Beres !" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru lalu lari menghampiri bujang muda yang masih pingsan, itu. Konde rambut bujang itu terus dipotongnya Kemudian ia menghampiri ke tempat Bloon, 'Nih pakailah rambutnya."
Blo'on terlongong-longong.
""Beginilah cara memakainya," tiba kakek Lo Kun terus memasangkan gumpalan rambut itu ke kepala Blo'on tetapi konde rambut itu meluncur jatuh.
"Eh. aneh. mengapa tak dapat melekat" kakek Lo Kun heran.
"Gob!ok" timpal kakek Kerbau Putih, "bagaimana mungkin rambut akan melekat di kepula. kalau tidak dilekatkan?"
''Bagaimana caranya?" tanya kakek Lo Kun.
"Ai. engkau ini memang seorang kakek yang bodoh. Sudah.tentu dengan perekat." kata kakek Kerbau Putih.
"Setan kerbau, jangan omong seenakmu sendiri balas kakek Lo Kun "disini mana ada perekat ?"
"Mengapa tak ada ?" jawab kakek Kerbau Putih, "bukankah tadi masih, ada sisa bubur? Nah, kita manfaatkan sisa bubur
itu."
Kakek Kerbau Putih terus menghampiri ke tempat mangkuk. Memang masih terdapat sisa bubur. Ia mengumpulkan sisa bubur itu lalu menghampiri ke tempat Blo'on lagi.
"Duduklah, dan jangan goyang," perintahnya kepada Blo'on. Ketika anak itu duduk, kepalanya terus dilumuri sisa bubur, diusap-usap sampai rata. Setelah itu ia mengambil konde rambut lalu dipajangkan di kepala Blo'on.
"Setelah kering konde rambut tentu akan melekat " kata kakek Kerbau Pulih dengan bangga. Demikian setelah masing-masing berdandan dan menyaru seperti ketiga bujang perempuan, mereka terus keluar.
"Eh, bagaimana kalau ketiga bujang itu bangun" tanya Blo'on.
"Sudah, keikat semua" kata kakek Kerbau Putih
Sebelum pergi, mereka menutup pintu batu dahulu. Setelah itu mereka berjalan menuju ke sebuah bangunan. Mereka tak tahu keadaan tempatitu, Sambil berjalan, mereka memandang kian kemari.
Tiba-Tiba mereka dikejutkan oleh munculnya seorang perempuan yang terus meneriakinya : "Hai mengapa kalian bertiga enak-enak jalan-jalan ? Hayo. lekas bantu aku menyediakan arak."
Dan tanpa menunggu jawaban, perempuan itupun terus menuju kebelakang gedung. Blo'on dan kedua kakek terpaksa mengikuti,
Ternyata mereka tiba dibagian dapur. Perempuan itupun salah seorang bujang perempuan markas Partai Melati,
"Malam ini empat orang nona kita, hendak bersenang-senang. Kita diperintah untuk mengantarkan hidangan dan arak wangi," kata bujang perempuan itu.
'O." kakek Kerbau Putih mendesah singkat "lalu bagaimana?"
"Engkau ci Bwe" kata bujang perempuan itu kepada kakek Lo Kun yang menyaru sebagai bujang perempuan tua yang bernama Gu Bwe, "mengantarkan arak ke ruang Lok-hun
tong."
"Uh," kakek Lo Kun mendesuh, "siapa disitu,?"
"Eh, ci Bwe, mengapa malam mi suaramu berobah parau?" tiba-tiba bujang perempuan itu bertanya "Anu , . a . . entah .. mungkin masuk angin" cari alasan.
".O. minum arak. supaya badanmu hangat dan Sembuh dari masuk angin," kata bujang perempuan itu.
"Ya, benar," kata kakek Lo Kun terus menyambar sebuah guci arak ialu diteguknya sampai habis.
Blo'on dan kakek Kerbau Pulih terkejut. Hendak mencegah tetapi sudah tak keburu lagi.
"Eh, ci Bwe hebat benar minummu malam ini." seru bujang perempuan itu, "biasanya secawan saja engkau sudah pusing, mengapa malam ini engkau dapat menghabiskan seguci ?"
Lo Kun gelagapan : "Anu . . badanku meriang sekali dan kepingin minum arak . . "
Untunglah bujang perempuan itu tak mau bertanya lebih lanjut. Ia berkata : "Dan engkau ci An" katanya kepada kakek Kerbau Putih. "Engkau yang mengantar ke ruang Bi hun-tong. Disitu nona Sui Kim-han hendak merayu anakmuda bagus yang ditawan kemarin."
"Ya." sahut kakek Kerbau Putih singkat.
"Nanti dulu." kata kakek Lo Kun tiba-tiba. "Siapa yang harus diantari arak itu ?"
"Nona Ting San-hoa bersama putera tihu dan Hong-yang-hu. Rupanya nona San-hoa jatuh hati dengan pemuda itu. Sejak pemuda itu dibawa kemari, selalu nona San hoa saja yang menemani yang lain tidak diperkenankan.
"Uh" Lo Kun mendengus.
"Uh bagaimana ?" tiba-tiba bujang perempuan itu menegas. "Tidak apa-apa" jawab Lo Kun.
"Mengapa engkau mendengus ?"
"Apa tidak boleh ?" balas Lo Kun,
"Eh. ci Bwe. mengapa malam ini engkau berobah galak? Biasanya engkau ceriwis dan genit, mengapa malam ini engkau begitu benci? dan dingin?"
"Masuk angin!" karena jengkel Lo Kun membentak.
"Ya, ya, sudahlah, jangan galak-galak "' kata bujang perempuan itu tertawa. "dan engkau A moy antarkan arak kepada nona Siu-lan diruang Hui-hun tong Dia sedang akan menundukkan Seorang guru silat yang bekerja pada tihu Hong-yang-hu,"
Tiada penyahutan sama sekali.
'Hai. engkau dengar tidak A-moy ?' tiba-tiba bujang perempuan itu memandang Blo'on.
"Siapa ??' Blo'on terbeliak kaget,
"Siapa lagi kalau bukan engkau ? Bukankah engkau bernama A-moy ?"
"Uh. ya, ya " Blo'on menyeringai.
"Eh. A-moy, mengapa malam ini engkau jadi aneh" tegur bujang perempuan itu.
"Aneh ? Apa yang aneh ?"
'"Engkau seperti orang tolol. Masak kupanggil namamu, engkau diam saja. Apa engkau juga sakit ?"
"Ya, tadi telingaku kemasukan semut. Sampai lama semut itu baru mau keluar," kata Blo'on sekenanya saja.
Bujang perempuan itu tertawa : "Hi, hi. salahmu sendiri mengapa menaruh telinga disembarang tempat."
"Dan engkau sendiri mengantar kemana ?" cepat kakek Kerbau Putih bertanya agar bujang perempuan itu jangan mendesak Blo'on dengan macam-macam pertanyaan, ia kuatir anak itu tak dapat menjawab dan ketahuan belangnya.
"Aku ?" bujang perempuan yang berumur tigapuiuhan lebih itu tertawa, "aku akan mengantar arak ke ruang Biau-hun-
tong."'
"Siapa yang berada disitu ?'
"Nona Hun-hun ... " kata bujang itu, "ah kasihan nona Hun-hun. Dia yang mendapatkan seorang pemuda tampan, tetapi pemuda itu masih disimpan oleh nona San-hoa. Dan sebagai penghibur, nona Hun-hun diperbolehkan melayani seorang imam tua ... "
"Imam tua " kakek Kerbau Putih terkejut.
"Ya, imam tua yang datang bersama guru silat kantor tihu Hong-yang Itu ,dan seorang pemuda cakap."
"Mengapa engkau memilih mengantar arak kesana ?" tanya kakek Kerbau Putih pula.
"Biarlah, aku kasihan pada nona Hun-hun" sahut bujang perempuan itu, "hayo, lekas antar..Nanti nona-nona itu marah kalau menunggu terlalu lama".
Bujang perempuan itu terus membawa sebuah, penampan berisi guci arak, cawan dan manisan. Ia tak menghiraukan ketiga kawannya itu. terus mendahului keluar.
Kedua kakek dan Blo'on bingung, Mereka segera mencari penampan dan tempat simpanan arak "Hola. rejeki nomplok," seru kakek Lo Kun ketika mendapatkan tempat simpanan arak itu penuh dengan guci arak. Ia mengambil seguci arak membuka sumbatnya dan : "Amboi , . . sungguh wangi benar arak ini , , . " terus diteguknya dengan nikmat sekali.
"Wah. kalau begini naga-naganya, memang lebih enak jadi bujang perempuan disini." kakek Lo Kun masih mengoceh.
"Setan pendek" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru cemas "jangan gila-gilaan. Kalau engkau sampai mabuk, engkau tentu ketahuan dan tentu akan dijebloskan dalam tahanan lagi. Hayo, lekas kita mengantar arak."
Demikian ketiganya setelah mengisi penampan dengan guci dan cawan arak serta sepiring manisan, merekapun terus
melangkah keluar.
"Hai ... " tiba-tiba Blo'on berseru kaget.."kemana kita harus mengantarkan arak ini ?"
"Mati . . .!" kakek Lo Kun berhenti serentak
"Ya, kemanakah kita harus mencari nona-nona itu ?"
Akhirnya kakek Kerbau Putih yang memecahkan kesulitan itu. katanya : "Mari kita jalan terus. Asal melihat ruangan kita masuki saja."
"Ya, ya benar begitu." kata kakek Lo Kun.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi menyusur lorong dalam sebuah bangunan gedung besar.
Tiba-Tiba mereka mendengar suara seorang gadis tertawa : "Ai. engkoh Pik-giam. mengapa malam ini engkau begitu lesu
?"
"Ah, nona Ting." terdengar seorang pemuda menghela napas, "aku benar-benar letih sekali. Tenagaku serasa habis ."
Nona itu tertawa mengikik : "Ah, engkau si orang pemuda yang gagah, masakan baru setengah bulan saja sudah loyo ?"
"Ya, tetapi kalau tiap malam aku harus bermain dua tiga kali mana aku kuat ?" suara pemuda itu agak penasaran.
Si nona tertawa puia : "Ya ya baiklah, Malam ini kita cuma satu kali saja . . "
"Tetapi nona Tin" seru pemuda itu, "aku benar-benar sudah tak kuat. Sukalah nona memberi istirahat barang dua tiga malam saja."
"Dua tiga malam ?" menegas nona itu, "ah jangan begitu, engkoh Pik-giam. Apakah engkau tak kasihan kepadaku?"
Mendengar itu Kakek Putih berbisik : "Rupanya yang berada dalam kamar ini nona Ting bersama Pik-giam. Kalau tak salah. nona Ting itu tentu Ting San-hoa dan Pik-giam itu. tentulah Kho Pik-giam. putera tihu dari Hong yang-hu itu."
Kakek Lo Kun dan Blo'on mengangguk.
"Baiklah aku saja yang masuk. Nona itu bengis dan ganas, kalau engkau berdua sampai ketahuan tentu dibunuh. Aku dapat melihat gelagat".kata kakek Kerbau Putih.
"Lalu aku ?' tanya kakek Lo Kun dan Blo'on serempak.
"Engkau berdua terus jalan kernuka. Pada setiap kamar, dengarkan pembicaraan orang di dalamnya, baru kalian boleh masuk" kala kakek Kerbau Putih, "nanti berkumpul di dapur
lagi."
Kakek Lo Kun dan Blo'on terus lanjutkan berjalan kemuka dan kakek Kerbau Putih lalu mengetuk pintu.
"Siapa ?" terdengar suara si nona.
"Bujang yang mengantar arak," sahut kakek Kerbau Putih.
"O. masuklah." seru nona itu pula.
Kakek Kerbau Putih segera mendorong daun pintu dan melangkah masuk, "ini araknya nona " ia segera menaruhkan arak di atas meja dan terus hendak berlalu.
"Tunggu dulu" seru nona itu yang bukan lain Ting San hoa murid pertama Hu Yong siancu. Ia menghampiri meja. mengambil guci arak dan menciumnya : "Ah, kurang wangi. Kemarilah engkau !" ia melambai pada kakek kerbau Putih, Setelah kakek Kerbau Putih menghampiri, nona itu segera membisiki ke dekat telinganya : "Ganti arak ini dengan arak yang lebih wangi. Dan camppurilah dengan bubuk Bi-hun jiong-sing-tan, tahu'?"
"Dimana tempatnya, nona ?" kakek Kerbau Putih terkejut.
"Engkau tahu kamarku ?' tanya nona itu.
"Belum"
"Celaka." nona Ting San-hoa banting-banting kaki karena jengkel '"engkau tunggu dulu disini."
Kakek Kerbau Putih mengiakan. Setelah San hoa pergi, cepat kakek Kerbau Putih menghampiri pemuda itu : "Apakah engkau bukan Kho Pik-gi-am anak tihu dan Hong-yang-hu ? '
Pemuda itu terkejut : "Hah mengapa engkau tahu ?"
"St, jangan keras-keras waktu berharga sekali. Sebentar lagi nona itu tentu akan kembali " kata kakek Kerbau Putih, "aku bukah bujang di sini tetapi juga seorang tawanan yang menyaru jadi bujang. Bujang perempuan disini sudah kuringkus dan kulucuti pakaiannya."
"O," pemuda itu mendesuh kaget.
"Nona itu hendak mengambil obat suruh aku mencampurkan ke dalam arak, kuduga obat itu tentu obat perangsang . . '
"Uh," keluh pemuda itu. "aku tentu lekas mati karena kehabisan tenaga."
"Jangan takut" kata kakek Kerbau Putih "aku membawa obat kuat dan dapat memulihkan tenagamu dalam, waktu singkat."
Ia mengeluarkan pil merah, katanya : "Minumlah, tenagamu tentu pulih"
Pemuda itu masih bersangsi : "Tetapi bagaimana dengan obat perangsang yang pasti disuruhnya aku minum itu ?'
'Jangan takut" kata kakek Kerbau Putih pula "dia tentu suruh aku yang mencampurkan ke dalam arak. Sudah tentu takkan kucampuikan dan akan kuganti dengan lain obat"
"O, baiklah" kata pemuda itu terus minum pil merah dan menghaturkan terima kasih.
"St. kudengar langkah orang mendatangi, tentu nona itu. Jangan lupa. setelah tenagamu pulih. Engkau harus pura-pura menuruti kemauannya. Begitu ada kesempatan engkau harus cepat meringkusnya, tahu ?"
Pemuda itu mengiakan.
"Hai. kalian omong-omong apa saja itu ?' seru seorang nona dan masuklah Ting San-hoa kedalam ruangan.
"Ai, nona ini masakan mencemburui aku. perempuan tua
yang begini jelek. Masakan kongcu "
"Tetapi kudengar kalian bicara asyik sekali. Apa saja yang kalian bicarakan ?" masih San-hoa mendesak.
"Ah. tidak omong apa-apa" kata kakek Kerbau Putih. "hanya kongcu mengatakan ingin lekas mati saja."
"Mengapa ?" San-hoa terkejut.
"Dia rasakan tulang tulangnya seperti kering dan tenaganya habis, badannya lemah"
"O. tak apa. Nanti setelah minum arak obat dia tentu sehat kembali." kala San-hoa tertawa. Kemudian ia mendorong kakek Kerbau Putih, "lekas ambilkan arak Sari Melati."
Dalam mendorong itu, cepat sekali San hoa sudah susupkan bungkusan bubuk obat ke tangan kakek Kerbau Putih. Kakek Kerbau Putihpun segera keluar.
Tiba di lorong yang gelap kakek Kerbau Putih membuang bungkusan obat dari San-hoa itu lalu menuju ke dapur, ia memilih arak yang wangi lain memasukkan obat yang dibekalnya. Obat itu berkhasiat menyegarkan semangat.
"Nih. nona. arak San Melati yang nona perintahkan itu." katanya setelah kembali ke kamar.
San-hoa tersenyum girang dan menyambut. Lebih dulu ia suruh kakek Kerbau Putih, keluar. Tetapi kakek itu bersembunyi diluar kamar untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ai. mari engkoh, minumlah arak Sari Melati buatan kita ini." kata San hoa seraya mengangsurkan cawan, "arak ini dibuat dari sari bunga Melati, harum dqn menyegarkan Semangat, memulihkan tenaga "
"Ah. tidak nona." Pik-gi am pura-pura menolak. Walaupun ia percaya kepada kakek Kerbau Putih, tetapi ia harus menjalankan siasat juga agar nona itu tak menaruh curiga, "aku tak minta apa-apa kecuali minta libur malam ini. Biarlah aku beristirahat agar tenagaku kembali. Besok aku tentu akan melayani nona lagi sepuas puasnya."
Tetapi rupanya Sun-hoa sudah terlanjur di-rangsang nafsunya. Ia tertawa merayu : "Ai. engkoh Pik giam, masakan dinda hendak mencelakai engkau. Terus terang engkoh sejak ber-tahun-tahun ketemu dengan pemuda-pemuda yang datang kesini, belum pernah aku jatuh hati seperti pada diri engkoh. Harap engkoh jangan menyia-nyiakan kecintaanku"
"Ah, nona Ting," kata Pik-giam masih jual langkah, "akupun cinta kepadamu. Tetapi tubuhku benar-benartak mengizinkan Aku sungguh kehabisan tenaga. Aku tak mau mengecewakan engkau, nona."
"Ai. engkoh Pik-giam. cobalah engkau minum arak ini," kata San-hoa tetap membujuk, "kalau setelah minum arak engkoh masih tetap letih, ya tak apa-apa aku tak akan mengganggumu malam ini"
*'Ah. lebih baik jangan . .."
"Ai. engkoh masakan engkau tak percaya kepadaku. Masakan aku hendak mencelakai engkau. Minumlah engkoh, jangan kuatir. arak ini tak besi racun. Lihatlah, " San-hoa terus meneguknya habis lalu menuangkan lagi dan diberikan kepada pemuda itu "lihatlah, engkoh. Kalau arak ini beracun, biarlah aku ikut mati bersama engkoh"
Akhirnya Pik-giam menyerah, la menyambuti cawan arak itu lalu meneguk habis isinya. Kemudian ia pejamkan mata dan diam-diam salurkan peredaran darahnya untuk mengumpulkan tenaga-dalamnya.
Sebenarnya ia memiliki ilmusilat yang cukup lumayan. Tetapi karena ia gemar pelesir dengan wanita cantik tenaga-murni dalam tubuhnya susut banyak. Apalagi setelah berada di markas Partai Melati, keadaannya makin payah. Tiap malam ia harus melayani San-hoa. Nona itu ternyata besar sekali
nafsunya. Tiap malam Pik-giam dipaksa harus melayani
sampai dua tiga kali.
Hanya lebih kurang setengah bulan saja wajah Pikgiam berobah pucat seperta mayat. Tenaganya habis.
Beberapa saat kemudian ia rasakan tubuhnya mulai hangat, darah melancar gencar. Semangatnya muiai merekah dan tenaganya tampak mengumpul. Diam-diam ia girang.
"Mari engkoh, minum secawan iagilah, lihatlah, wajahmu sudah bertebar merah" kata San-hoa.
Tanpa banyak bicara Pik-giampun menyambutii dan meneguknya habis. Setelah itu San-hoa segera memeluknya dan mengecup bibir si pemuda
"Ah. engkoh yang manis, mari kita beristirahat di pembaringan" kata San-hoa lalu menarik tangan pemuda itu diajak naik ranjang.
Saat itu sesungguhnya Pik-giam sudah hendak menghantam, la benar-benar sudah muak akan nona itu. Memang sebelumnya, ia. seorang pemuda yang nakal, doyan plesiran dengan-wanita-wanita cantik. Tetapi setelah tiap hari harus melayani sampai dua tiga kali dengan nona yang tak kunjung puas nafsunya itu. akhirnya timbullah kemuakan Pik-giam.
Kemudian ia teringat akan pesan bujang perempuan tua yang memberinya obat tadi. Terpaksa harus menyabarkan hati dan menurut saja diajak naik ke ranjang. Ya. ia harus dapat memainkan agar jagan menimbulkan kecurigaan nona itu,
Begitu Pik-giam tiba di ranjang, terus didorong oleh San-hoa sehingga pemuda itu rebah terlentang Seperti seekor harimau betina yang lapar San hoa pun terus menubruk pemuda itu.
Biasanya Pik-giam terus menyambutnya dengan hangat dan keduanya tentu berpelukan dan bergumul bagai sepasang ular yang berlilitan, Tetapi saat itu tiba-tiba Pik-giam menjerit.
"Aduh. jangan menindih tubuhku, nona, "teriaknya.
"Mengapa ?" tanya San hoa.
"Aduh, tulang-tulangku masih lemas, tenagaku masih belum kembali dan tubuhku terasa lunglai, "kata Pik-giam setengah merintih.
"Apakah engkau tak merasakan sesuatu setelah minum arak tadi ?" tanya San hoa.
"Ya, tubuhku terasa hangat, darahku serasa mengalir deras. Tetapi tenagaku masih belum kembali. Mungkin harus beristirahat dulu beberapa waktu. Kasihlah aku mengasoh dulu barang setengah jam," kata Pik giam.
