Thursday, May 12, 2011

Kisah Pendekar Bongkok - Jilid 17

“Jangan takut, masuklah dan kami yang akan menghadapi gerombolan iblis itu!” Dan nampak dua orang pria yang gagah berlompatan keluar dari ruangan dalam. Mereka adalah dua orang pemuda yang berbangsa Han, berusia kurang le­bih dua puluh tujuh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi besar dengan muka per­segi dan sikapnya gagah. Orang ke dua bertubuh sedang, akan tetapi mukanya yang bulat itu penuh brewok yang rapi sehingga dia kelihatan gagah pula. Di tangan mereka nampak sebatang pedang.
Melihat mereka dan sikap mereka yang baik, Lan Hong segera memberi hormat. “Ji-wi taihiap (dua pendekar perkasa), tolonglah saya,....”
“Enci yang baik, jangan takut. Masuklah dan kami akan membasmi para penjahat itu!” kata yang tinggi besar dan dia berkata kepada orang ke dua yang brewok. “Sute, mari kita hadapi mereka, di depan kuil!” Mereka lalu berloncat­an keluar. Lan Hong cepat menyelinap di balik dinding dan ia mengintai keluar dengan jantung berdebar penuh kete­gangan, akan tetapi lega juga bahwa di situ ia bertemu dengan dua orang gagah yang siap membela dan melindunginya. Ia hanya dapat berharap agar kedua o­rang gagah itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk melawan pengeroyokdn sepuluh orang yang buas itu.
Sepuluh orang berpakaian hitam dengan gambar seekor kala putih di baju bagian dada, tercengang ketika melihat dua orang pemuda gagah berdiri di de­pan kuil dengan pedang di tangan, menghadang mereka.
“Heii, siapa kalian berani menghadang di depan kami? Hayo cepat mengge­linding pergi!” bentak seorang di antara sepuluh orang berpakaian hitam itu.
Pemuda yang tinggi besar itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah mere­ka sambil melintangkan pedang di depan dadanya yang bidang. “Hemm, sudah lama kami mendengar tentang gerombolan Kala Putih yang jahat! Ternyata kabar itu benar, gerombolan Kala Putih bukan ha­nya perampok dan perkumpulan penjahat keji, akan tetapi juga tidak segan un­tuk mengganggu wanita. Sudah sepantas­nya kalau kami membasmi gerombolan ma­cam kalian!”
Sepuluh orang itu terbelalak pe­nuh kemarahan mendengar kata-kata yang amat menghina itu. Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus, me­langkah maju. Agaknya ia mewakili ka­wan-kawannya dan dengan suara meleng­king tinggi diapun membentak.
“Kalian ini bocah-bocah ingusan hendak menentang Kala Putih? Perkenal­kan nama kalian lebih dulu agar kami tidak akan membunuh orang tanpa nama!”
Pemuda tinggi besar itu dengan lantang menjawab, “Kami tidak pernah menyembunyikan nama! Kami adalah murid murid Kun-lun-pai yang selalu akan me­nentang kejahatan. Namaku Ciang Sun dan sute ini adalah Kok Han!”
Memang dua orang pemuda perkasa itu bukan lain adalah Ciang Sun dan Kok Han, dua orang murid Kun-lun-pai yang berani itu. Mereka berdua diutus oleh ketua Kun-lun-pai, yaitu Thian Hwat Tosu, untuk pergi ke daerah Tibet mencari susiok (paman guru) mereka yang bernama Lie Bouw Tek. Lie Bouw Tek adalah murid kepala Kun-lun-pai, murid langsung dari ketua Thian Hwat Tosu dan karena Ciang Sun dan Kok Han adalah murid kelas tiga, maka Lie Bouw Tek terhitung susiok mereka. Mereka berdua mencari-cari Lie Bouw Tek dan membawa sepucuk surat dari ketua Kun-lun-pai untuk murid kepala itu. Seper­ti telah kita ketahui, dalam perjalan­an, mereka pernah berjumpa dengan Pen­dekar Bongkok Sie Liong ketika Sie Li­ong mempertemukan dua orang kekasih yang dipisahkan karena watak ayah si gadis yang mata duitan.