San hoa tertawa mengikik : "Ah. engkau memang seorang lelaki lemah. Masakan melayani seorang anak perempuan seperti aku saja engkau sudah tobat. Jika engkau diambil suhuku supaya melayaninya, engkau tentu sudah tak dapat jalan lagi'
"O. apakah Hu Yong siancu itu juga besar sekali napsunya ?" tanya Pik-giam .
"Jauh lebih hebat dari aku" kata San-hoa tersenyum, "suhu memiliki ilmu istimewa. Dia sanggup meladeni sekaligus sepuluh lelaki dalam satu malam. Tetapi dia tak mau sembarangan bermain dengan orang lelaki. Yang dipilih kebanyakan tentu yang masih jejaka."
'O mengapa ?" tanya Pik-giam. "Katanya bisa untuk obat awet muda." Kata San-hoa dengan senyum cabu!. "dan nyatanya memang begitu. Engkau tahu berapakah, usia suhuku itu ?'
Pik-giam merenung sejenak lalu menyahut " Paling banyak tentu baru empatpuluh tahun."
San-hoa tertawa : "Sebenarnya suhu sudah berusia hampir limapuluh tahun. Tetapi dasar parasnya cantik dan pandai merawat kecantikannya serta sering mencari jejaka, dia tampak masih seumur wanita muda yang berumur tigapuluh tahun"
"Engkoh, aku akan membantumu agar tenagamu cepat pulih." kata San-hoa. Nona itu terus membuka bajunya lalu melolos kun atau celana panjang
Kini dia hanya mengenakan pakaian dalam celana dan kutang.
Melihat itu berdebarlah hati Pik-giam. Darah berggelora keras dan ia rasakan tenaganya bertambah. Ia memandang nona itu dengan bengong
"Engkoh. mungkin kalau begini, engkau tentunya lebih girang lagi." habis berkata San-hoa terus menanggalkan kutang dan membuka celana dalamnya .Kini nona itu benar-benar bugil.
Darah Pik-giam makin menggelora keras.
Matanya menyala merah. Mulut berulang kali harus menelan kembali airliurnya yang hendak menetes keluar.
Walaupun tiap malam ia menikmati tubuh si nona tetapi setiap kali ia memandang tubuh si-jelita yang putih mulus dan berhias sepasang buah dada yang menggelembung padat, selalu saja darahnya mendidih dan nafsunya berkobar.
"Engkoh, marilah, tubuh ini milikmu. Terserah engkau hendak mengapakannya." kata San-hoa dengan meramkan mata seperti orang yacg pasrah diri.
Hampir saja Pik-giam tak kuat menahan gejolak nafsunya yang sudah berkobar itu, ia ulurkan kedua tangannya hendak meraih : "Manisku kemari ... "
Bagaikan seekor anak domba. San-hoa maju merapat kepada Pik-giam Ketika tangan Pik giam meraihnya, dengan sengaja nona itu jatuhkan diri dengan buah dadanya menimpa muka Pik giam.
Hawa harum semerbak, tubuh yang halus dan buah dada yang montok, menyebabkan Pik giam terbuai-buai dalarn langit tujuh lapis. Dipeluknya nona itu erat-erat dan nona itupun paserah sepaserah-paserahnya. Mereka berpelukan dan bergelut mesra.
"Ah. engkoh mengapa engkau tak membuka pakaianmu ?" tiba-tiba San hoa menegur.
Teguran itu membuat semangat Pik-giam yang terbang melayang-layang, tersentak kaget. Serentak ia menyadari apa yang akan terjadi apabila ia melakukan permintaan nona itu. Dan serentak pula ia teringat akan pesan bujang perempuan tadi. Pun saat itu. ia rasakan suatu pemandangan yahg menyeramkan. Dalam pandangannya. Wajah San-hoa itu bukanlah wajah seorang nona yang cantik jelita melainkan telah berobah seperti searang kuntilanak yang menyeramkan. Menggigillah tubuh Pik giam. semangat meronta.
"Baiklah," tiba-tiba ia menyahut dan secepat kilat ia menutuk jalandarah dibawah buah dada San hoa.
Walaupun tenaganya belum pulih sama sekali tetapi karena tutukannya itu tepat mengenai jalandarah yang berbahaya, seketika menjeritlah San Hoa terus rubuh tak sadarkan diri lagi.
Pik-giam cepat loncat turun dari ranjang. "Berbahaya" gumamnya ketika teringat akan adegan beberapa detik yang lalu.
Tiba-tiba pintu dibuka dan bujang perempuan tuapun muncul.
"Bagus, engkau dapat melakukan rencana itu dengan baik sekali." seru bujang perempuan tua kakek Kerbau Putih
Pik-giam tersipu-sipu menghaturkan terima kasih kepada bujang perempuan itu yang tak disangkanya kalau kakek Kerbau Putih.
"Dimana nona itu ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Masih pingsan dlatas ranjang."
Kakek Kerbau Putih menghampiri dan menyingkap kelambu. Serentak ia menjerit : "Aduh, mati aku ... " ia terus meluncur mundur.
"Kenapa ?" tanya Pik-giam heran.
Kakek Kerbau Putih deliki mata : "Mengapa engkau tak menutupi tubuhnya ? Kalau aku melihat tubuh seorang nona dalam keadaan telanjang begitu, jantungku bisa putus, tahu !"
Pik-giam segera menghampiri ranjang, menutupi tubuh San hoa dengan selimut. Setelah itu ia bertanya : "Sekarang bagaimana aku harus bertindak?"
"Berapa lama rona itu akan pingsan ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Paling lama setengah jam. dia tentu sudah bangun. Mungkin tenaga tutukan masih belum keras," kata Pik-giam.
"O, kalau begitu ikat saja kedua tangan dan kakinya dan
sumbat mulutnya dengan kain supaya jangan dapat berteriak," perintah kakek Kerbau Putih.
"Mengapa tidak kita bunuh saja ?" tanya Pik-giam, "apabila nona semacam ini masih hidupi di dunia, temu dunia ukan selalu kacau saja."
"Kalau aku tak sampai hati. Apakah engkau tega membunuh seorang nona yang begitu cantik ?" seru kakek Kerbau Putih.
"Mengapa tidak ' habis berkata Pik-giam terus hendak mengambil pedang.
"Jangan " cegah kakek Kerbau Putih
"Mengapa ?" Pik-giam kerutkan dahi
"Menurut dugaanku, nona itu dulunya tentu seorang anak perempuan baik-baik. Tetapi setelah menjadi murid Hu Yong siancu, dia tentu dididik menjadi wanita cabul. Jadi yang salah ialah Hu Yong siancu. Dialah yang harus dibasmi."
"Benar." sahut Pik-giam. "tetapi nona itu sudah terlanjur rusak moralnya, Bukankah dia tetap akan melanjutkan sepak terjangnya. walaupun Hu Yong siancu sudah mati ?"
"Nah. itulah yang harus kita cari. Bagaimana caranya supaya dapat menyadarkan nona itu kembali ke jalan yang benar lagi," kata kakek Kerbau Putih.
"Hm. susah rasanya," gumam Pik-giam, "kecuali sudah mati, barulah nona itu akan tobat,"
Kakek Kerbau Putih merenung diam. Beberap saat kemudian ia berkata : "Aku masih curiga jangan-jangan dia diberi minum obat oleh Hu Yong siancu sehingga pikirannya berobah tak sadar. Lupa malu. lupa sifatnya sebagai seorang gadis. Ah, mungkin kekasihku Sun Li hoa juga rusak seperti nona itu Celaka ... "
Pik-giam terbeliak : "Kekasihmu ?"
"Ya."
"Siapa namanya ?"
"Sun Li-hoa."
"Sun Li-hoa itu kan seorang wanita. Bukan kah engkau juga seorang bujang perempuan ? Mengapa engkau mempunyai kekasih wanita ?" Pik giam makin heran.
' Goblok !" teriak kakek Kerbau Putih "aku bukan perempuan tetapi seorang lelaki. Aku hanya menyaru menjadi bujang perempuan saja."
'O." desuh Pik-giam. "lalu bagaimana kekasihmu bisa berada disini ?"
"Itulah yang akan kuselidiki." kata kakek Kerbau Putih, "aku ketemu dia dijalan. Dia mengendarai kereta dengan seorang lelaki menuju ke lembah ini".
Pik-giam garuk-gruk kepala. Tak habisnya heran nya memikirkan keterangan bujang perempuan itu.
"Engkau tentu tak percaya kalau aku seorang lelaki. Nih. lihatlah sendiri." habis berkata kakek Kerbau Putih terus menyingkap kain hitam yang menutup hidung sampai ke mulut. Dan tampaklah jenggotnya yang putih.
"Astaga i" seru Pik-giam, "jadi engkau ini seorang kakek
tua?"
"Engkau kira bagaimana ?"
"Tetapi mengapa engkau mernpunyai seorang kekasih bernama Sun Li-hoa ? Tentu dia seorang nona yang masih muda, bukan ?" tanya Pik-giam.
"Ya. memang kekasihku ita seorang nona muda yang cantik, anak tihu juga." kata kakek Kerbau Putih dengan
bangga.
"Sudahlah paman" kata Pik-giam mari kita cepat bekerja Bagaimana kita kerjakan nona itu?"
Kakek Kerbau Putih berdiam diri. Rupanya ia sedang cari akal bagaimana harus menyelesaikan San-hoa. Jika dibunuh, memang ia tak sampai hati. Tetapi kalau dibiarkan begitu saja, nona Hu tentu tak kapok dan tentu masih melanjutkan pekerjaannya menculik pemuda untuk diajak bersenang-senang.
"O. kita buat saja supaya dia jangan cantik Tetapi bagi mana caranya ?" kata kakek itu,
"Ada !" tiba-tiba pula Pik-giam berseru lalu lari menghampiri ketempat San-hoa yang masih pingsan. ia mengambil pedang. lalu dicukurnya rambut itu sampai kelimis,
"Hai. mengapa engkau melakukan begitu ? apakah engkau menghendaki supaya dia menjadi nikoh ?" seru kakek Kerbau
Putih.
"Kalau dia insyaf dan mau jadi rahib, itu memang bagus sekali" kala Pik-giam. "tetapi kalau tidak mau sekurang kurangnya dalam waktu beberapa lama Ini dia tentu malu keluar rnencari korban"
"Ah. tetapi engkau kejam sekali. Masak seorang nona yang cantik engkau cukur rambutnya begitu rupa ?" gumam kakek Kerbau Putih.
"Nona seperti dia pantasnya dilenyapkan dari dunia, Kalau hanya kehilangan rambutnya saja masih murah." jawab Pik-giam.
Kakek Kerbau Putih anggap omongan pemuda itu memang benar.
"Hayo. sekarang kita keluar mencari kawan ku yang sedang melayani nona lain." kata kakek Kerbau Putih terus melangkah keluar dan kamar Tetapi tiba-tiba ia berhenti dan berpaling : "Hai. tetapi engkau bagaimana ?"
"Apanya yang bagaimana ?" tanva Pik giam
"Aku sih menyaru jadi bujang perempuan! Anak buah Partai Melati tentu tak curiga. Tetapi engkau . . " sambil berkata kakek Kerbau Putih masuk, ke dalam kamar.
Keduanya segera, rnerundingkan cara bagaimana akan keluar untuk mencari si Bloon dan kakek Lo Kun
Biarlah mereka berunding. sekarang marilah kita ikuti dahulu kakek Lo Kun yang mengantar arak bersama Blo'on.
Ketika tiba disebuah kamar, mereka mendengar suara seorang nona tertawa dingin.
"Nah, biarlah aku saja yang masuk dan engkau carilah lagi kamar yang ada nonanya" kata kakek Lo Kun terus dia mengetuk pintu. Blo'on terkejut, dan bergegas-gegas melanjutkan perjalanan kesebelah muka.
"Siapa ?." seru seorang nona dengan nada geram.
"Bujang Bwe yang akan mengantar arak untuk nona." kata kakek Lo Kun dengan berusaha untuk memperkecilkan nada suaranya.
"Masuk !" seru nona itu pula dengau nada galak.
"Tetapi pintunya masih terkunci," kata kakek Lo Kun.
"Goblok" damprat nona itu. "putar saja tombolnya tentu pintu sudah terbuka !"
Kakek Lo kun heran mengapa nona itu marah-marah. Namun ia melakukan juga perintah itu, Setelah pintu terbuka, iapun melangkah masuk.
"Taruh di meja" kembali nona itu berseru ketus
Kakek Lo Kun mengiakan lalu menghampiri rneja dan menaruhkan penampan hidangan arak di atas meja.
Ternyata didekat meja itu terdapat seorang imam tua yang duduk di sebuah kursi. Imam itu mengenakan jubah dengan lukisan pat-kwa, Begitu juga topinya. Walaupun sudah tua tetapi imam masih gagah. Melihat Lo Kun. imam tua itu memandangnya dengan terlogong-longong heran Karena di pandang, kakek Lo Kunpun balas memandang. Ketika beradu pandang, keduanya sama terbeliak kaget
"Ini si imam tua yang kulihat dalam kuil beberapa hari yang lalu." gumam Kakek Lo Kun dalam hati.
"Ih. ini kan seperti patung yang terdapat dalam kuil di lereng gunung itu ? Aneh. mengapa patung bisa menjadi manusia hidup dan berganti jadi perempuan ?" diam-diam imam tua itupun berkata dalam hatinya.
Memang imam tua itu bukan lain ialah Soh Hun ki su atau pertapa Pencabut Nyawa yang bersama-sama Bok Jiang guru silat di kantor tihu dan pemuda cakap she Liok. hendak mencari putera tihu yang diculik gerombolan Partai Melati.
Rupanya gerak gerik kedua orang itu diperhatikan sinona cantik. Nona itu ialah Ong Hun-hun murid angkatan kedua dari Dewi Melati. Dia sebenarnya vang menculik putera tihu tetapi San-hoa hanya menghadiahi dia dengan seorang pertapa tua. Sedang putera tihu itu dimonopoli olen San-hoa sendiri. Sudah tentu Hun hun tak puas. Apalagi ketika melihat imam itu sudah tua, bermuka menyeramkan.
"Bibi Bwe,' seru hun hun kepada kakek lo Kun. "mengapa suaramu-berobah kecil ?"
Lo Kun gelagapan. Ia membuat nada suaranya kecil agar disangka seorang perempuan, tidak tahunya malah menimbulkan pertanyaan nona Itu
"Sial" gumam Kakek Lo Kun dalam hati. Lalu memberi alasan kalau dirinya malam itu agak masuk angin. .
"Tetapi dengan nada besar akupun bisa ju> f>a" kata kakek Lo Kun dcligan menggunakan nada suaranya sendiri yang aseli.
"Ih. bibt Bwe, sekarang engkau bertambah [?enit ya ?" kata Hun-hun.
Kakek Lo Kun menveringai : "Ai, nona ini mengapa suka mengolok-olok saja ?"
"Kalau tidak, mengapa jalanmu bergoyang kibul seperti bebek (itik) ?"
"Celaka" keluh kakek Lo Kun dalam rafi, "masakan jalanku benar-benar seperti bebek berjalan ?'
"Ah. telapak kakiku yang kanan memijak api maka aku terpaksa berjalan setengah pincang" masih kakek itu dapat mencari alasan.
"O, mengapa sekarang engkau memakai kerudung segala macam ?" tanya pula Hun-hun.
"Ai, nona. orang sudah tua, aku takut masuk angin maka kain kerudung ini untuk penutup mulut jangan sampai kemasukan angin" kata kakek Lo Kun dengan terbawa terpaksa walaupun hatinya mendongkol sekali.
Kata pula Huo-hun : "Tetapi memang malam ini engkau tampak beda dengan hari-hari yang lalu. Tambah cantik tambah genit."
„Ah. jangan suka mengolok-olok orangtua. Nona besok juga akan jadi tua," kata kakek Lo Kun agak kurang senang.
"Siapa mengolokmu ?" bantah Hun-hun "buktinya, imam tua itu memandangmu dengan pandang mata yang mesra, hi,
hi . . "
"Dia ?" kakek Lo Kun gelagapan. Hampir saja ia mengatakan kalau sudah pernah melihat imam itu di dalam kuil gunun, Tetapi untunglah pikirannya yang terang, mencegahnya.
"Ya. masa engkau tak merasa ?" kata sinona pula
"Lalu maksud nona ?"
"Kalau orang memandang begitu rupa. tandanya ada hati.
bibi Hwe"
"Masya Allah " seru kakek Lo Kun, "dia suka kepadaku ? Ah, dunia akan kiamat. Kalau matahari terbit dari sebelah barat, barulah hal itu kan terjadi'
"Engkau tak percaya ?" seru Hun-hun.
"Sudah tentu tidak sama sekali" bantah Lo Kun. "masakan rnendapat hidangan seorang nona semuda dan secantik nona, dia tak mau tetapi malah mau mencari bebek tua yang sudah alot dagingnva begini !"
"Jangan bilang begitu, bibi Bwe." kata Bau hun pula. "tanda jodohnya muda yang tua sama tua. Mungkin dia anggap, aku masih terlalu muda pantas menjadi cucunya maka dia tak suka. Tetapi engkau, bibi. memang tepat sekali menjadi isternya. Itulah sebabnya dia lebih memperhatikan engkau dari pada diriku,"
"Tidak ! Tidak!" teriak kakek Lo Kyn yang sudah Lupa untuk memperkecil nada suaranya dan menggunakan suaranya sendiri yang aseli. "setiap lelaki betapapun tuanya tentu lebih suka mendapat wanita yang masih muda, syukur masih gadis"
"Engkau tak percaya, bibi ?"
"Tidak "
"Hm. mari kita tanya saja kepadanya. Dia suka siapa." kata Hun-hun. "tetapi kalau dia menyatakan suka kepadamu, engkau harus mau mengganti tempatku. Engkau harus menemaninya disini, bibi Hwe."
"Eh. ah . . . tetapi nona hendak kemana ?" Kakek Lo Kun gelagapan.
"Tidur kekamar sendiri." sahut Hun-hun. "dan besok pagi apabila ditanya San-hoa toa-suci Jangan engkau bilang kalau engkau malam ini menggantikan tempatku menemani imam
itu," "Tetapi ... "
"Sudahlah, bibi Bwe. Engkau tolongi aku malam ini, besok kuberikan persen yang banyak."
"Tetapi kalau imam itu tak mau, bagaimana?"
"Mari kita tanya." kata Hun-hun lalu mengajak kakek Lo Kun menghampiri kehadapan Soh Hun Kisu.
"Totiang." seru Hun-hun, "malam ini sebenarnya totiang
diberi kesempatan untuk bersenang-senang menikmati keistimewaan sorga lembah Melati, akulah yang ditugaskan untuk menemani totiang malam ini. Tetapi totiang , . . "
"Tetapi bagaimana ?" seru Soh Hun kisu. Hun-hun mendekati kesamping pertapa itu lalu membisiki beberapa patah kata kedekat telinganya.
"Itulah sebabnya, karena malam ini diri kotor, aku tak dapat menemani totiang. " kata Hun-hun. Tetapi nona itu menggunakan ilmu menyusup suara Coan-bi-jip-hun. sehingga hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak tetapi tak terdengaran suaranya. Begitu pula yang dapat menangkap hanya Soh Hun kisu. sedang kakek Lo Kun tak dapat mendengar apa-apa.
"Totiang," tiba-tiba Hun-hun berseru dengan suara biasa iagi, "cobalah totiang memilih siapa yang harus menemani totiang malam ini. Aku tau bibi Bwe ini ?'
Soh Hun kisu muak dengan sikap nona itu. Sebenarnya ia bermaksud hendak menangkapnya tetapi kalah dulu. la telah ditutuk jalan darah lalu ditabur dengan bebauan wangi yang merangsang nafsu.
Tetapi setelah nona itu mengatakan kalau malam itu dirinya sedang kotor, lenyaplah nafsu pertapa itu." kemudian ia memandang kakek Lo kun. Teringatlah seketika ia akan patung yang berada dalam kuil. Timbul pikiraanya untuk menyelidiki diri perempuan tua itu.
"Hm, pokoknya wanita, kalau engkau memang tidak bisa, diapun boleh saja, Malam ini aku lelah hendak kusuruhnya memijati kakiku" kata imam tua.
'Terserah," kata Hun-hun. pokoknya malam ini engkau boleh menyuruhnya apa saja."
Kemudian nona itu berpaling kepada kakek lo Kun dan membisiknya : "Ingat, jangan bilang pada toa-suci San-hoa besok kuberimu persen." habis berkata ia terus melangkah keluar.
Sekarang hanya tinggal kakek Lo Kun bersama pertapa Soh Hun ki-su Keduanya saling berpandangan mata.
"Hai. bukankah engkau yang jadi patung dalam kuil dilereng gunung itu ?"' tegur Soh Hun kisu
"Aku manusia bukan patung" sahut kakek Lo kun.
Ya, sekarang ini" kata Soh Hun kisu. tetapi malam itu engkau jadi patung dalam kuil "
"Mengapa engkau mengatakan begitu ?"
"Karena aku tahu sendiri."
"O, apakah engkau imam yang makan bak pau di kuil gunung itu ?" tiba-tiba kakek Lo Kunpun teringat juga,
"Benar, kalau begitu engkau ini benar patung itu." seru Soh Hun kisu "tetapi mengapa engkau jadi manusia ?"
"Ya, aku memang manusia hidup tetapi itu waktu aku memang harus jadi patung dulu."
"Mengapa ?"
"Karena kalian bertiga dalang, aku kuatir kalau kalian ini bangsa penjahat maka terpaksa menjadi patung." Lo Kun menerangkan dengan sejujurnya setelah tahu bahwa imam itu bukan bukan penjahat.
"Tetapi engkau ini laki atau perempuan!" tanya pula Soh Hun ki-su.
"Gila. sudah tentu lelaki seperti engkau'
"Mengapa sekarang seperti orang perempuan.?"
"Stt. jangan keras kalau bicara," kata kakek Lo Kun lalu berjalan keluar kamar. Sejenak kemudian ia masuk kembali "aku terpaksa menjadi seorang bujang perempum disini agar dapat menolong orang-orang yang ditawan. Eh. bagaimana juga ditawan mereka '"
"Kami bertiga dijebak oleh mereka dikepung oleh barisan nona-nona cantik anak buah Melati. Barisan mereka memang hebat benar. Kami bertiga tak dapat memecahkan barisan itu malah akhirnya dirubuhkan"
"Celaka, engkau kalah dengan anak-anak perempuan saja?" tanya Kakek Lo Kun.
"Ya. karena mereka menggunakan obat asap yang membikin lemas tenaga. Pada saat pertempuran berlangsung seru. beberapa nona itu menaburkan bubuk wangi yang membuat kita pusing terus tubuh tak sadarkan diri. Setelah sadar, tahu-tahu kita sudah ditawan disini"
"O, di manakah kedua orang kawanmu ?" tanya kakek Lo Kun pula.
''Itulah yang akan kutanyakan kepadamu barangkali engkau tahu" jawab imam Soh Hun kisu. "aku sendiri tak tahu dimanakah mereka ditawan"
"Ya, memang merekapun mengalami nasib serupa dengan engkau," kata kakek Lo Kun, "tetapi dua orang kawankupun sedang mengantarkan arak ke tempat mereka."
"Bagaimana engkau tahu ?" tanya Soh Hun kisu heran.
Kakek Lo Kun lalu menuturkan pengalaman mereka selama masuk ke markas Partai Melati.
'O. sungguh tas kukira, manusia-manusia patung seperti kalian ternyata mampu keluar dari tawanan lalu bahkan hendak menolong kami." kata Soh Hun ki-su memuji
'Sudahlah jangan banyak bicara," bentak kakek Lo Kun, "sekarang kita masih berada dalam sarang harimau. Yang perlu kita harus lekas cari daya bagaimana keluar dari sini"
Soh Hun kisu makin kagum terhadap kakek yang tampak seperti orang tolol itu. Ia menyetujui
"Sekarang kita harus menolong kedua orang kawanku itu dulu setelah itu baru kita beramai ramai menolong putera tihu Kho kongcu," kata Soh Hun kisu.
"Ya." kata kakek Lo Kun.
Tetapi ketika Soh Hun kisu sudah melangkah keluar kakek Lo Kun masih belum angkat kaki.
"Hai, mengapa engkau masih disitu ?" seru Soh Hun kisu.
"Yang penting aku harus menghabiskan arak ini. Sayang kalau dibiarkan disini," kata kakek pendek itu seraya menenggak dengan nikmat.
Beberapa saat kemudian barulah kakek itu melangkah keluar
"Sebaiknya engkau berjalan di belakangku saja agar jangan sampai ketahuan mereka" kata ka kek Lo Kun.
Soh Hun kisu terpaksa menurut. Mereka hendak mencari si Blo'on, Baru beberipa langkah berjalan, mereka melihat seorang bujang perempuan berjalan mendatangi.
"Celaka. itu bujang perempuan yang memerintah aku mengantar arak. Hayo lekas kemba masuk kedalam kamar saja" kata kakek Lo Kun seraya terus mendorong Son Hun Ki-su memasuki kamar lagi.
"Mengapa ini ?" Soh Hun kisu tak habis heran "mengapa engkau begitu ketakutan?"
"Dia datang kemari !"
"Siapa ?"
Kakek Lo Kun lalu menerangkan bagaimana ia disuruh bujang itu untuk mengantar arak. Kemudian dia membisiki Soh Hun kisu bagaimana untuk menyiasati bujang itu nanti
Yang datang itu ternyata memang bujang yang menyuruh kakek Lo Kun, kakek Kerbau Putih dan blo'on mengantar arak.
Nama bujang perempuan yang masih muda itu ialah Sui Kiong, Biasanya dipanggil Kiong saja.
Begitu tiba di depan kamar, ia terus mengetuk pintu : "Hayo. lekas buka pintu "
"Aduh ampun tuan . . " tiba-tiba terdengar suara orang mengaduh kesakitan dari dalam kamar, suara seorang wanita.
Bluk. bluk . . "aduh. jangan, jangan tuan, Aku sudah kapok" . . , terdengar suara pukulan dan rintihan seorang wanita.
Bujang Kiong mengetuk pintu lagi. Dan tak lama pintu tampak dibuka, wajah kakek Lo Kun menonjol.
"Ci An, engkau di . , "
"Kurang ajar engkau" tiba-tiba Kakek Lo Kun menampar pipi bujang itu. Bujang itu tak mengira akan diserang oleh bujang perempuan tua itu Ia ter-huyung*.
"Ci Bwe !'" teriak bujang kiong "mengapa engkau menampar aku?"
"Mengapa tidak ?" bentak kakek Lo Kun "karena engkaulah maka aku sampai dipukuli imam iblis itu " ,
"Mengapa ?" tanya pula bujang Kiong.
"Nona Hun tak mau meladeni imam tua itu dan suruh aku yang melayani. Celaka, imam itu marah lalu menempeleng
aku."
"Kenapa tak mau ?"
"Setan engkau !" bentak kakek Lo Kun "karena katanya aku sudah tua. Dia minta yang muda"
"Ah, ci Bwe maafkan, tetapi aku tak sengaja" kata bujang Kiong itu, "memang semula rencsnanya nona Hun-hun tidak disini tetapi entah bagaimana nons Kim-lian telah ganti acara. Dia tukar kamar dengan nona Hun hun,Tadi aku masuk kekamar nona Lian dan terus disuruh keluar saja Mestinya yang kucari adalah tempat nona Hun hun
"Setan." gum »ni kakek Lo Kun, "lain kali engkau harus hati-hati Kalau salah masuk tentunya engkau harus cepat-cepat keluar dan memberitahu aku. Masa begini, orang tua suruh mewakili meladeni seorang imam tetapi malah ditempeleng imam itu,"
'Sudahlah ci Bwc" bujang Kiong menghibur, "besok kubelikan baju baru, Silahkan engkau kembali aku yang akan meladeni imam itu."
Kakek Lo Kun keluar tetapi dia masih berada diluar kamar untuk mendengarkan yang terjadi didalam kamar itu.
"Ai, tuan, maafkan nonaku tadi." kata bujang Kiong. dengan suara genit, "sebenarnya yang disuruh mengantar arak kemari itu aku, tidak tahunya bujang perempuan itu lancang. Kalau tuan marah itu memang sudah pantas. Masakan perempuan se tua itu tak tahu diri mau meladeni tuan"
Soh Hun kisu hanya tertawa hambar.
"Apakah tuan masih marah kalau aku yang meladeni tuan?" tanya bujang Kiong sembari maju menghampiri kemuka Soh Hun kisu, "bukankah aku masih muda dan montok? Ah. tuan belum tahu bagaimana rasanya, kuladeni. Kalau sudah tahu hm, tuan tentu tak mau dengan nona-nona itu. Mereka hanya cantik dan muda tetapi tak punya pengalaman. Beda dengan aku tuan. Tanggung tuan nanti tentu puas betul."
Soh Hun kisu hanya tersenyum. Dan bujang Kiong semakin berani, la maju merapat kemuka Soh Hun kisu, kemudian terus berjongkok.
"Ah. tuan tentu letih. Lepaskanlah sepatu mu dan silahkan tuan tidur dipembaringan. Nanti ku pijati kaki tuan" kata bujang Kiong seraya hendak melepas sepatu Soh Hun kisu.
"Siapa namamu ?" tanya Soh Hun kisu,
"Panggillah Kiong"
"O, bagus juga nama itu" kata Soh Hun Ki-su "apakah engkau benar-benar pengalaman ?"
"Tanggung tuan" kata si Kiong makin genit. "buktikan sendiri nanti, tuan pasti puas"
"Coba sekarang engkau lakukan cara bagaimana agar nafsuku bangkit. Aku sudah tua. sudah tiada nafsu akan wanita" kata imam tua itu.
"Jangan kuatir tuan" kata bujang Kiong, "tanggung tuan akan bangkit dan perkasa seperti seekor singa kelaparan nanti"
"Hm, jangan omong besar dulu. Awas kalau engkau gagal, engkau tentu kuhajar seperti perempuan tua itu !" bentak Soh Hun kisu.
Kiong tertawa genit, la lalu membuka bajunya pelahan-lahan setelah itu lalu celananya. Dengan gaya dan ulah yang genit dan cabul, segera ia mulai melepaskan kancing kutangnya. Satu demi satu dengan pelahan dan disertai lirikan mata dan gerak yang cabul.
Bagaikan seorang penari strip-tease atau telanjang, mulailah bujang Kiong mempertunjukkan keahliannya merayu dan memikat perhatian Soh Hun kisu dengan gerak tarian melepaskan pakaiannya.
Beberapa saat kemudian tampaklah bujang itu dalam keadaan telanjang bugil. Tetapi dilihatnya imam Soh Hun masih tetap duduk dengan tenang.
'Tuan apakah tuan tak ingin menikmati tubuhku ini ? Silahkan. tuan, silahkan. Mau yang mana, gigitlah . . kecuplah . . nikmatilah . . "
Bujang cabul itu makin merapatkan tubuhnya kehadapan Soh Han ki-su. seolah-olah suatu penyerahan yang paserah.
"Jangan bergerak." Seru Soh Hun ki-su, "Ya tubuhmu memang hebat. Pejamkanlah matamu biar aku dapat menikmati dengan bebas, lekas "
Bujang itupun menurut saja. Ketika ia menutup mata, Soh Hun kisupun lalu menutuk jalan darah di dadanya, Seketika bujang itupun rubuh tak ingat diri lagi.
Seiring dengan jatuhnya tubuh ke lantai maka masuklah kakek Lo Kun. Tetapi serentak dengan itu kakek itupun menjerit : "Petapa cabul!".
Sudah tentu Soh Hun kisu terlongong, "Mengapa engkau memaki aku ?" tanyanya.
"Engkau memang imam tua yang masih cabul mengapa engkau suruh dia telanjang bulat ?" tanya kakek Lo Kun pula.
Belum Soh Hun kisu memberi keterangan kakek Lo Kun sudah menudingnya pula : "Engkau apakan dia tadi. hai imam gila !"
"Kututuk jalan darahnva supaya pingsan," kata Soh Hun kisu.
"Tidak bisa" bantah kakek Lo Kun yang kumat angot linglungnya, "tentu engkau perkosa sehingga dia pingsan."
'Gila cngkaul" akhirnya marah juga imam itu. "masakan aku sudi dengan seorang bujang perempuan semacam itu '
"Sombongnya!" balas kakek Lo Kun. "buka kah engkau tadi juga mau dengan aku?' Kalau si orang bujang perempuan begini tua, engkau niat Tentulah dia yang. lebih muda. engkau lebih mau lagi "
Soh Hun kisu terlongong. kemudian marahlah ia ," "Engkau seorang kakek gila ! Siapa sudi dengan engkau ? Aku tadi kan hanya suatu siasat karena kutahu engkaulah yang jadi patung dalam kuil gunung itu"
"Ha. apakah benar begitu ?" kakek Lo Kun kerutkan dahinya.
"Jangan gila-gilaan begitu" kata Soh Hun kisu pula. "kalau aku memang mau, murid-murid Partai Melati yang cantik-cantik itupun aku bisa mendapatkan"
"Imam kurang ajar" tiba-tiba kakek Lo Kun berteriak pula sehingga Soh Hun kisu melongo. "Jangan engkau mengganggu nona-nona cantik di sini"
"Mengapa ?" Soh Hun kisu makin heran "apakah engkau orang Partai Melati ?"
"Bukan !" sahut kakek Lo Kun "tetapi diantara nona-nona cantik Partai Melati itu. salah seorang adalah isteriku Sun Li-hoa. tahu ! Awas. kalau engkau berani mengganggu isteriku, tentu kuhajar"
"Isterimu disini ?" Soh Hun ki-su makin tereliak heran.
"Ya," jawab kakek Lo Kun "Ingat, namanya Sun Li-hoa, orangnya cantik sekali '
"Hagatmana isterimu bisa masuk disini ?"
"Itulah yang akan kuselidiki sebabnya." kata kakek Lo Kun "dia temu ditipu oleh Hu Yang si se-cu atau kemungkinan tentu dipaksa dibawa kesini."
"O, kaiau begitu kita harus membebaskan" kata Soh Hun kisu. Tetapi sesaat kemudian ia bertanya heran, "tetapi engkau sudah tua bangka mengapa isterimu masih muda ? Bukankah nona-nona murid Partai Melati itu masih gadis-gadis yang berumur belasan tahun ?"
Kakek Lo Kun garuk-garuk kepala : "Itu aku sendiri tak mengerti mengapa dia masih tetap begitu muda dan cantik. Tetapi sudahlah jangan tanya . Nanti akan kuurus sendiri."
Soh Hun kisu memandang kakek Lo Kun
"Hai mengapa engkau mengawasi aku begitu" tegur kakek Lo Kun. "apakah engkau kira aku ini seorang perempuan..
Tidak, tidak! Aku lelaki"
"Memang kutahu engkau seorang kakek" jawab Soh Hun kisu "'hanya akan kuketahui, apakah engkau ini seorang giia atau linglung "
"Ho, sudah jangan pedulikan diriku. Sekarang kau mau keluar dan sini atau tidak. Kalau mau menolong kawan-kawanmu. lekas carilah bagaimana akan bertindak. Tak perlu mengetahui aku gila atau tidak !" bentak Lo Kun.
Sementara kedua orang itu berunding bagaimana mengatur langkah untuk keluar dan menolong kawan-kawannya, adalah di bagian kamar lain juga si Blo'on mengalami peristiwa yang mendebarkan.
Setelah tinggalkan kakek Lo Kun. Blo'on berjalan terus kemuka, Ia tak tahu tempat itu. Pokoknya asal berjalan saja.
Bila mendengar ada orang bicara dalam kamar, itulah kamar yang harus ia masuki
Tetapi hampir tiba diujung lorong, masih juga ia belum mendengar suara orang, la mulai bingung.
'"Celaka" kata Blo'on. "bagaimana ini ? Apakah aku harus kembali mencari bujang perempuan muda itu untuk menandakan tempatnya ?"
Hampir ia berputar tubuh terus hendak menuju ke dapur lagi. Tetapi tiba-tiba ia hentikan langkah. PiKirnya : "Ah. kalau bertanya kepadanya ia tentu marah. Ya, kalau hanya memaki saja masih mending. Tetapi kalau dia curiga terhadap diriku, bukankah penyamaranku bakal ketahuan ? Ah, lebih baik kupergi kelain tempat saja, mungkin dibagian sini tempatnya"
Blo'on terus berjalan melintasi halaman dan menuju kesebuah bangunan yang bercat merah. Bangunan itu mirip dengan sebuah bungalow yang indah. Memiliki sebuah halaman yang penuh ditanami bunga-bunga warna warni. Terutama bunga melati, bunga seruni, dahlia. mawar dan lain-lain.
Tengah Blo'on celingak celinguk masuk ke halaman serambi, tiba-tiba muncullah dua orang muda mudi yang bergandengan tangan. Rupanya, kedua pasangan itu habis dari kerkeliling taman menikmati pemandang di malam yang indah.
"Hai. siapa itu ?" tegur yang pemudi, seorang nona cantik, mengenakan baju biru muda.
"A-moy mengantar arak," sahut Blo'on. Rupanya kali ini dia benar-benar mengingat namanya si A-moy. agar jangan sampai ketahuan penyamaran nya.
'O, A-moay. bagus," seru gadis cantik itu dengan suara merdu, "bawalah masuk ... "
Habis berkata nona itu terus memimpin tangan sipemuda yang cakap masuk kedalam ruangan
"Taruh di mana nona ?" tanya Blo'on.
"Di meja batu kumala itu." seru sinona, "tetapi hati-hati jangan sampai tumpah,"
Setelah meletakkan penampan arak. Blo'on pun bertanya pula : "Apakah masih ada lain pesan yang nona hendak perintahkan ?"
"Ya. nanti dulu, jangan terburu-buru pergi," kata si nona cantik "sebenarnya aku masih akan menyuruh engkau mengambilkan apa. ah ... mengapa lupa! Cobalah, kuingat ingatnya dulu."
Blo'on tegak seperti patung. Ia memandang sinona. Seorang gadis berumur tujuh-delapan belas tahun, yang amat jelita. Kemudian ia berganti memandang si pemuda. Ah, seorang pemuda yang cakap. Ia merasa pernah melihat, tetapi lupa di mana.
Pemuda itupun balas memandang Blo'on. Di pandanginya juga Blo'on dengan tajam kemudian tampak ia kerutkan dahi.
"Engkoh Liok. engkau hendak makan apa?" tiba-tiba nona itu bertanya kepada si pemuda bagus.
"Aku?" sipemuda Liok gelagapan kaget. "ah, terserah apa saja."
Nona itu tertawa dan lontarkan sebuah lirikan mata yang tajam, kepada pemuda itu. Kemudian ia berseru kepada Blo'on "A-moay. ambilkan dendeng rusa di dapur untuk teman arak."
Blo'on mengiakan. Ia terus melangkah keluar dengan hati kebingungan. Dendeng rusa ? Dimana kah tempatnya ?
"Tak usahlah adik Lian," tiba-tiba pemuda Liok itu berseru mencegah, "aku tak lapar. Cukup kita minum arak saja."
"A-moay" tiba-tiba nona yang dipanggil Lian atau lengkapnya bersama Sui Kim-lian itu berseru memanggil Blo'on. Blo'onpun berhenti, "tak perlu mengambil dendeng rusa, tuan Liok tidak mempunyai selera makan dendeng,"
"Engkoh Liok. bagaimana acara kita malam ini ?" tanya Kim-lian dengan suara merdu merayu
"Minum arak sambil membuat syair," kata pemuda Liok tertawa, "kita adu syair, siapa yang kalah harus minum arak"
"O. mengapa mesti memeras otak membuat syair ? Bukankah lebih enak setelah puas minum ... kita terus tidur ?" kata sinona.
Pemuda Liok itu tertawa : "Ah, memang benar lebih enak. Tetapi sudah menjadi kebiasaanku selama belasan tahun, aku tak dapat tidur apabila belum membuat syair . . "
"Tetapi engkoh Liok, itu lain. Kita nanti tidak tidur, melainkan ..." nona itu tertawa la!u mencubit lengan sipemuda. Gayanya penuh kemanjaan yang merayu.
Pemuda itupun tertawa : "Ya. sudah tentu, tetapi justeru itulah yang kuusahakan. Habis membuat syair, semangatku tentu bertambah segar, pikiran terang dan gairahku lebih merangsang. Percayalah adik Lian, entah bagaimana, memang begitulah adat kebiasaanku'.
"O, jadi dengan membuat syair itu semangat engkoh akan lebih menyala dan tenaga engkoh akan bertambah jantan perkasa ?" tanya Kim-lian.
Pemuda Liok itu tertawa mengangguk.
"Apakah disini tersedia alat tulis dan kertas?" tanya pemuda Lioh.
"Tentu, sahut Kim-lian, disini sebenarnya tempat yang sering digunakan suhu untuk bersenang-senang menghibur diri."
"O," desah pemuda Liok, "lalu mengaapa engkau pakai? Bukankah kalau suhumu tahu, engkau akan dimarahi ?"
Nona itu tertawa "Suhu akan marah kepadaku? Oh, jangan kuatir engkoh Liok. Suhu tak mungkin marah kepadaku ?"
Pemuda Liok itu heran, serunya : "Mengapa begitu adik Lian? Apakah suhumu seorang yang sabar dan tak pernah marah ?"
"Ih, suhu seorang wanita yang bengis dan keras. Semua anak murid Partai Melati tiada yang berani membantah perintahnya. Tetapi terhadap diriku, entah bagaimana, dia selalu sabar dan sayang ... "
"Aneh," gumam pemuda Liok. "apakau karena engkau yang paling cantik dan paling cerdik diantara lain-lain saudara seperguruanmu?"
"Bagaimana engkoh melihat wajahku ini" Kim-lian balas bertanya.
"Cantik sekali," seru pemuda itu
Karena dipuji cantik oleh si pemuda, dada nona itu serasa meledak. Memang demikian sifat dari kaum wanita. Tua muda, besar kecil, tentu bangga dan gembira apabila dipuji cantik.
"Ah, aku sendiri juga tak tahu. engkoh Liok Mengapa suhu bersikap begitu kepadaku . . "
"Kalau tak ada sebabnya, tak mungkin dia pilih kasih begitu," kata pemuda Liok pula.
"Eh, mengapa engkoh begitu menaruh perhatian sekali kepada diriku ?" tanya Kim-lian.
"Apakah engkau tak senang kuperhatikan" pemuda Liok itu balas bertanya
Kim-lian tertawa makin manja : "Sudah tentu ergkoh Liok. Asal engkau sungguh-sungguh cinta padaku dan takkan menyia-nyiakan diriku".
Pemuda Liok itu tertawa : "Ah, adik lian. janganiah engkau menyangsikan janjiku. Tetapi engkau tahu adik Lian. Bahwa keluargaku itu seorang keluarga yang terhormat. Ayahku bekas cong tok (gubernur) keras adatnya. Kalau engkau ingin menjadi ingin menjadi isteriku selama-lamanya, engkau harus keluar dari tempat ini dan kembali ke jalan yang baik ... "
Kim-lian mendesis perlahan : "Ya, sebenarnya aku juga tak suka hidup dalam suasana begini. Tapi aku tak berdaya untuk meloloskan diri. Engkau tahu, engkoh Liok, suhu itu sakti dan bengis, siapa yang bersalah tak menurut peraturannya, tentu akan dibunuh."
"Tetapi mengapa dia begitu baik terhadap dirimu ?" tanya pemuda Liok itu pula.
"Ah, soal itu memang suatu rahasia. Semula aku sendiri juga tak tahu. Hanya secara kebetulan saja aku dapat mengetahuinya, tetapi, ah . . " nona itu menghela napas.
"Mengapa ?" pemuda Liok makin heran,
"Seorang jiwa telah menjadi korban .. "
"Ha!" pemuda Liok kerutkan dahi "Aku tak mengerti apa yang engkau katakan, adik Lian, maukah engkau menceritakan dengan jelas?"
Kim-lian tak lekas menyahut me!ainkan berdiam beberapa saat. Setelah itu baru ia berpaling kearah Blo'on yang masih tegak termangu-mangu mendengarkan pembicaraan.
"A-moy, mengapa engkau masih berada disini ? Apakah engkau hendak mencuri pembicaraan?" tiba-tiba Kim-lian menegur.
Blo'on gelagapan, sahutnva : "Bukankah nona belum menyuruh aku pergi ?"
"Setan." damprat rona itu, "apakah kalau tak kusuruh, engkau tetap berada disini ? Kurang ajar . . . "
Bio'on menyeringai : "Aku bukan setan, nona. aku A moay'. Akupun tidak kurang ajar karena tadi nona suruh aku tunggu dulu."
"Eh, engkau berani membantah aku?" Kim lian mulai naik darah. "kapan engkau belajar membantah kata-kataku ? Siapa yang mengajarkan engkau?"
"Aku sebetulnya tak berani membantah, tapi kupikir kalau aku diam saja, nanti nona tentu marah dan menganggap aku tak mempeduli nona. Habis, bagaimana aku harus berbuat ?" kata Bloon seraya rentangkan kedua tangannya.
"Sudahlah adik Lian." segera pemuda Liok melerai, "tak perlu ribut-ribut dengan seorang bujang Suruh saja mengambil air hangat untuk membersihkan muka "
Kim lian menurut lalu suruh Blo'on mengambilkan baskom berisi air hangat.
Setelah Blo'on pergi barulah Kim-lian merapatkan duduknya disampmg pemuda Liok. Ia mulai menuturkan sebuah kisah.
"Bermula aku memang tak tahu. Kuanggap Hu Yong siaucu itu adaiah suhuku yang telah merawat dan mendidik aku sedari kecil. Dan dia memang memperlakukan sebagai seorang rnurid, keras dan berdisiplin.
Pada suaiu hari dalam latihan ilmu silat yang diberikan, suhu mengharuskan aku loncat ke atas ssebuah karang yang tingginya hampir dua tombak. Beberapa suci dan sumoay ku ada yang dapat ada juga yang gagal dan jatuh. Aku gemetar.
"Lian, mengapa engkau gemetar ? Takutkah engkau ?" tegur suhu kala itu.
Kujawab bahwa hari itu badanku terasa tak enak dan kepalaku pening. Tetapi dia hanya tertawa dan tetap menyuruhku melakukan latihan itu.
Karena takut, akupun melakukannya juga. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku, aku berhasil mencapai puncak karang. Tetapi begitu tegak di puncak itu. kepalanya terasa pusing sekali, mataku berkunang-kunang dan rubuhlahaku kebawah . ."
"Ih," pemuda Liok mendesis, "lalu bagamana ?"
"Aku jatuh dari ketinggian dua tombak. Suhu dan beberapa saudara seperguruanku berhamburan hendak menyanggupi tetapi terlambat. Aku jatuh terbanting ditanah dan pingsan. Ketika aku membuka mata ternyata aku berada di kamar suhuku berbaring diatas pembaringannya yang mewah. Ternyata tulang punggungku patah sehingga aku harus dirawat selama beberapa bulan.
Ketika sakitku masih gawat, sadar tak sadar kudengar suara seorang wanita menangis terisak-isak. Ketika kurentangkan mataku, kulihat yang menangis itu suhu.
"Kim-lian, puteriku, mamah yang bersalah memaksa engkau harus berlatih loncat keatas punccak karang yang tinggi. Ah. anakku. engkau tak tahu betapa perasaan mamah. Kalau engkau sampai kena apa-apa, hancurlah hati mamah. Mamah sebenarnya cinta kepada ayahmu tetapi dia seorang lelaki yang tak kenal budi dan kasih seorarg isteri. Karena tak tahan menderita siksaan batin. kubawa engkau lari meninggalkannya. Dan engkau lah Lian, milik mamah satu-satunya di dunia ini. Kalau engkau . . engkau . , sampai kena apa-apa ah, bagaimana mamah . , dapat hidup . . seorang diri".
"Aku terkejut mendergar ratapan Suhu itu" kata Kim-lian kepada pemuda Liok, "apakah dia itu mamahku ?"
“Mengapa engkau meragukannya? Bukankah dia sudah menyebut siapa dirinya ?" tanya pemuda Liok
"Tetapi setelah aku sembuh kembali sikap dan perlakuan Suhu kepadaku tetap tak berobah. bengis dan keras." kata Kim lian, "itulah yang menimbulkan keraguanku. Namun aku tak berani menanyakan."
"Lalu apakah sampai sekarang engkau belum juga tahu ?" tanya pemuda Liok.
Kam-lian tidak langsung menyahut melainkan melanjutkan ceritanya ; "Pada suatu hari nenek Siong yang menjadi inang pengasuhku sejak aku kecil, sakit. Akupun menjenguknya. Dalam kesempatan itu aku menanyakan tentang diriku dengan suhu. Nenek Siong dengan terus terang menerangkan bahwa sesungguhnya aku ini memang putri suhu.
Aku terkejut mendengar keterangan itu lalu kudesaknya : "Lalu siapakah ayahku ? Apakah ia masih hidup ?"
"Namanya Sui Kim-san, seorang pemuda yang cakap dan sakti tetapi tak setia. Pada waktu Mamahmu mengandung, ayahmu main gila dengan bujang muda. Mamahmu marah lalu pergi merantau. Ah, kasihan ketika hari itu aku ke hutan mencari daun, kuketemukan mamahmu rebah pingsan dibawah pohon. Dia kubawa pulang. Setelah melahirkan engkau, dia menitipkan engkau kepadaku lalu melanjutkan pergi mengembara. Sepuluh tahun kemudian ia muncul lagi dan mengajak aku tinggal di lembah ini. Aku bukan nenekmu sesungguhnya, nak. Tetapi suhumu melarang aku menceritakan hal itu kepadamu. Itulah sebabnya maka aku mengatakan kepadamu bahwa ayah dan ibumu sudah meninggal dan engkau harus menganggap Hu Yong siancu itu sebagai ibumu sendiri."
"Aneh," gumam pemuda Liok. "mengapa seorang ibu tak mau mengaku terang terangan kepada anaknya sendiri. Apakah dia merasa malu karena mempunyai anak seperti engkau ?"
"Entahlah." kata Kim-lian."tetapi kuduga dalam peristiwa itu tentu terselip suatu rahasia Hanya sayang aku tak dapat memperoleh keterangan tentang rahasia itu dari nenek Siong."
"Mengapa ? Apakah dia tak mau menceritakan kepadamu ?" tanya pemuda Liok,
"Dia tentu akan menceritakan kepadaku" kata Kim-lian.
"Dan apakah tidak ?" tanya pemuda Liok
"Ya, dia tak menceritakan lagi karena ia tak dapat berceritait
"Mengapa ?" pemuda Liok terkejut.
"Keesokan harinya ketika aku datang ke tempatnya ternyata nenek Siong sudah meninggal dunia ..." berkata sampai dismi Kim-lianpun mengucurkan airmata.
""Ah. orang tua yang menderita sakit, sudah jamak kalau meninggal dunia." pemuda Liok menghiburnya.
"Tetapi aku heran, sorenya ketika kujenguk dia masih tampak sehat dan bicara dengan tangkas. Tetapi mengapa keesokan harinya dia sudah meninggal. Tidak mungkin," kata Kim-lian. "ya, kqrena penasaran aku segera melakukan penyelidikan. Akhirnya dapat kuketemukan bukti yang menyebabkan kematian nenekku. Teh yang diminumnya itu terdapat endapan bubuk putih ... "
"Racun ?" seru Pemuda Liok.
Kim lian mengangguk : "Ya, dia telah mati keracunan atau tepatnya diracuni karena berani, menceritakan rahasia diri suhu dan diriku . , "
"Ah," pemuda Liok menghela napas, "apakah salah menceritakan keadaanmu itu? Mengapa suhumu atau ibumu begitu benci kepada orang yang mengetahui rahasia itu ?"
Kim-lianpun mendesah : "Itulah engkoh Liok hal yang membuat hatiku dendam dan penasaran. Karena ibu bertindak begitu, akupun dingin juga kepadanya. Aku ingin lolos dari tempat ini untuk mencari ayahku. Apakah dia masih hidup. aku tak tahu. Dimanakah tempat tinggalnya, akupun tak tahu. Tetapi aku mendapat firasat bahwa dia masih hidup maka akupun hendak mencarinya ke seluruh penjuru dunia , "
Pemuda Liok termenung. Ia tak menyangka bahwa Lembah Melati yang terkenal sebagai sarang wanita-wanita cabul ternyata terdapat seorang gadis yang ingin melepaskan diri dari tempat itu. Dan gadis itupun bukan gadis sembarangan melainkan putri dari pemilik lembah Melati sendiri.
"Nona Lian," kata pemuda itu sesaat kemudian. "maaf. aku hendak bertanya kepadamu, harap jangan marah"
"Silahkan, engkoh," jawab gadis itu. "Apakah memang demikian perintah Hu Yong siancu agar anakmurid Partai Melati itu menculik lelaki dan melakukan perbuatan cabul dengan orang-orang tawanannya?"
"Ya, memang benar." jawab Kim-lian, "entah bagaimana suhu memang seperti orang yang penasaran dan membenci orang lelaki. Dia seperti hendak membalas dendam kepada setiap orang lelaki tampan. Diculik lalu dibuat permainan sepuas puasnya setelah itu dilempar keluar dari lembah.
"Apakah ayahmu juga seorang pria yang tampan ?" Tanya pemuda Liok.
"Entah," jawab Kim-lian '"karena aku belum pernah melihat bagaimana wajah ayah. Tetapi menurut kata nenek, memang ayah itu tampan sekali!"
"O, kalau begitu jelas ibumu itu penasaran terhadap ayahmu lalu menumpahkan dendam kemarahannya pada setiap pria tampan"
"Yah kemungkinan begitu" kata Kim-lian, "maka disuruhnya anak murid Partai Melati ini untuk mengikuti jejaknya. Tetapi aneh.. "
"Mengapa ?" tanya pemuda Liok pula.
"Berpuluh-puluh suci dan sumoay memang diberi kebebasan untuk mencari orang lelaki dan bersenang-senang dengan tawanan itu. Hanya aku yang dilarang"
"Ha" Pemuda Liok terbelalak.
"Ya memang suhu pernah memanggil aku empat mata. Dia memberi pesan tegas dan keras aku tak boleh main-main dengan orang lelaki. aku berani melanggar larangan itu. Tentu akan dihukum. Engkau tahu apa hukuman yang akan dijatuhkan jika kepadaku apabila aku berani melanggar larangan itu?"
"Entahlah," sahut pemuda Liok.
"Suhu akan merusak kecantikan wajahku ini, supaya aku menjadi gadis yang jelek. Kutahu sifat dan perangai suhu. barang siapa melanggar peraturannya tentu dihukum. Pernah seorang sumoay telah melanggar lalu dipotong daun telinga dan hidungnya. Karena malu. sumoay itu telah membunuh diri dengan membenturkan kepalanya ketembok"
"Dan apakah selama itu engkau tak berani melanggar pesan suhumu, walaupun secara diam-diam ?" tanya pemuda Liok pula
"Tak berani"
"Lalu mengapa sekarang engkau berani bergaul rapat denganku ?" tanya pemuda Liok tengah menyangsikan keterangan itu.
Kim lian tersipu-sipu menjawabnya "Ah, lain. Pertama kali aku melihatmu, entah bagaimana hatiku berdebar keras dan gelisah. Akhirnya aku menghadap Ting San-hoa minta izin agar aku yang melayani engkau "
"Apakah dia setuju ?"
"Tidak setujupun tentu akan setuju. Kan walaupun dia murid yang paling tinggi. Akan tetapi dia sungkan-sungkan terhadapku "
"Mungkin dia sudah tahu kalau engkau puteri dari suhumu" kata pemuda Liok
"Ya mungkin begitu " kata Kim-lian "memang bukan melulu dia, pun para suci dan sumoay disini memang sungkan kepadaku "
Dalam pembicaraan itu tiba-tiba pintu terdengar diketuk orang. Ternyata si Amoay Blo'on yang datang dan menyanggul sebuah ember besar di atas kepala.
"Taruh dihadapan tuan Liok" perintah Kim-lian
Ketika Blo'on meletakkan ember dihadapan pemuda Liok, tiba-tiba pemuda itu berseru tertahan.
"Ah, airnya begitu panas, masih berkepul"
Memang menggunakan kaki Kim lian merasa memang air yang di dalam embar itu masih panas sekali, nona itu marah dan mendamprat : "Goblok mengapa air untuk cuci tangan masih begitu panas ? Bukankan aku minta air hangat ?"
"Yang hangat habis nona" Blo'on memberi keterangan.
"Blo'on benar engkau!" bentak si nona itu pula "Kan mudah sekali mendapatkan air hangat. Asal engkau tambah sedikit dengan air dingin air panas ini tentu menjadi hangat"
"Blo'on ? siapakah yang nona panggil blo'on ?" Blo'on terkejut.
"Engkau yang Blo'on" bentak Kim-lian
"Ya benar. Bagaimana nona tahu ?" Blo'on makin heran dan mengira kalau nona itu sudah tahu bahwa namanya si Blo'on.
Kim-lian deliki mata "Apa maksudmu ?"
"Mengapa nona tahu kalau aku ini Blo'on ?" si Blo'on mengulang pertanyaannya.
"Suruh mengambil air hangat tetapi mengambil air yang begitu panas kalau tidak Blo'on lalu apa namanya ?"
"Ya, benar nona, engkau benar memang aku Blo'on. Hanya aku ingin tahu, bagaimana nona tahu kalau Blo'on"
"Gila" bentak Kim-lian makin marah "apakah engkau tidak tahu kalau arti Blo'on ialah goblok seperti engkau ini"
"Ah nona ini bagaimana ? bukankah sudah mengaku kalau ini Blo'on"
"Engkau memang gila ! Apa engkau hendak jual lagak di depan tuan Liok ini ?"
"Jual lagak ? Biar apa ?" Blo'on heran.
"Agar tuan Liok suka kepadamu !" kata Kim-lian, "engkau hendak meniru nona-nonamu yang lain itu. bukan ?"
"Tidak, tidak." cepat-cepat Blo'on membantah "aku tak ingin memikat tuan Liok. Pun andaikan tuan Liok suka kepadaku, belum tentu aku mau "
Plak . . . tiba-tiba Kim Lian menampar pipi Blo'on "Kurang ajar. Engkau berani menghina tuan Liok ?"
"Tidak, nona." kata Blo'on sambil mendekap pipinya yang merah "aku tidak menghina, tetapi mengatakan yang sebenarnya. Apabila tuan Liok menghendaki diriku. Akupun tak dapat melayani, karena, aku ini "
Tiba-Tiba Bio'on teringat kalau dirinya sedang menyaru jadi bujang perempuan. Maka ia hentikan Kata-katanya.
"Engkau bagaimana ? engkau sangat cantik ?" Kim-lian marah terus hendak menamparnya lagi.
Tetapi dicegah Pemuda Liok "Sudahlah adik Lian, jangan mengurusi bujang yang blo'on. Suruh saja ia membawa kembali air panas itu supaya diberi air dingin sedikit "
Karena yang menengahi pemuda Liok, Kim Lian jadi menurut : "Engkau bawa kembali ember itu dan tambahkan sedikit air dingin supaya hangat "
Blo'on mengiakan segera ia menghampiri ke tempat ember lalu mengambilnya, maka ember itupun disanjungnya diatas kepala.
Pemuda Liok memperhatikan dengan tajam diri bujang perempuan itu dan gerak geriknya. Ia mengerutkan dahi agak terkejut. Serasa ia pernah melihat wajah bujang itu tetapi entah dimana ia lupa.
Untuk menjaga jangan sampai orang curiga, maka Blo'on mengolah gerak jalannya. Ia tak berjalan dengan langkah lebar sebagai biasanya, melainkan dengan langkah yang bergoyang-goyang. Ia melihat bagaimana berlenggang lenggoknya seorang gadis apabila berjalan. Dan iapun mencoba untuk menirukan gaya itu.
Tetapi karena dia seorang anak lelaki dab blo'on maka gerak geriknya itu malah menimbulkan suatu gerak yang over acting atau berlebih-lebihan. Gaya jalannya seperti seekor bebek berjalan bergoyang pinggul...
Melihat itu pemuda Liok hampir tak kuat menahan gelinya. Tetapi tidak demikian dengan Kim Lian memandang tingkah laku si Amoay Bloon itu se akan-akan meledek
Ketika Blo'on tepat tiba di ambang pintu tiba-tiba Kim Lian berteriak " Amoay berhenti!"
Bloon terkejut lalu berputar tubuh. Pintu itu memang cukup tinggi tetapi karena menyanjung ember itu di kepala. Blo'on harus mengendapkan tubuh apabila akan melewati ambang pintu, supaya ember tidak melanggar palang pintu atas.
Karena mendongkol melihat tingkah laku Ah moay yang disangka hendak memikat perhatian pemuda Liok. Ketika ia melirik ke arah pemuda Liok memang dilihatnya pemuda itu mengawasi Ah moay dengan penuh perhatian. Diam-diam timbul kemarahan hati Kim Lian. Ia cemburu, maka dipanggilnya Blo'on dengan bentakan yang keras.
Blo'on sebenarnya sudah tahu kalau harus mengendapkan tubuh agar ember diatas kepalanya jangan sampai melanggar palang pintu. Tetapi begitu mendengar bentakan Kim Lian memangilnya ia terkejut sekali dan lupa untuk mengendapkan tubuh terus saja ia berputar tubuh hendak menghadap ke arah nona itu.
Prak.. ember itu membentur palang atas pintu dan seketika tumpahlah isinya.
"Aduhhh " menjeritlah Blo'on terus mendekap kepalanya.
Air itu mencurah ke kepalanya, karena air panas sudah tentu Blo'on menjerit ketakutan sekali. Ya bayangkan saja bagaimana rasanya kalau kepala disiram air panas itu.
Untuk mengurangi rasa kesakitannya. Blo'on berjingkrak-jingkrak dan menjerit-jerit.
Namun rasa sakit itu masih tetap tak berkurang. Dan karena bingung Blo'on pun segera lari seperti orang gila. Ia lari mengamuk kian kemari dalam ruangan itu.
"Hai Rambutnya copot"teriak Kim Lian demi melihat rambut palsu yand dipasang di kepala Blo'on itu meluncur jatuh ke lantai.
"Gila!" kembali nona itu menjerit bahkan kali ini lebih kaget dari yang tadi. Setelah Blo'on gundul kembali seperti asalnya. Kim Lian segera mendapat gambaran bahwa bujang itu tak mirip dengan Ah moay. Dan jelas dia itu seorang lelaki muda yang berkepala gundul.
"Mengapa ?" pemuda Liok bertanya heran.
"Dia... bukan Ah-moay" seru Kim-lian "dia itu jelas seorang lelaki yang menyaru jadi Ah-moay "
Blo'on terkejut
Bersambung
"Anak goblok, anak tolol " seru kakek Lo Kun "mengapa diberi hidangan lezar engkau tak mau makan ?"
"Heh. heh. heh" Kakek Kerbau Putih hanya tertawa mengekeh. "tuh, rasakan bagaimana enaknya kalau dipeluk oleh perempuan genit"
"Sia-sia," seru Blo'on, "perempuan tak tahu malu, Masakan celana orang laki mau dibuka"
'Hayo sekarang engkau pakai pakaian bujang muda itu !" seru kakek Kerbau Putih.
Blo'on kerutkan dahi.
"Ya, agar kita jadi perempuan semua dan lekas keluar dari sarang ini," seru kakek Lo Kun.
Terpaksa Blo'on menurut. Tak lama jadilah dia seorang bujang perempuan muda. Pipinyapun dilumuri kapur tembok yang tebal.
"Celaka," tiba-tiba kakek Lo Kun berseru.
"Mengapa ?" tanya Blo'on ikut kaget.
"Bujang perempuan itu memelihara rambut dan engkau gundul. Masakan ada perempuan gundul seperti engkau ?"
"Benar." seru Kakek Kerbau Putih, "ai. mengapa orang masih semuda engkau suka gundul?"
"Bukan karena suka gundul tetapi memana tak dapat tumbuh rambutnya. Inilah gara-gara orang-orang Hoa-san pay." gerutu Blo'on. "lalu bagaimana ? Kalau begitu lebih baik tidak jadi perempuan saja."
"Tidak bisa !" kakek Kerbau Putih berkeras
'"Lalu bagaimana dengan rambutku ini ?" tanya Bloon
"Beres !" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru lalu lari menghampiri bujang muda yang masih pingsan, itu. Konde rambut bujang itu terus dipotongnya Kemudian ia menghampiri ke tempat Bloon, 'Nih pakailah rambutnya."
Blo'on terlongong-longong.
""Beginilah cara memakainya," tiba kakek Lo Kun terus memasangkan gumpalan rambut itu ke kepala Blo'on tetapi konde rambut itu meluncur jatuh.
"Eh. aneh. mengapa tak dapat melekat" kakek Lo Kun heran.
"Gob!ok" timpal kakek Kerbau Putih, "bagaimana mungkin rambut akan melekat di kepula. kalau tidak dilekatkan?"
''Bagaimana caranya?" tanya kakek Lo Kun.
"Ai. engkau ini memang seorang kakek yang bodoh. Sudah.tentu dengan perekat." kata kakek Kerbau Putih.
"Setan kerbau, jangan omong seenakmu sendiri balas kakek Lo Kun "disini mana ada perekat ?"
"Mengapa tak ada ?" jawab kakek Kerbau Putih, "bukankah tadi masih, ada sisa bubur? Nah, kita manfaatkan sisa bubur
itu."
Kakek Kerbau Putih terus menghampiri ke tempat mangkuk. Memang masih terdapat sisa bubur. Ia mengumpulkan sisa bubur itu lalu menghampiri ke tempat Blo'on lagi.
"Duduklah, dan jangan goyang," perintahnya kepada Blo'on. Ketika anak itu duduk, kepalanya terus dilumuri sisa bubur, diusap-usap sampai rata. Setelah itu ia mengambil konde rambut lalu dipajangkan di kepala Blo'on.
"Setelah kering konde rambut tentu akan melekat " kata kakek Kerbau Pulih dengan bangga. Demikian setelah masing-masing berdandan dan menyaru seperti ketiga bujang perempuan, mereka terus keluar.
"Eh, bagaimana kalau ketiga bujang itu bangun" tanya Blo'on.
"Sudah, keikat semua" kata kakek Kerbau Putih
Sebelum pergi, mereka menutup pintu batu dahulu. Setelah itu mereka berjalan menuju ke sebuah bangunan. Mereka tak tahu keadaan tempatitu, Sambil berjalan, mereka memandang kian kemari.
Tiba-Tiba mereka dikejutkan oleh munculnya seorang perempuan yang terus meneriakinya : "Hai mengapa kalian bertiga enak-enak jalan-jalan ? Hayo. lekas bantu aku menyediakan arak."
Dan tanpa menunggu jawaban, perempuan itupun terus menuju kebelakang gedung. Blo'on dan kedua kakek terpaksa mengikuti,
Ternyata mereka tiba dibagian dapur. Perempuan itupun salah seorang bujang perempuan markas Partai Melati,
"Malam ini empat orang nona kita, hendak bersenang-senang. Kita diperintah untuk mengantarkan hidangan dan arak wangi," kata bujang perempuan itu.
'O." kakek Kerbau Putih mendesah singkat "lalu bagaimana?"
"Engkau ci Bwe" kata bujang perempuan itu kepada kakek Lo Kun yang menyaru sebagai bujang perempuan tua yang bernama Gu Bwe, "mengantarkan arak ke ruang Lok-hun
tong."
"Uh," kakek Lo Kun mendesuh, "siapa disitu,?"
"Eh, ci Bwe, mengapa malam mi suaramu berobah parau?" tiba-tiba bujang perempuan itu bertanya "Anu , . a . . entah .. mungkin masuk angin" cari alasan.
".O. minum arak. supaya badanmu hangat dan Sembuh dari masuk angin," kata bujang perempuan itu.
"Ya, benar," kata kakek Lo Kun terus menyambar sebuah guci arak ialu diteguknya sampai habis.
Blo'on dan kakek Kerbau Pulih terkejut. Hendak mencegah tetapi sudah tak keburu lagi.
"Eh, ci Bwe hebat benar minummu malam ini." seru bujang perempuan itu, "biasanya secawan saja engkau sudah pusing, mengapa malam ini engkau dapat menghabiskan seguci ?"
Lo Kun gelagapan : "Anu . . badanku meriang sekali dan kepingin minum arak . . "
Untunglah bujang perempuan itu tak mau bertanya lebih lanjut. Ia berkata : "Dan engkau ci An" katanya kepada kakek Kerbau Putih. "Engkau yang mengantar ke ruang Bi hun-tong. Disitu nona Sui Kim-han hendak merayu anakmuda bagus yang ditawan kemarin."
"Ya." sahut kakek Kerbau Putih singkat.
"Nanti dulu." kata kakek Lo Kun tiba-tiba. "Siapa yang harus diantari arak itu ?"
"Nona Ting San-hoa bersama putera tihu dan Hong-yang-hu. Rupanya nona San-hoa jatuh hati dengan pemuda itu. Sejak pemuda itu dibawa kemari, selalu nona San hoa saja yang menemani yang lain tidak diperkenankan.
"Uh" Lo Kun mendengus.
"Uh bagaimana ?" tiba-tiba bujang perempuan itu menegas. "Tidak apa-apa" jawab Lo Kun.
"Mengapa engkau mendengus ?"
"Apa tidak boleh ?" balas Lo Kun,
"Eh. ci Bwe. mengapa malam ini engkau berobah galak? Biasanya engkau ceriwis dan genit, mengapa malam ini engkau begitu benci? dan dingin?"
"Masuk angin!" karena jengkel Lo Kun membentak.
"Ya, ya, sudahlah, jangan galak-galak "' kata bujang perempuan itu tertawa. "dan engkau A moy antarkan arak kepada nona Siu-lan diruang Hui-hun tong Dia sedang akan menundukkan Seorang guru silat yang bekerja pada tihu Hong-yang-hu,"
Tiada penyahutan sama sekali.
'Hai. engkau dengar tidak A-moy ?' tiba-tiba bujang perempuan itu memandang Blo'on.
"Siapa ??' Blo'on terbeliak kaget,
"Siapa lagi kalau bukan engkau ? Bukankah engkau bernama A-moy ?"
"Uh. ya, ya " Blo'on menyeringai.
"Eh. A-moy, mengapa malam ini engkau jadi aneh" tegur bujang perempuan itu.
"Aneh ? Apa yang aneh ?"
'"Engkau seperti orang tolol. Masak kupanggil namamu, engkau diam saja. Apa engkau juga sakit ?"
"Ya, tadi telingaku kemasukan semut. Sampai lama semut itu baru mau keluar," kata Blo'on sekenanya saja.
Bujang perempuan itu tertawa : "Hi, hi. salahmu sendiri mengapa menaruh telinga disembarang tempat."
"Dan engkau sendiri mengantar kemana ?" cepat kakek Kerbau Putih bertanya agar bujang perempuan itu jangan mendesak Blo'on dengan macam-macam pertanyaan, ia kuatir anak itu tak dapat menjawab dan ketahuan belangnya.
"Aku ?" bujang perempuan yang berumur tigapuiuhan lebih itu tertawa, "aku akan mengantar arak ke ruang Biau-hun-
tong."'
"Siapa yang berada disitu ?'
"Nona Hun-hun ... " kata bujang itu, "ah kasihan nona Hun-hun. Dia yang mendapatkan seorang pemuda tampan, tetapi pemuda itu masih disimpan oleh nona San-hoa. Dan sebagai penghibur, nona Hun-hun diperbolehkan melayani seorang imam tua ... "
"Imam tua " kakek Kerbau Putih terkejut.
"Ya, imam tua yang datang bersama guru silat kantor tihu Hong-yang Itu ,dan seorang pemuda cakap."
"Mengapa engkau memilih mengantar arak kesana ?" tanya kakek Kerbau Putih pula.
"Biarlah, aku kasihan pada nona Hun-hun" sahut bujang perempuan itu, "hayo, lekas antar..Nanti nona-nona itu marah kalau menunggu terlalu lama".
Bujang perempuan itu terus membawa sebuah, penampan berisi guci arak, cawan dan manisan. Ia tak menghiraukan ketiga kawannya itu. terus mendahului keluar.
Kedua kakek dan Blo'on bingung, Mereka segera mencari penampan dan tempat simpanan arak "Hola. rejeki nomplok," seru kakek Lo Kun ketika mendapatkan tempat simpanan arak itu penuh dengan guci arak. Ia mengambil seguci arak membuka sumbatnya dan : "Amboi , . . sungguh wangi benar arak ini , , . " terus diteguknya dengan nikmat sekali.
"Wah. kalau begini naga-naganya, memang lebih enak jadi bujang perempuan disini." kakek Lo Kun masih mengoceh.
"Setan pendek" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru cemas "jangan gila-gilaan. Kalau engkau sampai mabuk, engkau tentu ketahuan dan tentu akan dijebloskan dalam tahanan lagi. Hayo, lekas kita mengantar arak."
Demikian ketiganya setelah mengisi penampan dengan guci dan cawan arak serta sepiring manisan, merekapun terus
melangkah keluar.
"Hai ... " tiba-tiba Blo'on berseru kaget.."kemana kita harus mengantarkan arak ini ?"
"Mati . . .!" kakek Lo Kun berhenti serentak
"Ya, kemanakah kita harus mencari nona-nona itu ?"
Akhirnya kakek Kerbau Putih yang memecahkan kesulitan itu. katanya : "Mari kita jalan terus. Asal melihat ruangan kita masuki saja."
"Ya, ya benar begitu." kata kakek Lo Kun.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi menyusur lorong dalam sebuah bangunan gedung besar.
Tiba-Tiba mereka mendengar suara seorang gadis tertawa : "Ai. engkoh Pik-giam. mengapa malam ini engkau begitu lesu
?"
"Ah, nona Ting." terdengar seorang pemuda menghela napas, "aku benar-benar letih sekali. Tenagaku serasa habis ."
Nona itu tertawa mengikik : "Ah, engkau si orang pemuda yang gagah, masakan baru setengah bulan saja sudah loyo ?"
"Ya, tetapi kalau tiap malam aku harus bermain dua tiga kali mana aku kuat ?" suara pemuda itu agak penasaran.
Si nona tertawa puia : "Ya ya baiklah, Malam ini kita cuma satu kali saja . . "
"Tetapi nona Tin" seru pemuda itu, "aku benar-benar sudah tak kuat. Sukalah nona memberi istirahat barang dua tiga malam saja."
"Dua tiga malam ?" menegas nona itu, "ah jangan begitu, engkoh Pik-giam. Apakah engkau tak kasihan kepadaku?"
Mendengar itu Kakek Putih berbisik : "Rupanya yang berada dalam kamar ini nona Ting bersama Pik-giam. Kalau tak salah. nona Ting itu tentu Ting San-hoa dan Pik-giam itu. tentulah Kho Pik-giam. putera tihu dari Hong yang-hu itu."
Kakek Lo Kun dan Blo'on mengangguk.
"Baiklah aku saja yang masuk. Nona itu bengis dan ganas, kalau engkau berdua sampai ketahuan tentu dibunuh. Aku dapat melihat gelagat".kata kakek Kerbau Putih.
"Lalu aku ?' tanya kakek Lo Kun dan Blo'on serempak.
"Engkau berdua terus jalan kernuka. Pada setiap kamar, dengarkan pembicaraan orang di dalamnya, baru kalian boleh masuk" kala kakek Kerbau Putih, "nanti berkumpul di dapur
lagi."
Kakek Lo Kun dan Blo'on terus lanjutkan berjalan kemuka dan kakek Kerbau Putih lalu mengetuk pintu.
"Siapa ?" terdengar suara si nona.
"Bujang yang mengantar arak," sahut kakek Kerbau Putih.
"O. masuklah." seru nona itu pula.
Kakek Kerbau Putih segera mendorong daun pintu dan melangkah masuk, "ini araknya nona " ia segera menaruhkan arak di atas meja dan terus hendak berlalu.
"Tunggu dulu" seru nona itu yang bukan lain Ting San hoa murid pertama Hu Yong siancu. Ia menghampiri meja. mengambil guci arak dan menciumnya : "Ah, kurang wangi. Kemarilah engkau !" ia melambai pada kakek kerbau Putih, Setelah kakek Kerbau Putih menghampiri, nona itu segera membisiki ke dekat telinganya : "Ganti arak ini dengan arak yang lebih wangi. Dan camppurilah dengan bubuk Bi-hun jiong-sing-tan, tahu'?"
"Dimana tempatnya, nona ?" kakek Kerbau Putih terkejut.
"Engkau tahu kamarku ?' tanya nona itu.
"Belum"
"Celaka." nona Ting San-hoa banting-banting kaki karena jengkel '"engkau tunggu dulu disini."
Kakek Kerbau Putih mengiakan. Setelah San hoa pergi, cepat kakek Kerbau Putih menghampiri pemuda itu : "Apakah engkau bukan Kho Pik-gi-am anak tihu dan Hong-yang-hu ? '
Pemuda itu terkejut : "Hah mengapa engkau tahu ?"
"St, jangan keras-keras waktu berharga sekali. Sebentar lagi nona itu tentu akan kembali " kata kakek Kerbau Putih, "aku bukah bujang di sini tetapi juga seorang tawanan yang menyaru jadi bujang. Bujang perempuan disini sudah kuringkus dan kulucuti pakaiannya."
"O," pemuda itu mendesuh kaget.
"Nona itu hendak mengambil obat suruh aku mencampurkan ke dalam arak, kuduga obat itu tentu obat perangsang . . '
"Uh," keluh pemuda itu. "aku tentu lekas mati karena kehabisan tenaga."
"Jangan takut" kata kakek Kerbau Putih "aku membawa obat kuat dan dapat memulihkan tenagamu dalam, waktu singkat."
Ia mengeluarkan pil merah, katanya : "Minumlah, tenagamu tentu pulih"
Pemuda itu masih bersangsi : "Tetapi bagaimana dengan obat perangsang yang pasti disuruhnya aku minum itu ?'
'Jangan takut" kata kakek Kerbau Putih pula "dia tentu suruh aku yang mencampurkan ke dalam arak. Sudah tentu takkan kucampuikan dan akan kuganti dengan lain obat"
"O, baiklah" kata pemuda itu terus minum pil merah dan menghaturkan terima kasih.
"St. kudengar langkah orang mendatangi, tentu nona itu. Jangan lupa. setelah tenagamu pulih. Engkau harus pura-pura menuruti kemauannya. Begitu ada kesempatan engkau harus cepat meringkusnya, tahu ?"
Pemuda itu mengiakan.
"Hai. kalian omong-omong apa saja itu ?' seru seorang nona dan masuklah Ting San-hoa kedalam ruangan.
"Ai, nona ini masakan mencemburui aku. perempuan tua
yang begini jelek. Masakan kongcu "
"Tetapi kudengar kalian bicara asyik sekali. Apa saja yang kalian bicarakan ?" masih San-hoa mendesak.
"Ah. tidak omong apa-apa" kata kakek Kerbau Putih. "hanya kongcu mengatakan ingin lekas mati saja."
"Mengapa ?" San-hoa terkejut.
"Dia rasakan tulang tulangnya seperti kering dan tenaganya habis, badannya lemah"
"O. tak apa. Nanti setelah minum arak obat dia tentu sehat kembali." kala San-hoa tertawa. Kemudian ia mendorong kakek Kerbau Putih, "lekas ambilkan arak Sari Melati."
Dalam mendorong itu, cepat sekali San hoa sudah susupkan bungkusan bubuk obat ke tangan kakek Kerbau Putih. Kakek Kerbau Putihpun segera keluar.
Tiba di lorong yang gelap kakek Kerbau Putih membuang bungkusan obat dari San-hoa itu lalu menuju ke dapur, ia memilih arak yang wangi lain memasukkan obat yang dibekalnya. Obat itu berkhasiat menyegarkan semangat.
"Nih. nona. arak San Melati yang nona perintahkan itu." katanya setelah kembali ke kamar.
San-hoa tersenyum girang dan menyambut. Lebih dulu ia suruh kakek Kerbau Putih, keluar. Tetapi kakek itu bersembunyi diluar kamar untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ai. mari engkoh, minumlah arak Sari Melati buatan kita ini." kata San hoa seraya mengangsurkan cawan, "arak ini dibuat dari sari bunga Melati, harum dqn menyegarkan Semangat, memulihkan tenaga "
"Ah. tidak nona." Pik-gi am pura-pura menolak. Walaupun ia percaya kepada kakek Kerbau Putih, tetapi ia harus menjalankan siasat juga agar nona itu tak menaruh curiga, "aku tak minta apa-apa kecuali minta libur malam ini. Biarlah aku beristirahat agar tenagaku kembali. Besok aku tentu akan melayani nona lagi sepuas puasnya."
Tetapi rupanya Sun-hoa sudah terlanjur di-rangsang nafsunya. Ia tertawa merayu : "Ai. engkoh Pik giam, masakan dinda hendak mencelakai engkau. Terus terang engkoh sejak ber-tahun-tahun ketemu dengan pemuda-pemuda yang datang kesini, belum pernah aku jatuh hati seperti pada diri engkoh. Harap engkoh jangan menyia-nyiakan kecintaanku"
"Ah, nona Ting," kata Pik-giam masih jual langkah, "akupun cinta kepadamu. Tetapi tubuhku benar-benartak mengizinkan Aku sungguh kehabisan tenaga. Aku tak mau mengecewakan engkau, nona."
"Ai. engkoh Pik-giam. cobalah engkau minum arak ini," kata San-hoa tetap membujuk, "kalau setelah minum arak engkoh masih tetap letih, ya tak apa-apa aku tak akan mengganggumu malam ini"
*'Ah. lebih baik jangan . .."
"Ai. engkoh masakan engkau tak percaya kepadaku. Masakan aku hendak mencelakai engkau. Minumlah engkoh, jangan kuatir. arak ini tak besi racun. Lihatlah, " San-hoa terus meneguknya habis lalu menuangkan lagi dan diberikan kepada pemuda itu "lihatlah, engkoh. Kalau arak ini beracun, biarlah aku ikut mati bersama engkoh"
Akhirnya Pik-giam menyerah, la menyambuti cawan arak itu lalu meneguk habis isinya. Kemudian ia pejamkan mata dan diam-diam salurkan peredaran darahnya untuk mengumpulkan tenaga-dalamnya.
Sebenarnya ia memiliki ilmusilat yang cukup lumayan. Tetapi karena ia gemar pelesir dengan wanita cantik tenaga-murni dalam tubuhnya susut banyak. Apalagi setelah berada di markas Partai Melati, keadaannya makin payah. Tiap malam ia harus melayani San-hoa. Nona itu ternyata besar sekali
nafsunya. Tiap malam Pik-giam dipaksa harus melayani
sampai dua tiga kali.
Hanya lebih kurang setengah bulan saja wajah Pikgiam berobah pucat seperta mayat. Tenaganya habis.
Beberapa saat kemudian ia rasakan tubuhnya mulai hangat, darah melancar gencar. Semangatnya muiai merekah dan tenaganya tampak mengumpul. Diam-diam ia girang.
"Mari engkoh, minum secawan iagilah, lihatlah, wajahmu sudah bertebar merah" kata San-hoa.
Tanpa banyak bicara Pik-giampun menyambutii dan meneguknya habis. Setelah itu San-hoa segera memeluknya dan mengecup bibir si pemuda
"Ah. engkoh yang manis, mari kita beristirahat di pembaringan" kata San-hoa lalu menarik tangan pemuda itu diajak naik ranjang.
Saat itu sesungguhnya Pik-giam sudah hendak menghantam, la benar-benar sudah muak akan nona itu. Memang sebelumnya, ia. seorang pemuda yang nakal, doyan plesiran dengan-wanita-wanita cantik. Tetapi setelah tiap hari harus melayani sampai dua tiga kali dengan nona yang tak kunjung puas nafsunya itu. akhirnya timbullah kemuakan Pik-giam.
Kemudian ia teringat akan pesan bujang perempuan tua yang memberinya obat tadi. Terpaksa harus menyabarkan hati dan menurut saja diajak naik ke ranjang. Ya. ia harus dapat memainkan agar jagan menimbulkan kecurigaan nona itu,
Begitu Pik-giam tiba di ranjang, terus didorong oleh San-hoa sehingga pemuda itu rebah terlentang Seperti seekor harimau betina yang lapar San hoa pun terus menubruk pemuda itu.
Biasanya Pik-giam terus menyambutnya dengan hangat dan keduanya tentu berpelukan dan bergumul bagai sepasang ular yang berlilitan, Tetapi saat itu tiba-tiba Pik-giam menjerit.
"Aduh. jangan menindih tubuhku, nona, "teriaknya.
"Mengapa ?" tanya San hoa.
"Aduh, tulang-tulangku masih lemas, tenagaku masih belum kembali dan tubuhku terasa lunglai, "kata Pik-giam setengah merintih.
"Apakah engkau tak merasakan sesuatu setelah minum arak tadi ?" tanya San hoa.
"Ya, tubuhku terasa hangat, darahku serasa mengalir deras. Tetapi tenagaku masih belum kembali. Mungkin harus beristirahat dulu beberapa waktu. Kasihlah aku mengasoh dulu barang setengah jam," kata Pik giam.
San hoa tertawa mengikik : "Ah. engkau memang seorang lelaki lemah. Masakan melayani seorang anak perempuan seperti aku saja engkau sudah tobat. Jika engkau diambil suhuku supaya melayaninya, engkau tentu sudah tak dapat jalan lagi'
"O. apakah Hu Yong siancu itu juga besar sekali napsunya ?" tanya Pik-giam .
"Jauh lebih hebat dari aku" kata San-hoa tersenyum, "suhu memiliki ilmu istimewa. Dia sanggup meladeni sekaligus sepuluh lelaki dalam satu malam. Tetapi dia tak mau sembarangan bermain dengan orang lelaki. Yang dipilih kebanyakan tentu yang masih jejaka."
'O mengapa ?" tanya Pik-giam. "Katanya bisa untuk obat awet muda." Kata San-hoa dengan senyum cabu!. "dan nyatanya memang begitu. Engkau tahu berapakah, usia suhuku itu ?'
Pik-giam merenung sejenak lalu menyahut " Paling banyak tentu baru empatpuluh tahun."
San-hoa tertawa : "Sebenarnya suhu sudah berusia hampir limapuluh tahun. Tetapi dasar parasnya cantik dan pandai merawat kecantikannya serta sering mencari jejaka, dia tampak masih seumur wanita muda yang berumur tigapuluh tahun"
"Engkoh, aku akan membantumu agar tenagamu cepat pulih." kata San-hoa. Nona itu terus membuka bajunya lalu melolos kun atau celana panjang
Kini dia hanya mengenakan pakaian dalam celana dan kutang.
Melihat itu berdebarlah hati Pik-giam. Darah berggelora keras dan ia rasakan tenaganya bertambah. Ia memandang nona itu dengan bengong
"Engkoh. mungkin kalau begini, engkau tentunya lebih girang lagi." habis berkata San-hoa terus menanggalkan kutang dan membuka celana dalamnya .Kini nona itu benar-benar bugil.
Darah Pik-giam makin menggelora keras.
Matanya menyala merah. Mulut berulang kali harus menelan kembali airliurnya yang hendak menetes keluar.
Walaupun tiap malam ia menikmati tubuh si nona tetapi setiap kali ia memandang tubuh si-jelita yang putih mulus dan berhias sepasang buah dada yang menggelembung padat, selalu saja darahnya mendidih dan nafsunya berkobar.
"Engkoh, marilah, tubuh ini milikmu. Terserah engkau hendak mengapakannya." kata San-hoa dengan meramkan mata seperti orang yacg pasrah diri.
Hampir saja Pik-giam tak kuat menahan gejolak nafsunya yang sudah berkobar itu, ia ulurkan kedua tangannya hendak meraih : "Manisku kemari ... "
Bagaikan seekor anak domba. San-hoa maju merapat kepada Pik-giam Ketika tangan Pik giam meraihnya, dengan sengaja nona itu jatuhkan diri dengan buah dadanya menimpa muka Pik giam.
Hawa harum semerbak, tubuh yang halus dan buah dada yang montok, menyebabkan Pik giam terbuai-buai dalarn langit tujuh lapis. Dipeluknya nona itu erat-erat dan nona itupun paserah sepaserah-paserahnya. Mereka berpelukan dan bergelut mesra.
"Ah. engkoh mengapa engkau tak membuka pakaianmu ?" tiba-tiba San hoa menegur.
Teguran itu membuat semangat Pik-giam yang terbang melayang-layang, tersentak kaget. Serentak ia menyadari apa yang akan terjadi apabila ia melakukan permintaan nona itu. Dan serentak pula ia teringat akan pesan bujang perempuan tadi. Pun saat itu. ia rasakan suatu pemandangan yahg menyeramkan. Dalam pandangannya. Wajah San-hoa itu bukanlah wajah seorang nona yang cantik jelita melainkan telah berobah seperti searang kuntilanak yang menyeramkan. Menggigillah tubuh Pik giam. semangat meronta.
"Baiklah," tiba-tiba ia menyahut dan secepat kilat ia menutuk jalandarah dibawah buah dada San hoa.
Walaupun tenaganya belum pulih sama sekali tetapi karena tutukannya itu tepat mengenai jalandarah yang berbahaya, seketika menjeritlah San Hoa terus rubuh tak sadarkan diri lagi.
Pik-giam cepat loncat turun dari ranjang. "Berbahaya" gumamnya ketika teringat akan adegan beberapa detik yang lalu.
Tiba-tiba pintu dibuka dan bujang perempuan tuapun muncul.
"Bagus, engkau dapat melakukan rencana itu dengan baik sekali." seru bujang perempuan tua kakek Kerbau Putih
Pik-giam tersipu-sipu menghaturkan terima kasih kepada bujang perempuan itu yang tak disangkanya kalau kakek Kerbau Putih.
"Dimana nona itu ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Masih pingsan dlatas ranjang."
Kakek Kerbau Putih menghampiri dan menyingkap kelambu. Serentak ia menjerit : "Aduh, mati aku ... " ia terus meluncur mundur.
"Kenapa ?" tanya Pik-giam heran.
Kakek Kerbau Putih deliki mata : "Mengapa engkau tak menutupi tubuhnya ? Kalau aku melihat tubuh seorang nona dalam keadaan telanjang begitu, jantungku bisa putus, tahu !"
Pik-giam segera menghampiri ranjang, menutupi tubuh San hoa dengan selimut. Setelah itu ia bertanya : "Sekarang bagaimana aku harus bertindak?"
"Berapa lama rona itu akan pingsan ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Paling lama setengah jam. dia tentu sudah bangun. Mungkin tenaga tutukan masih belum keras," kata Pik-giam.
"O, kalau begitu ikat saja kedua tangan dan kakinya dan
sumbat mulutnya dengan kain supaya jangan dapat berteriak," perintah kakek Kerbau Putih.
"Mengapa tidak kita bunuh saja ?" tanya Pik-giam, "apabila nona semacam ini masih hidupi di dunia, temu dunia ukan selalu kacau saja."
"Kalau aku tak sampai hati. Apakah engkau tega membunuh seorang nona yang begitu cantik ?" seru kakek Kerbau Putih.
"Mengapa tidak ' habis berkata Pik-giam terus hendak mengambil pedang.
"Jangan " cegah kakek Kerbau Putih
"Mengapa ?" Pik-giam kerutkan dahi
"Menurut dugaanku, nona itu dulunya tentu seorang anak perempuan baik-baik. Tetapi setelah menjadi murid Hu Yong siancu, dia tentu dididik menjadi wanita cabul. Jadi yang salah ialah Hu Yong siancu. Dialah yang harus dibasmi."
"Benar." sahut Pik-giam. "tetapi nona itu sudah terlanjur rusak moralnya, Bukankah dia tetap akan melanjutkan sepak terjangnya. walaupun Hu Yong siancu sudah mati ?"
"Nah. itulah yang harus kita cari. Bagaimana caranya supaya dapat menyadarkan nona itu kembali ke jalan yang benar lagi," kata kakek Kerbau Putih.
"Hm. susah rasanya," gumam Pik-giam, "kecuali sudah mati, barulah nona itu akan tobat,"
Kakek Kerbau Putih merenung diam. Beberap saat kemudian ia berkata : "Aku masih curiga jangan-jangan dia diberi minum obat oleh Hu Yong siancu sehingga pikirannya berobah tak sadar. Lupa malu. lupa sifatnya sebagai seorang gadis. Ah, mungkin kekasihku Sun Li hoa juga rusak seperti nona itu Celaka ... "
Pik-giam terbeliak : "Kekasihmu ?"
"Ya."
"Siapa namanya ?"
"Sun Li-hoa."
"Sun Li-hoa itu kan seorang wanita. Bukan kah engkau juga seorang bujang perempuan ? Mengapa engkau mempunyai kekasih wanita ?" Pik giam makin heran.
' Goblok !" teriak kakek Kerbau Putih "aku bukan perempuan tetapi seorang lelaki. Aku hanya menyaru menjadi bujang perempuan saja."
'O." desuh Pik-giam. "lalu bagaimana kekasihmu bisa berada disini ?"
"Itulah yang akan kuselidiki." kata kakek Kerbau Putih, "aku ketemu dia dijalan. Dia mengendarai kereta dengan seorang lelaki menuju ke lembah ini".
Pik-giam garuk-gruk kepala. Tak habisnya heran nya memikirkan keterangan bujang perempuan itu.
"Engkau tentu tak percaya kalau aku seorang lelaki. Nih. lihatlah sendiri." habis berkata kakek Kerbau Putih terus menyingkap kain hitam yang menutup hidung sampai ke mulut. Dan tampaklah jenggotnya yang putih.
"Astaga i" seru Pik-giam, "jadi engkau ini seorang kakek
tua?"
"Engkau kira bagaimana ?"
"Tetapi mengapa engkau mernpunyai seorang kekasih bernama Sun Li-hoa ? Tentu dia seorang nona yang masih muda, bukan ?" tanya Pik-giam.
"Ya. memang kekasihku ita seorang nona muda yang cantik, anak tihu juga." kata kakek Kerbau Putih dengan
bangga.
"Sudahlah paman" kata Pik-giam mari kita cepat bekerja Bagaimana kita kerjakan nona itu?"
Kakek Kerbau Putih berdiam diri. Rupanya ia sedang cari akal bagaimana harus menyelesaikan San-hoa. Jika dibunuh, memang ia tak sampai hati. Tetapi kalau dibiarkan begitu saja, nona Hu tentu tak kapok dan tentu masih melanjutkan pekerjaannya menculik pemuda untuk diajak bersenang-senang.
"O. kita buat saja supaya dia jangan cantik Tetapi bagi mana caranya ?" kata kakek itu,
"Ada !" tiba-tiba pula Pik-giam berseru lalu lari menghampiri ketempat San-hoa yang masih pingsan. ia mengambil pedang. lalu dicukurnya rambut itu sampai kelimis,
"Hai. mengapa engkau melakukan begitu ? apakah engkau menghendaki supaya dia menjadi nikoh ?" seru kakek Kerbau
Putih.
"Kalau dia insyaf dan mau jadi rahib, itu memang bagus sekali" kala Pik-giam. "tetapi kalau tidak mau sekurang kurangnya dalam waktu beberapa lama Ini dia tentu malu keluar rnencari korban"
"Ah. tetapi engkau kejam sekali. Masak seorang nona yang cantik engkau cukur rambutnya begitu rupa ?" gumam kakek Kerbau Putih.
"Nona seperti dia pantasnya dilenyapkan dari dunia, Kalau hanya kehilangan rambutnya saja masih murah." jawab Pik-giam.
Kakek Kerbau Putih anggap omongan pemuda itu memang benar.
"Hayo. sekarang kita keluar mencari kawan ku yang sedang melayani nona lain." kata kakek Kerbau Putih terus melangkah keluar dan kamar Tetapi tiba-tiba ia berhenti dan berpaling : "Hai. tetapi engkau bagaimana ?"
"Apanya yang bagaimana ?" tanva Pik giam
"Aku sih menyaru jadi bujang perempuan! Anak buah Partai Melati tentu tak curiga. Tetapi engkau . . " sambil berkata kakek Kerbau Putih masuk, ke dalam kamar.
Keduanya segera, rnerundingkan cara bagaimana akan keluar untuk mencari si Bloon dan kakek Lo Kun
Biarlah mereka berunding. sekarang marilah kita ikuti dahulu kakek Lo Kun yang mengantar arak bersama Blo'on.
Ketika tiba disebuah kamar, mereka mendengar suara seorang nona tertawa dingin.
"Nah, biarlah aku saja yang masuk dan engkau carilah lagi kamar yang ada nonanya" kata kakek Lo Kun terus dia mengetuk pintu. Blo'on terkejut, dan bergegas-gegas melanjutkan perjalanan kesebelah muka.
"Siapa ?." seru seorang nona dengan nada geram.
"Bujang Bwe yang akan mengantar arak untuk nona." kata kakek Lo Kun dengan berusaha untuk memperkecilkan nada suaranya.
"Masuk !" seru nona itu pula dengau nada galak.
"Tetapi pintunya masih terkunci," kata kakek Lo Kun.
"Goblok" damprat nona itu. "putar saja tombolnya tentu pintu sudah terbuka !"
Kakek Lo kun heran mengapa nona itu marah-marah. Namun ia melakukan juga perintah itu, Setelah pintu terbuka, iapun melangkah masuk.
"Taruh di meja" kembali nona itu berseru ketus
Kakek Lo Kun mengiakan lalu menghampiri rneja dan menaruhkan penampan hidangan arak di atas meja.
Ternyata didekat meja itu terdapat seorang imam tua yang duduk di sebuah kursi. Imam itu mengenakan jubah dengan lukisan pat-kwa, Begitu juga topinya. Walaupun sudah tua tetapi imam masih gagah. Melihat Lo Kun. imam tua itu memandangnya dengan terlogong-longong heran Karena di pandang, kakek Lo Kunpun balas memandang. Ketika beradu pandang, keduanya sama terbeliak kaget
"Ini si imam tua yang kulihat dalam kuil beberapa hari yang lalu." gumam Kakek Lo Kun dalam hati.
"Ih. ini kan seperti patung yang terdapat dalam kuil di lereng gunung itu ? Aneh. mengapa patung bisa menjadi manusia hidup dan berganti jadi perempuan ?" diam-diam imam tua itupun berkata dalam hatinya.
Memang imam tua itu bukan lain ialah Soh Hun ki su atau pertapa Pencabut Nyawa yang bersama-sama Bok Jiang guru silat di kantor tihu dan pemuda cakap she Liok. hendak mencari putera tihu yang diculik gerombolan Partai Melati.
Rupanya gerak gerik kedua orang itu diperhatikan sinona cantik. Nona itu ialah Ong Hun-hun murid angkatan kedua dari Dewi Melati. Dia sebenarnya vang menculik putera tihu tetapi San-hoa hanya menghadiahi dia dengan seorang pertapa tua. Sedang putera tihu itu dimonopoli olen San-hoa sendiri. Sudah tentu Hun hun tak puas. Apalagi ketika melihat imam itu sudah tua, bermuka menyeramkan.
"Bibi Bwe,' seru hun hun kepada kakek lo Kun. "mengapa suaramu-berobah kecil ?"
Lo Kun gelagapan. Ia membuat nada suaranya kecil agar disangka seorang perempuan, tidak tahunya malah menimbulkan pertanyaan nona Itu
"Sial" gumam Kakek Lo Kun dalam hati. Lalu memberi alasan kalau dirinya malam itu agak masuk angin. .
"Tetapi dengan nada besar akupun bisa ju> f>a" kata kakek Lo Kun dcligan menggunakan nada suaranya sendiri yang aseli.
"Ih. bibt Bwe, sekarang engkau bertambah [?enit ya ?" kata Hun-hun.
Kakek Lo Kun menveringai : "Ai, nona ini mengapa suka mengolok-olok saja ?"
"Kalau tidak, mengapa jalanmu bergoyang kibul seperti bebek (itik) ?"
"Celaka" keluh kakek Lo Kun dalam rafi, "masakan jalanku benar-benar seperti bebek berjalan ?'
"Ah. telapak kakiku yang kanan memijak api maka aku terpaksa berjalan setengah pincang" masih kakek itu dapat mencari alasan.
"O, mengapa sekarang engkau memakai kerudung segala macam ?" tanya pula Hun-hun.
"Ai, nona. orang sudah tua, aku takut masuk angin maka kain kerudung ini untuk penutup mulut jangan sampai kemasukan angin" kata kakek Lo Kun dengan terbawa terpaksa walaupun hatinya mendongkol sekali.
Kata pula Huo-hun : "Tetapi memang malam ini engkau tampak beda dengan hari-hari yang lalu. Tambah cantik tambah genit."
„Ah. jangan suka mengolok-olok orangtua. Nona besok juga akan jadi tua," kata kakek Lo Kun agak kurang senang.
"Siapa mengolokmu ?" bantah Hun-hun "buktinya, imam tua itu memandangmu dengan pandang mata yang mesra, hi,
hi . . "
"Dia ?" kakek Lo Kun gelagapan. Hampir saja ia mengatakan kalau sudah pernah melihat imam itu di dalam kuil gunun, Tetapi untunglah pikirannya yang terang, mencegahnya.
"Ya. masa engkau tak merasa ?" kata sinona pula
"Lalu maksud nona ?"
"Kalau orang memandang begitu rupa. tandanya ada hati.
bibi Hwe"
"Masya Allah " seru kakek Lo Kun, "dia suka kepadaku ? Ah, dunia akan kiamat. Kalau matahari terbit dari sebelah barat, barulah hal itu kan terjadi'
"Engkau tak percaya ?" seru Hun-hun.
"Sudah tentu tidak sama sekali" bantah Lo Kun. "masakan rnendapat hidangan seorang nona semuda dan secantik nona, dia tak mau tetapi malah mau mencari bebek tua yang sudah alot dagingnva begini !"
"Jangan bilang begitu, bibi Bwe." kata Bau hun pula. "tanda jodohnya muda yang tua sama tua. Mungkin dia anggap, aku masih terlalu muda pantas menjadi cucunya maka dia tak suka. Tetapi engkau, bibi. memang tepat sekali menjadi isternya. Itulah sebabnya dia lebih memperhatikan engkau dari pada diriku,"
"Tidak ! Tidak!" teriak kakek Lo Kyn yang sudah Lupa untuk memperkecil nada suaranya dan menggunakan suaranya sendiri yang aseli. "setiap lelaki betapapun tuanya tentu lebih suka mendapat wanita yang masih muda, syukur masih gadis"
"Engkau tak percaya, bibi ?"
"Tidak "
"Hm. mari kita tanya saja kepadanya. Dia suka siapa." kata Hun-hun. "tetapi kalau dia menyatakan suka kepadamu, engkau harus mau mengganti tempatku. Engkau harus menemaninya disini, bibi Hwe."
"Eh. ah . . . tetapi nona hendak kemana ?" Kakek Lo Kun gelagapan.
"Tidur kekamar sendiri." sahut Hun-hun. "dan besok pagi apabila ditanya San-hoa toa-suci Jangan engkau bilang kalau engkau malam ini menggantikan tempatku menemani imam
itu," "Tetapi ... "
"Sudahlah, bibi Bwe. Engkau tolongi aku malam ini, besok kuberikan persen yang banyak."
"Tetapi kalau imam itu tak mau, bagaimana?"
"Mari kita tanya." kata Hun-hun lalu mengajak kakek Lo Kun menghampiri kehadapan Soh Hun Kisu.
"Totiang." seru Hun-hun, "malam ini sebenarnya totiang
diberi kesempatan untuk bersenang-senang menikmati keistimewaan sorga lembah Melati, akulah yang ditugaskan untuk menemani totiang malam ini. Tetapi totiang , . . "
"Tetapi bagaimana ?" seru Soh Hun kisu. Hun-hun mendekati kesamping pertapa itu lalu membisiki beberapa patah kata kedekat telinganya.
"Itulah sebabnya, karena malam ini diri kotor, aku tak dapat menemani totiang. " kata Hun-hun. Tetapi nona itu menggunakan ilmu menyusup suara Coan-bi-jip-hun. sehingga hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak tetapi tak terdengaran suaranya. Begitu pula yang dapat menangkap hanya Soh Hun kisu. sedang kakek Lo Kun tak dapat mendengar apa-apa.
"Totiang," tiba-tiba Hun-hun berseru dengan suara biasa iagi, "cobalah totiang memilih siapa yang harus menemani totiang malam ini. Aku tau bibi Bwe ini ?'
Soh Hun kisu muak dengan sikap nona itu. Sebenarnya ia bermaksud hendak menangkapnya tetapi kalah dulu. la telah ditutuk jalan darah lalu ditabur dengan bebauan wangi yang merangsang nafsu.
Tetapi setelah nona itu mengatakan kalau malam itu dirinya sedang kotor, lenyaplah nafsu pertapa itu." kemudian ia memandang kakek Lo kun. Teringatlah seketika ia akan patung yang berada dalam kuil. Timbul pikiraanya untuk menyelidiki diri perempuan tua itu.
"Hm, pokoknya wanita, kalau engkau memang tidak bisa, diapun boleh saja, Malam ini aku lelah hendak kusuruhnya memijati kakiku" kata imam tua.
'Terserah," kata Hun-hun. pokoknya malam ini engkau boleh menyuruhnya apa saja."
Kemudian nona itu berpaling kepada kakek lo Kun dan membisiknya : "Ingat, jangan bilang pada toa-suci San-hoa besok kuberimu persen." habis berkata ia terus melangkah keluar.
Sekarang hanya tinggal kakek Lo Kun bersama pertapa Soh Hun ki-su Keduanya saling berpandangan mata.
"Hai. bukankah engkau yang jadi patung dalam kuil dilereng gunung itu ?"' tegur Soh Hun kisu
"Aku manusia bukan patung" sahut kakek Lo kun.
Ya, sekarang ini" kata Soh Hun kisu. tetapi malam itu engkau jadi patung dalam kuil "
"Mengapa engkau mengatakan begitu ?"
"Karena aku tahu sendiri."
"O, apakah engkau imam yang makan bak pau di kuil gunung itu ?" tiba-tiba kakek Lo Kunpun teringat juga,
"Benar, kalau begitu engkau ini benar patung itu." seru Soh Hun kisu "tetapi mengapa engkau jadi manusia ?"
"Ya, aku memang manusia hidup tetapi itu waktu aku memang harus jadi patung dulu."
"Mengapa ?"
"Karena kalian bertiga dalang, aku kuatir kalau kalian ini bangsa penjahat maka terpaksa menjadi patung." Lo Kun menerangkan dengan sejujurnya setelah tahu bahwa imam itu bukan bukan penjahat.
"Tetapi engkau ini laki atau perempuan!" tanya pula Soh Hun ki-su.
"Gila. sudah tentu lelaki seperti engkau'
"Mengapa sekarang seperti orang perempuan.?"
"Stt. jangan keras kalau bicara," kata kakek Lo Kun lalu berjalan keluar kamar. Sejenak kemudian ia masuk kembali "aku terpaksa menjadi seorang bujang perempum disini agar dapat menolong orang-orang yang ditawan. Eh. bagaimana juga ditawan mereka '"
"Kami bertiga dijebak oleh mereka dikepung oleh barisan nona-nona cantik anak buah Melati. Barisan mereka memang hebat benar. Kami bertiga tak dapat memecahkan barisan itu malah akhirnya dirubuhkan"
"Celaka, engkau kalah dengan anak-anak perempuan saja?" tanya Kakek Lo Kun.
"Ya. karena mereka menggunakan obat asap yang membikin lemas tenaga. Pada saat pertempuran berlangsung seru. beberapa nona itu menaburkan bubuk wangi yang membuat kita pusing terus tubuh tak sadarkan diri. Setelah sadar, tahu-tahu kita sudah ditawan disini"
"O, di manakah kedua orang kawanmu ?" tanya kakek Lo Kun pula.
''Itulah yang akan kutanyakan kepadamu barangkali engkau tahu" jawab imam Soh Hun kisu. "aku sendiri tak tahu dimanakah mereka ditawan"
"Ya, memang merekapun mengalami nasib serupa dengan engkau," kata kakek Lo Kun, "tetapi dua orang kawankupun sedang mengantarkan arak ke tempat mereka."
"Bagaimana engkau tahu ?" tanya Soh Hun kisu heran.
Kakek Lo Kun lalu menuturkan pengalaman mereka selama masuk ke markas Partai Melati.
'O. sungguh tas kukira, manusia-manusia patung seperti kalian ternyata mampu keluar dari tawanan lalu bahkan hendak menolong kami." kata Soh Hun ki-su memuji
'Sudahlah jangan banyak bicara," bentak kakek Lo Kun, "sekarang kita masih berada dalam sarang harimau. Yang perlu kita harus lekas cari daya bagaimana keluar dari sini"
Soh Hun kisu makin kagum terhadap kakek yang tampak seperti orang tolol itu. Ia menyetujui
"Sekarang kita harus menolong kedua orang kawanku itu dulu setelah itu baru kita beramai ramai menolong putera tihu Kho kongcu," kata Soh Hun kisu.
"Ya." kata kakek Lo Kun.
Tetapi ketika Soh Hun kisu sudah melangkah keluar kakek Lo Kun masih belum angkat kaki.
"Hai, mengapa engkau masih disitu ?" seru Soh Hun kisu.
"Yang penting aku harus menghabiskan arak ini. Sayang kalau dibiarkan disini," kata kakek pendek itu seraya menenggak dengan nikmat.
Beberapa saat kemudian barulah kakek itu melangkah keluar
"Sebaiknya engkau berjalan di belakangku saja agar jangan sampai ketahuan mereka" kata ka kek Lo Kun.
Soh Hun kisu terpaksa menurut. Mereka hendak mencari si Blo'on, Baru beberipa langkah berjalan, mereka melihat seorang bujang perempuan berjalan mendatangi.
"Celaka. itu bujang perempuan yang memerintah aku mengantar arak. Hayo lekas kemba masuk kedalam kamar saja" kata kakek Lo Kun seraya terus mendorong Son Hun Ki-su memasuki kamar lagi.
"Mengapa ini ?" Soh Hun kisu tak habis heran "mengapa engkau begitu ketakutan?"
"Dia datang kemari !"
"Siapa ?"
Kakek Lo Kun lalu menerangkan bagaimana ia disuruh bujang itu untuk mengantar arak. Kemudian dia membisiki Soh Hun kisu bagaimana untuk menyiasati bujang itu nanti
Yang datang itu ternyata memang bujang yang menyuruh kakek Lo Kun, kakek Kerbau Putih dan blo'on mengantar arak.
Nama bujang perempuan yang masih muda itu ialah Sui Kiong, Biasanya dipanggil Kiong saja.
Begitu tiba di depan kamar, ia terus mengetuk pintu : "Hayo. lekas buka pintu "
"Aduh ampun tuan . . " tiba-tiba terdengar suara orang mengaduh kesakitan dari dalam kamar, suara seorang wanita.
Bluk. bluk . . "aduh. jangan, jangan tuan, Aku sudah kapok" . . , terdengar suara pukulan dan rintihan seorang wanita.
Bujang Kiong mengetuk pintu lagi. Dan tak lama pintu tampak dibuka, wajah kakek Lo Kun menonjol.
"Ci An, engkau di . , "
"Kurang ajar engkau" tiba-tiba Kakek Lo Kun menampar pipi bujang itu. Bujang itu tak mengira akan diserang oleh bujang perempuan tua itu Ia ter-huyung*.
"Ci Bwe !'" teriak bujang kiong "mengapa engkau menampar aku?"
"Mengapa tidak ?" bentak kakek Lo Kun "karena engkaulah maka aku sampai dipukuli imam iblis itu " ,
"Mengapa ?" tanya pula bujang Kiong.
"Nona Hun tak mau meladeni imam tua itu dan suruh aku yang melayani. Celaka, imam itu marah lalu menempeleng
aku."
"Kenapa tak mau ?"
"Setan engkau !" bentak kakek Lo Kun "karena katanya aku sudah tua. Dia minta yang muda"
"Ah, ci Bwe maafkan, tetapi aku tak sengaja" kata bujang Kiong itu, "memang semula rencsnanya nona Hun-hun tidak disini tetapi entah bagaimana nons Kim-lian telah ganti acara. Dia tukar kamar dengan nona Hun hun,Tadi aku masuk kekamar nona Lian dan terus disuruh keluar saja Mestinya yang kucari adalah tempat nona Hun hun
"Setan." gum »ni kakek Lo Kun, "lain kali engkau harus hati-hati Kalau salah masuk tentunya engkau harus cepat-cepat keluar dan memberitahu aku. Masa begini, orang tua suruh mewakili meladeni seorang imam tetapi malah ditempeleng imam itu,"
'Sudahlah ci Bwc" bujang Kiong menghibur, "besok kubelikan baju baru, Silahkan engkau kembali aku yang akan meladeni imam itu."
Kakek Lo Kun keluar tetapi dia masih berada diluar kamar untuk mendengarkan yang terjadi didalam kamar itu.
"Ai, tuan, maafkan nonaku tadi." kata bujang Kiong. dengan suara genit, "sebenarnya yang disuruh mengantar arak kemari itu aku, tidak tahunya bujang perempuan itu lancang. Kalau tuan marah itu memang sudah pantas. Masakan perempuan se tua itu tak tahu diri mau meladeni tuan"
Soh Hun kisu hanya tertawa hambar.
"Apakah tuan masih marah kalau aku yang meladeni tuan?" tanya bujang Kiong sembari maju menghampiri kemuka Soh Hun kisu, "bukankah aku masih muda dan montok? Ah. tuan belum tahu bagaimana rasanya, kuladeni. Kalau sudah tahu hm, tuan tentu tak mau dengan nona-nona itu. Mereka hanya cantik dan muda tetapi tak punya pengalaman. Beda dengan aku tuan. Tanggung tuan nanti tentu puas betul."
Soh Hun kisu hanya tersenyum. Dan bujang Kiong semakin berani, la maju merapat kemuka Soh Hun kisu, kemudian terus berjongkok.
"Ah. tuan tentu letih. Lepaskanlah sepatu mu dan silahkan tuan tidur dipembaringan. Nanti ku pijati kaki tuan" kata bujang Kiong seraya hendak melepas sepatu Soh Hun kisu.
"Siapa namamu ?" tanya Soh Hun kisu,
"Panggillah Kiong"
"O, bagus juga nama itu" kata Soh Hun Ki-su "apakah engkau benar-benar pengalaman ?"
"Tanggung tuan" kata si Kiong makin genit. "buktikan sendiri nanti, tuan pasti puas"
"Coba sekarang engkau lakukan cara bagaimana agar nafsuku bangkit. Aku sudah tua. sudah tiada nafsu akan wanita" kata imam tua itu.
"Jangan kuatir tuan" kata bujang Kiong, "tanggung tuan akan bangkit dan perkasa seperti seekor singa kelaparan nanti"
"Hm, jangan omong besar dulu. Awas kalau engkau gagal, engkau tentu kuhajar seperti perempuan tua itu !" bentak Soh Hun kisu.
Kiong tertawa genit, la lalu membuka bajunya pelahan-lahan setelah itu lalu celananya. Dengan gaya dan ulah yang genit dan cabul, segera ia mulai melepaskan kancing kutangnya. Satu demi satu dengan pelahan dan disertai lirikan mata dan gerak yang cabul.
Bagaikan seorang penari strip-tease atau telanjang, mulailah bujang Kiong mempertunjukkan keahliannya merayu dan memikat perhatian Soh Hun kisu dengan gerak tarian melepaskan pakaiannya.
Beberapa saat kemudian tampaklah bujang itu dalam keadaan telanjang bugil. Tetapi dilihatnya imam Soh Hun masih tetap duduk dengan tenang.
'Tuan apakah tuan tak ingin menikmati tubuhku ini ? Silahkan. tuan, silahkan. Mau yang mana, gigitlah . . kecuplah . . nikmatilah . . "
Bujang cabul itu makin merapatkan tubuhnya kehadapan Soh Han ki-su. seolah-olah suatu penyerahan yang paserah.
"Jangan bergerak." Seru Soh Hun ki-su, "Ya tubuhmu memang hebat. Pejamkanlah matamu biar aku dapat menikmati dengan bebas, lekas "
Bujang itupun menurut saja. Ketika ia menutup mata, Soh Hun kisupun lalu menutuk jalan darah di dadanya, Seketika bujang itupun rubuh tak ingat diri lagi.
Seiring dengan jatuhnya tubuh ke lantai maka masuklah kakek Lo Kun. Tetapi serentak dengan itu kakek itupun menjerit : "Petapa cabul!".
Sudah tentu Soh Hun kisu terlongong, "Mengapa engkau memaki aku ?" tanyanya.
"Engkau memang imam tua yang masih cabul mengapa engkau suruh dia telanjang bulat ?" tanya kakek Lo Kun pula.
Belum Soh Hun kisu memberi keterangan kakek Lo Kun sudah menudingnya pula : "Engkau apakan dia tadi. hai imam gila !"
"Kututuk jalan darahnva supaya pingsan," kata Soh Hun kisu.
"Tidak bisa" bantah kakek Lo Kun yang kumat angot linglungnya, "tentu engkau perkosa sehingga dia pingsan."
'Gila cngkaul" akhirnya marah juga imam itu. "masakan aku sudi dengan seorang bujang perempuan semacam itu '
"Sombongnya!" balas kakek Lo Kun. "buka kah engkau tadi juga mau dengan aku?' Kalau si orang bujang perempuan begini tua, engkau niat Tentulah dia yang. lebih muda. engkau lebih mau lagi "
Soh Hun kisu terlongong. kemudian marahlah ia ," "Engkau seorang kakek gila ! Siapa sudi dengan engkau ? Aku tadi kan hanya suatu siasat karena kutahu engkaulah yang jadi patung dalam kuil gunung itu"
"Ha. apakah benar begitu ?" kakek Lo Kun kerutkan dahinya.
"Jangan gila-gilaan begitu" kata Soh Hun kisu pula. "kalau aku memang mau, murid-murid Partai Melati yang cantik-cantik itupun aku bisa mendapatkan"
"Imam kurang ajar" tiba-tiba kakek Lo Kun berteriak pula sehingga Soh Hun kisu melongo. "Jangan engkau mengganggu nona-nona cantik di sini"
"Mengapa ?" Soh Hun kisu makin heran "apakah engkau orang Partai Melati ?"
"Bukan !" sahut kakek Lo Kun "tetapi diantara nona-nona cantik Partai Melati itu. salah seorang adalah isteriku Sun Li-hoa. tahu ! Awas. kalau engkau berani mengganggu isteriku, tentu kuhajar"
"Isterimu disini ?" Soh Hun ki-su makin tereliak heran.
"Ya," jawab kakek Lo Kun "Ingat, namanya Sun Li-hoa, orangnya cantik sekali '
"Hagatmana isterimu bisa masuk disini ?"
"Itulah yang akan kuselidiki sebabnya." kata kakek Lo Kun "dia temu ditipu oleh Hu Yang si se-cu atau kemungkinan tentu dipaksa dibawa kesini."
"O, kaiau begitu kita harus membebaskan" kata Soh Hun kisu. Tetapi sesaat kemudian ia bertanya heran, "tetapi engkau sudah tua bangka mengapa isterimu masih muda ? Bukankah nona-nona murid Partai Melati itu masih gadis-gadis yang berumur belasan tahun ?"
Kakek Lo Kun garuk-garuk kepala : "Itu aku sendiri tak mengerti mengapa dia masih tetap begitu muda dan cantik. Tetapi sudahlah jangan tanya . Nanti akan kuurus sendiri."
Soh Hun kisu memandang kakek Lo Kun
"Hai mengapa engkau mengawasi aku begitu" tegur kakek Lo Kun. "apakah engkau kira aku ini seorang perempuan..
Tidak, tidak! Aku lelaki"
"Memang kutahu engkau seorang kakek" jawab Soh Hun kisu "'hanya akan kuketahui, apakah engkau ini seorang giia atau linglung "
"Ho, sudah jangan pedulikan diriku. Sekarang kau mau keluar dan sini atau tidak. Kalau mau menolong kawan-kawanmu. lekas carilah bagaimana akan bertindak. Tak perlu mengetahui aku gila atau tidak !" bentak Lo Kun.
Sementara kedua orang itu berunding bagaimana mengatur langkah untuk keluar dan menolong kawan-kawannya, adalah di bagian kamar lain juga si Blo'on mengalami peristiwa yang mendebarkan.
Setelah tinggalkan kakek Lo Kun. Blo'on berjalan terus kemuka, Ia tak tahu tempat itu. Pokoknya asal berjalan saja.
Bila mendengar ada orang bicara dalam kamar, itulah kamar yang harus ia masuki
Tetapi hampir tiba diujung lorong, masih juga ia belum mendengar suara orang, la mulai bingung.
'"Celaka" kata Blo'on. "bagaimana ini ? Apakah aku harus kembali mencari bujang perempuan muda itu untuk menandakan tempatnya ?"
Hampir ia berputar tubuh terus hendak menuju ke dapur lagi. Tetapi tiba-tiba ia hentikan langkah. PiKirnya : "Ah. kalau bertanya kepadanya ia tentu marah. Ya, kalau hanya memaki saja masih mending. Tetapi kalau dia curiga terhadap diriku, bukankah penyamaranku bakal ketahuan ? Ah, lebih baik kupergi kelain tempat saja, mungkin dibagian sini tempatnya"
Blo'on terus berjalan melintasi halaman dan menuju kesebuah bangunan yang bercat merah. Bangunan itu mirip dengan sebuah bungalow yang indah. Memiliki sebuah halaman yang penuh ditanami bunga-bunga warna warni. Terutama bunga melati, bunga seruni, dahlia. mawar dan lain-lain.
Tengah Blo'on celingak celinguk masuk ke halaman serambi, tiba-tiba muncullah dua orang muda mudi yang bergandengan tangan. Rupanya, kedua pasangan itu habis dari kerkeliling taman menikmati pemandang di malam yang indah.
"Hai. siapa itu ?" tegur yang pemudi, seorang nona cantik, mengenakan baju biru muda.
"A-moy mengantar arak," sahut Blo'on. Rupanya kali ini dia benar-benar mengingat namanya si A-moy. agar jangan sampai ketahuan penyamaran nya.
'O, A-moay. bagus," seru gadis cantik itu dengan suara merdu, "bawalah masuk ... "
Habis berkata nona itu terus memimpin tangan sipemuda yang cakap masuk kedalam ruangan
"Taruh di mana nona ?" tanya Blo'on.
"Di meja batu kumala itu." seru sinona, "tetapi hati-hati jangan sampai tumpah,"
Setelah meletakkan penampan arak. Blo'on pun bertanya pula : "Apakah masih ada lain pesan yang nona hendak perintahkan ?"
"Ya. nanti dulu, jangan terburu-buru pergi," kata si nona cantik "sebenarnya aku masih akan menyuruh engkau mengambilkan apa. ah ... mengapa lupa! Cobalah, kuingat ingatnya dulu."
Blo'on tegak seperti patung. Ia memandang sinona. Seorang gadis berumur tujuh-delapan belas tahun, yang amat jelita. Kemudian ia berganti memandang si pemuda. Ah, seorang pemuda yang cakap. Ia merasa pernah melihat, tetapi lupa di mana.
Pemuda itupun balas memandang Blo'on. Di pandanginya juga Blo'on dengan tajam kemudian tampak ia kerutkan dahi.
"Engkoh Liok. engkau hendak makan apa?" tiba-tiba nona itu bertanya kepada si pemuda bagus.
"Aku?" sipemuda Liok gelagapan kaget. "ah, terserah apa saja."
Nona itu tertawa dan lontarkan sebuah lirikan mata yang tajam, kepada pemuda itu. Kemudian ia berseru kepada Blo'on "A-moay. ambilkan dendeng rusa di dapur untuk teman arak."
Blo'on mengiakan. Ia terus melangkah keluar dengan hati kebingungan. Dendeng rusa ? Dimana kah tempatnya ?
"Tak usahlah adik Lian," tiba-tiba pemuda Liok itu berseru mencegah, "aku tak lapar. Cukup kita minum arak saja."
"A-moay" tiba-tiba nona yang dipanggil Lian atau lengkapnya bersama Sui Kim-lian itu berseru memanggil Blo'on. Blo'onpun berhenti, "tak perlu mengambil dendeng rusa, tuan Liok tidak mempunyai selera makan dendeng,"
"Engkoh Liok. bagaimana acara kita malam ini ?" tanya Kim-lian dengan suara merdu merayu
"Minum arak sambil membuat syair," kata pemuda Liok tertawa, "kita adu syair, siapa yang kalah harus minum arak"
"O. mengapa mesti memeras otak membuat syair ? Bukankah lebih enak setelah puas minum ... kita terus tidur ?" kata sinona.
Pemuda Liok itu tertawa : "Ah, memang benar lebih enak. Tetapi sudah menjadi kebiasaanku selama belasan tahun, aku tak dapat tidur apabila belum membuat syair . . "
"Tetapi engkoh Liok, itu lain. Kita nanti tidak tidur, melainkan ..." nona itu tertawa la!u mencubit lengan sipemuda. Gayanya penuh kemanjaan yang merayu.
Pemuda itupun tertawa : "Ya. sudah tentu, tetapi justeru itulah yang kuusahakan. Habis membuat syair, semangatku tentu bertambah segar, pikiran terang dan gairahku lebih merangsang. Percayalah adik Lian, entah bagaimana, memang begitulah adat kebiasaanku'.
"O, jadi dengan membuat syair itu semangat engkoh akan lebih menyala dan tenaga engkoh akan bertambah jantan perkasa ?" tanya Kim-lian.
Pemuda Liok itu tertawa mengangguk.
"Apakah disini tersedia alat tulis dan kertas?" tanya pemuda Lioh.
"Tentu, sahut Kim-lian, disini sebenarnya tempat yang sering digunakan suhu untuk bersenang-senang menghibur diri."
"O," desah pemuda Liok, "lalu mengaapa engkau pakai? Bukankah kalau suhumu tahu, engkau akan dimarahi ?"
Nona itu tertawa "Suhu akan marah kepadaku? Oh, jangan kuatir engkoh Liok. Suhu tak mungkin marah kepadaku ?"
Pemuda Liok itu heran, serunya : "Mengapa begitu adik Lian? Apakah suhumu seorang yang sabar dan tak pernah marah ?"
"Ih, suhu seorang wanita yang bengis dan keras. Semua anak murid Partai Melati tiada yang berani membantah perintahnya. Tetapi terhadap diriku, entah bagaimana, dia selalu sabar dan sayang ... "
"Aneh," gumam pemuda Liok. "apakau karena engkau yang paling cantik dan paling cerdik diantara lain-lain saudara seperguruanmu?"
"Bagaimana engkoh melihat wajahku ini" Kim-lian balas bertanya.
"Cantik sekali," seru pemuda itu
Karena dipuji cantik oleh si pemuda, dada nona itu serasa meledak. Memang demikian sifat dari kaum wanita. Tua muda, besar kecil, tentu bangga dan gembira apabila dipuji cantik.
"Ah, aku sendiri juga tak tahu. engkoh Liok Mengapa suhu bersikap begitu kepadaku . . "
"Kalau tak ada sebabnya, tak mungkin dia pilih kasih begitu," kata pemuda Liok pula.
"Eh, mengapa engkoh begitu menaruh perhatian sekali kepada diriku ?" tanya Kim-lian.
"Apakah engkau tak senang kuperhatikan" pemuda Liok itu balas bertanya
Kim-lian tertawa makin manja : "Sudah tentu ergkoh Liok. Asal engkau sungguh-sungguh cinta padaku dan takkan menyia-nyiakan diriku".
Pemuda Liok itu tertawa : "Ah, adik lian. janganiah engkau menyangsikan janjiku. Tetapi engkau tahu adik Lian. Bahwa keluargaku itu seorang keluarga yang terhormat. Ayahku bekas cong tok (gubernur) keras adatnya. Kalau engkau ingin menjadi ingin menjadi isteriku selama-lamanya, engkau harus keluar dari tempat ini dan kembali ke jalan yang baik ... "
Kim-lian mendesis perlahan : "Ya, sebenarnya aku juga tak suka hidup dalam suasana begini. Tapi aku tak berdaya untuk meloloskan diri. Engkau tahu, engkoh Liok, suhu itu sakti dan bengis, siapa yang bersalah tak menurut peraturannya, tentu akan dibunuh."
"Tetapi mengapa dia begitu baik terhadap dirimu ?" tanya pemuda Liok itu pula.
"Ah, soal itu memang suatu rahasia. Semula aku sendiri juga tak tahu. Hanya secara kebetulan saja aku dapat mengetahuinya, tetapi, ah . . " nona itu menghela napas.
"Mengapa ?" pemuda Liok makin heran,
"Seorang jiwa telah menjadi korban .. "
"Ha!" pemuda Liok kerutkan dahi "Aku tak mengerti apa yang engkau katakan, adik Lian, maukah engkau menceritakan dengan jelas?"
Kim-lian tak lekas menyahut me!ainkan berdiam beberapa saat. Setelah itu baru ia berpaling kearah Blo'on yang masih tegak termangu-mangu mendengarkan pembicaraan.
"A-moy, mengapa engkau masih berada disini ? Apakah engkau hendak mencuri pembicaraan?" tiba-tiba Kim-lian menegur.
Blo'on gelagapan, sahutnva : "Bukankah nona belum menyuruh aku pergi ?"
"Setan." damprat rona itu, "apakah kalau tak kusuruh, engkau tetap berada disini ? Kurang ajar . . . "
Bio'on menyeringai : "Aku bukan setan, nona. aku A moay'. Akupun tidak kurang ajar karena tadi nona suruh aku tunggu dulu."
"Eh, engkau berani membantah aku?" Kim lian mulai naik darah. "kapan engkau belajar membantah kata-kataku ? Siapa yang mengajarkan engkau?"
"Aku sebetulnya tak berani membantah, tapi kupikir kalau aku diam saja, nanti nona tentu marah dan menganggap aku tak mempeduli nona. Habis, bagaimana aku harus berbuat ?" kata Bloon seraya rentangkan kedua tangannya.
"Sudahlah adik Lian." segera pemuda Liok melerai, "tak perlu ribut-ribut dengan seorang bujang Suruh saja mengambil air hangat untuk membersihkan muka "
Kim lian menurut lalu suruh Blo'on mengambilkan baskom berisi air hangat.
Setelah Blo'on pergi barulah Kim-lian merapatkan duduknya disampmg pemuda Liok. Ia mulai menuturkan sebuah kisah.
"Bermula aku memang tak tahu. Kuanggap Hu Yong siaucu itu adaiah suhuku yang telah merawat dan mendidik aku sedari kecil. Dan dia memang memperlakukan sebagai seorang rnurid, keras dan berdisiplin.
Pada suaiu hari dalam latihan ilmu silat yang diberikan, suhu mengharuskan aku loncat ke atas ssebuah karang yang tingginya hampir dua tombak. Beberapa suci dan sumoay ku ada yang dapat ada juga yang gagal dan jatuh. Aku gemetar.
"Lian, mengapa engkau gemetar ? Takutkah engkau ?" tegur suhu kala itu.
Kujawab bahwa hari itu badanku terasa tak enak dan kepalaku pening. Tetapi dia hanya tertawa dan tetap menyuruhku melakukan latihan itu.
Karena takut, akupun melakukannya juga. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku, aku berhasil mencapai puncak karang. Tetapi begitu tegak di puncak itu. kepalanya terasa pusing sekali, mataku berkunang-kunang dan rubuhlahaku kebawah . ."
"Ih," pemuda Liok mendesis, "lalu bagamana ?"
"Aku jatuh dari ketinggian dua tombak. Suhu dan beberapa saudara seperguruanku berhamburan hendak menyanggupi tetapi terlambat. Aku jatuh terbanting ditanah dan pingsan. Ketika aku membuka mata ternyata aku berada di kamar suhuku berbaring diatas pembaringannya yang mewah. Ternyata tulang punggungku patah sehingga aku harus dirawat selama beberapa bulan.
Ketika sakitku masih gawat, sadar tak sadar kudengar suara seorang wanita menangis terisak-isak. Ketika kurentangkan mataku, kulihat yang menangis itu suhu.
"Kim-lian, puteriku, mamah yang bersalah memaksa engkau harus berlatih loncat keatas punccak karang yang tinggi. Ah. anakku. engkau tak tahu betapa perasaan mamah. Kalau engkau sampai kena apa-apa, hancurlah hati mamah. Mamah sebenarnya cinta kepada ayahmu tetapi dia seorang lelaki yang tak kenal budi dan kasih seorarg isteri. Karena tak tahan menderita siksaan batin. kubawa engkau lari meninggalkannya. Dan engkau lah Lian, milik mamah satu-satunya di dunia ini. Kalau engkau . . engkau . , sampai kena apa-apa ah, bagaimana mamah . , dapat hidup . . seorang diri".
"Aku terkejut mendergar ratapan Suhu itu" kata Kim-lian kepada pemuda Liok, "apakah dia itu mamahku ?"
“Mengapa engkau meragukannya? Bukankah dia sudah menyebut siapa dirinya ?" tanya pemuda Liok
"Tetapi setelah aku sembuh kembali sikap dan perlakuan Suhu kepadaku tetap tak berobah. bengis dan keras." kata Kim lian, "itulah yang menimbulkan keraguanku. Namun aku tak berani menanyakan."
"Lalu apakah sampai sekarang engkau belum juga tahu ?" tanya pemuda Liok.
Kam-lian tidak langsung menyahut melainkan melanjutkan ceritanya ; "Pada suatu hari nenek Siong yang menjadi inang pengasuhku sejak aku kecil, sakit. Akupun menjenguknya. Dalam kesempatan itu aku menanyakan tentang diriku dengan suhu. Nenek Siong dengan terus terang menerangkan bahwa sesungguhnya aku ini memang putri suhu.
Aku terkejut mendengar keterangan itu lalu kudesaknya : "Lalu siapakah ayahku ? Apakah ia masih hidup ?"
"Namanya Sui Kim-san, seorang pemuda yang cakap dan sakti tetapi tak setia. Pada waktu Mamahmu mengandung, ayahmu main gila dengan bujang muda. Mamahmu marah lalu pergi merantau. Ah, kasihan ketika hari itu aku ke hutan mencari daun, kuketemukan mamahmu rebah pingsan dibawah pohon. Dia kubawa pulang. Setelah melahirkan engkau, dia menitipkan engkau kepadaku lalu melanjutkan pergi mengembara. Sepuluh tahun kemudian ia muncul lagi dan mengajak aku tinggal di lembah ini. Aku bukan nenekmu sesungguhnya, nak. Tetapi suhumu melarang aku menceritakan hal itu kepadamu. Itulah sebabnya maka aku mengatakan kepadamu bahwa ayah dan ibumu sudah meninggal dan engkau harus menganggap Hu Yong siancu itu sebagai ibumu sendiri."
"Aneh," gumam pemuda Liok. "mengapa seorang ibu tak mau mengaku terang terangan kepada anaknya sendiri. Apakah dia merasa malu karena mempunyai anak seperti engkau ?"
"Entahlah." kata Kim-lian."tetapi kuduga dalam peristiwa itu tentu terselip suatu rahasia Hanya sayang aku tak dapat memperoleh keterangan tentang rahasia itu dari nenek Siong."
"Mengapa ? Apakah dia tak mau menceritakan kepadamu ?" tanya pemuda Liok,
"Dia tentu akan menceritakan kepadaku" kata Kim-lian.
"Dan apakah tidak ?" tanya pemuda Liok
"Ya, dia tak menceritakan lagi karena ia tak dapat berceritait
"Mengapa ?" pemuda Liok terkejut.
"Keesokan harinya ketika aku datang ke tempatnya ternyata nenek Siong sudah meninggal dunia ..." berkata sampai dismi Kim-lianpun mengucurkan airmata.
""Ah. orang tua yang menderita sakit, sudah jamak kalau meninggal dunia." pemuda Liok menghiburnya.
"Tetapi aku heran, sorenya ketika kujenguk dia masih tampak sehat dan bicara dengan tangkas. Tetapi mengapa keesokan harinya dia sudah meninggal. Tidak mungkin," kata Kim-lian. "ya, kqrena penasaran aku segera melakukan penyelidikan. Akhirnya dapat kuketemukan bukti yang menyebabkan kematian nenekku. Teh yang diminumnya itu terdapat endapan bubuk putih ... "
"Racun ?" seru Pemuda Liok.
Kim lian mengangguk : "Ya, dia telah mati keracunan atau tepatnya diracuni karena berani, menceritakan rahasia diri suhu dan diriku . , "
"Ah," pemuda Liok menghela napas, "apakah salah menceritakan keadaanmu itu? Mengapa suhumu atau ibumu begitu benci kepada orang yang mengetahui rahasia itu ?"
Kim-lianpun mendesah : "Itulah engkoh Liok hal yang membuat hatiku dendam dan penasaran. Karena ibu bertindak begitu, akupun dingin juga kepadanya. Aku ingin lolos dari tempat ini untuk mencari ayahku. Apakah dia masih hidup. aku tak tahu. Dimanakah tempat tinggalnya, akupun tak tahu. Tetapi aku mendapat firasat bahwa dia masih hidup maka akupun hendak mencarinya ke seluruh penjuru dunia , "
Pemuda Liok termenung. Ia tak menyangka bahwa Lembah Melati yang terkenal sebagai sarang wanita-wanita cabul ternyata terdapat seorang gadis yang ingin melepaskan diri dari tempat itu. Dan gadis itupun bukan gadis sembarangan melainkan putri dari pemilik lembah Melati sendiri.
"Nona Lian," kata pemuda itu sesaat kemudian. "maaf. aku hendak bertanya kepadamu, harap jangan marah"
"Silahkan, engkoh," jawab gadis itu. "Apakah memang demikian perintah Hu Yong siancu agar anakmurid Partai Melati itu menculik lelaki dan melakukan perbuatan cabul dengan orang-orang tawanannya?"
"Ya, memang benar." jawab Kim-lian, "entah bagaimana suhu memang seperti orang yang penasaran dan membenci orang lelaki. Dia seperti hendak membalas dendam kepada setiap orang lelaki tampan. Diculik lalu dibuat permainan sepuas puasnya setelah itu dilempar keluar dari lembah.
"Apakah ayahmu juga seorang pria yang tampan ?" Tanya pemuda Liok.
"Entah," jawab Kim-lian '"karena aku belum pernah melihat bagaimana wajah ayah. Tetapi menurut kata nenek, memang ayah itu tampan sekali!"
"O, kalau begitu jelas ibumu itu penasaran terhadap ayahmu lalu menumpahkan dendam kemarahannya pada setiap pria tampan"
"Yah kemungkinan begitu" kata Kim-lian, "maka disuruhnya anak murid Partai Melati ini untuk mengikuti jejaknya. Tetapi aneh.. "
"Mengapa ?" tanya pemuda Liok pula.
"Berpuluh-puluh suci dan sumoay memang diberi kebebasan untuk mencari orang lelaki dan bersenang-senang dengan tawanan itu. Hanya aku yang dilarang"
"Ha" Pemuda Liok terbelalak.
"Ya memang suhu pernah memanggil aku empat mata. Dia memberi pesan tegas dan keras aku tak boleh main-main dengan orang lelaki. aku berani melanggar larangan itu. Tentu akan dihukum. Engkau tahu apa hukuman yang akan dijatuhkan jika kepadaku apabila aku berani melanggar larangan itu?"
"Entahlah," sahut pemuda Liok.
"Suhu akan merusak kecantikan wajahku ini, supaya aku menjadi gadis yang jelek. Kutahu sifat dan perangai suhu. barang siapa melanggar peraturannya tentu dihukum. Pernah seorang sumoay telah melanggar lalu dipotong daun telinga dan hidungnya. Karena malu. sumoay itu telah membunuh diri dengan membenturkan kepalanya ketembok"
"Dan apakah selama itu engkau tak berani melanggar pesan suhumu, walaupun secara diam-diam ?" tanya pemuda Liok pula
"Tak berani"
"Lalu mengapa sekarang engkau berani bergaul rapat denganku ?" tanya pemuda Liok tengah menyangsikan keterangan itu.
Kim lian tersipu-sipu menjawabnya "Ah, lain. Pertama kali aku melihatmu, entah bagaimana hatiku berdebar keras dan gelisah. Akhirnya aku menghadap Ting San-hoa minta izin agar aku yang melayani engkau "
"Apakah dia setuju ?"
"Tidak setujupun tentu akan setuju. Kan walaupun dia murid yang paling tinggi. Akan tetapi dia sungkan-sungkan terhadapku "
"Mungkin dia sudah tahu kalau engkau puteri dari suhumu" kata pemuda Liok
"Ya mungkin begitu " kata Kim-lian "memang bukan melulu dia, pun para suci dan sumoay disini memang sungkan kepadaku "
Dalam pembicaraan itu tiba-tiba pintu terdengar diketuk orang. Ternyata si Amoay Blo'on yang datang dan menyanggul sebuah ember besar di atas kepala.
"Taruh dihadapan tuan Liok" perintah Kim-lian
Ketika Blo'on meletakkan ember dihadapan pemuda Liok, tiba-tiba pemuda itu berseru tertahan.
"Ah, airnya begitu panas, masih berkepul"
Memang menggunakan kaki Kim lian merasa memang air yang di dalam embar itu masih panas sekali, nona itu marah dan mendamprat : "Goblok mengapa air untuk cuci tangan masih begitu panas ? Bukankan aku minta air hangat ?"
"Yang hangat habis nona" Blo'on memberi keterangan.
"Blo'on benar engkau!" bentak si nona itu pula "Kan mudah sekali mendapatkan air hangat. Asal engkau tambah sedikit dengan air dingin air panas ini tentu menjadi hangat"
"Blo'on ? siapakah yang nona panggil blo'on ?" Blo'on terkejut.
"Engkau yang Blo'on" bentak Kim-lian
"Ya benar. Bagaimana nona tahu ?" Blo'on makin heran dan mengira kalau nona itu sudah tahu bahwa namanya si Blo'on.
Kim-lian deliki mata "Apa maksudmu ?"
"Mengapa nona tahu kalau aku ini Blo'on ?" si Blo'on mengulang pertanyaannya.
"Suruh mengambil air hangat tetapi mengambil air yang begitu panas kalau tidak Blo'on lalu apa namanya ?"
"Ya, benar nona, engkau benar memang aku Blo'on. Hanya aku ingin tahu, bagaimana nona tahu kalau Blo'on"
"Gila" bentak Kim-lian makin marah "apakah engkau tidak tahu kalau arti Blo'on ialah goblok seperti engkau ini"
"Ah nona ini bagaimana ? bukankah sudah mengaku kalau ini Blo'on"
"Engkau memang gila ! Apa engkau hendak jual lagak di depan tuan Liok ini ?"
"Jual lagak ? Biar apa ?" Blo'on heran.
"Agar tuan Liok suka kepadamu !" kata Kim-lian, "engkau hendak meniru nona-nonamu yang lain itu. bukan ?"
"Tidak, tidak." cepat-cepat Blo'on membantah "aku tak ingin memikat tuan Liok. Pun andaikan tuan Liok suka kepadaku, belum tentu aku mau "
Plak . . . tiba-tiba Kim Lian menampar pipi Blo'on "Kurang ajar. Engkau berani menghina tuan Liok ?"
"Tidak, nona." kata Blo'on sambil mendekap pipinya yang merah "aku tidak menghina, tetapi mengatakan yang sebenarnya. Apabila tuan Liok menghendaki diriku. Akupun tak dapat melayani, karena, aku ini "
Tiba-Tiba Bio'on teringat kalau dirinya sedang menyaru jadi bujang perempuan. Maka ia hentikan Kata-katanya.
"Engkau bagaimana ? engkau sangat cantik ?" Kim-lian marah terus hendak menamparnya lagi.
Tetapi dicegah Pemuda Liok "Sudahlah adik Lian, jangan mengurusi bujang yang blo'on. Suruh saja ia membawa kembali air panas itu supaya diberi air dingin sedikit "
Karena yang menengahi pemuda Liok, Kim Lian jadi menurut : "Engkau bawa kembali ember itu dan tambahkan sedikit air dingin supaya hangat "
Blo'on mengiakan segera ia menghampiri ke tempat ember lalu mengambilnya, maka ember itupun disanjungnya diatas kepala.
Pemuda Liok memperhatikan dengan tajam diri bujang perempuan itu dan gerak geriknya. Ia mengerutkan dahi agak terkejut. Serasa ia pernah melihat wajah bujang itu tetapi entah dimana ia lupa.
Untuk menjaga jangan sampai orang curiga, maka Blo'on mengolah gerak jalannya. Ia tak berjalan dengan langkah lebar sebagai biasanya, melainkan dengan langkah yang bergoyang-goyang. Ia melihat bagaimana berlenggang lenggoknya seorang gadis apabila berjalan. Dan iapun mencoba untuk menirukan gaya itu.
Tetapi karena dia seorang anak lelaki dab blo'on maka gerak geriknya itu malah menimbulkan suatu gerak yang over acting atau berlebih-lebihan. Gaya jalannya seperti seekor bebek berjalan bergoyang pinggul...
Melihat itu pemuda Liok hampir tak kuat menahan gelinya. Tetapi tidak demikian dengan Kim Lian memandang tingkah laku si Amoay Bloon itu se akan-akan meledek
Ketika Blo'on tepat tiba di ambang pintu tiba-tiba Kim Lian berteriak " Amoay berhenti!"
Bloon terkejut lalu berputar tubuh. Pintu itu memang cukup tinggi tetapi karena menyanjung ember itu di kepala. Blo'on harus mengendapkan tubuh apabila akan melewati ambang pintu, supaya ember tidak melanggar palang pintu atas.
Karena mendongkol melihat tingkah laku Ah moay yang disangka hendak memikat perhatian pemuda Liok. Ketika ia melirik ke arah pemuda Liok memang dilihatnya pemuda itu mengawasi Ah moay dengan penuh perhatian. Diam-diam timbul kemarahan hati Kim Lian. Ia cemburu, maka dipanggilnya Blo'on dengan bentakan yang keras.
Blo'on sebenarnya sudah tahu kalau harus mengendapkan tubuh agar ember diatas kepalanya jangan sampai melanggar palang pintu. Tetapi begitu mendengar bentakan Kim Lian memangilnya ia terkejut sekali dan lupa untuk mengendapkan tubuh terus saja ia berputar tubuh hendak menghadap ke arah nona itu.
Prak.. ember itu membentur palang atas pintu dan seketika tumpahlah isinya.
"Aduhhh " menjeritlah Blo'on terus mendekap kepalanya.
Air itu mencurah ke kepalanya, karena air panas sudah tentu Blo'on menjerit ketakutan sekali. Ya bayangkan saja bagaimana rasanya kalau kepala disiram air panas itu.
Untuk mengurangi rasa kesakitannya. Blo'on berjingkrak-jingkrak dan menjerit-jerit.
Namun rasa sakit itu masih tetap tak berkurang. Dan karena bingung Blo'on pun segera lari seperti orang gila. Ia lari mengamuk kian kemari dalam ruangan itu.
"Hai Rambutnya copot"teriak Kim Lian demi melihat rambut palsu yand dipasang di kepala Blo'on itu meluncur jatuh ke lantai.
"Gila!" kembali nona itu menjerit bahkan kali ini lebih kaget dari yang tadi. Setelah Blo'on gundul kembali seperti asalnya. Kim Lian segera mendapat gambaran bahwa bujang itu tak mirip dengan Ah moay. Dan jelas dia itu seorang lelaki muda yang berkepala gundul.
"Mengapa ?" pemuda Liok bertanya heran.
"Dia... bukan Ah-moay" seru Kim-lian "dia itu jelas seorang lelaki yang menyaru jadi Ah-moay "
Blo'on terkejut
Bersambung
Subscribe to:
Posts (Atom)