Mendengar bahwa dua orang pemuda itu adalah murid-murid Kun-lun-pai se­puluh orang berpakaian hitam itu menja di semakin marah. “Aha, kiranya orang-orang Kun-lun-pai yang usil dan gatal tangan, hendak mencampuri urusan kami orang Kala Putih! Kami tidak pernah bertentangan dengan Kun-lun-pai, sela­lu bersimpang jalan, kenapa hari ini ada orang Kun-lun-pai yang sengaja hen­dak menentang kami?”
Ciang Sun tersenydm mengejek. “Selama Kala Putih tidak melakukan keja­hatan, kami dari Kun-lun-pai tidak perduli. Akan tetapi, kami selalu akan menentang kejahatan yang dilakukan o­leh siapapun juga. Kalian mengejar-ngejar seorang wanita dengan niat yang kotor dan jahat, tentu saja kami menen­tang kalian!”
“Keparat, sekali lagi, pergilah kalian dan biarkan kami menawan perempuan itu! Kami masih memandang perkum­pulan Kun-lun-pai dan tidak akan menuntut atas sikap kalian yang lancang i­ni!”
“Persetan dengan Kala Putih yang jahat!” bentak Ciang Sun. Sepuluh orang itu tak dapat lagi menahan kema­rahan mereka. Kalau tadi mereka masih meragu dan mencoba untuk membujuk ada­lah karena mereka tahu bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah partai persilatan besar, dan mereka tidak ingin menanam permusuhan dengan perkumpulan itu. Akan tetapi, para anggauta Kala Putih selalu mengandalkan kepandaian dan ke­beranian mereka untuk melakukan keke­rasan memaksakan kehendak mereka, maka melihat sikap kedua orang murid Kun-lun-pai yang menentang itu, merekapun segera mulai menyerang!
Ciang Sun dan sutenya, Kok Han, menggerakkan pedang mereka menyambut serangan golok dan terjadilah perkela­hian yang seru. Sepuluh batang golok berkelebatan dan sinarnya, ketika ter­timpa matahari sore menyilaukan mata. Namun, gerakan kedua orang murid Kun-lun-pai memang indah dan dua orang ini merupakan murid yang cukup pandai se­hingga pedang mereka berubah menjadi dua gulung sinar yang amat kuat, yang mampu menahan semua serangan golok, bahkan sinar pedang itu mencuat ke sa­na-sini melakukan serangan balasan yang membuat sepuluh orang anggauta Kala Putih itu menjadi kacau balau dan terdesak mundur!
Lan Hong yang mengintai dari dalam bingung melihat betapa dua orang peno­longnya dikeroyok oleh sepuluh orang buas itu. Ia ingin sekali membantu me­reka, akan tetapi pedangnya telah hi­lang ketika ia dikeroyok tadi. Ia men­cari-cari dengan matanya di dalam ru­angan kuil itu dan melihat beberapa potong kayu yang agaknya dipergunakan orang membuat api unggun. Lalu dipilih­nya sebatang kayu sebesar lengannya, panjangnya satu meter lebih. Kayu itu cukup kuat dan lumayan untuk dipergunakan sebagai senjata. Lan Hong sudah menjadi nekat. Kalau kedua orang peno­longnya itu kalah, tentu ia akan terjatuh ke tangan sepuluh orang jahat itu. Melarikan diripun tidak ada gunanya, karena hari akan menjadi gelap dan ia tidak mengenal jalan. Lebih baik mem­bantu kedua orang penolongnya itu, me­nang atau kalah bersama mereka! Ia la­lu meloncat keluar dan menyerbu ke da­lam pertempuran itu, menggunakan tong­katnya memukul seorang pengeroyok dari belakang.
“Bukk!” Orang itu terjungkal pingsan karena pukulan Lan Hong tepat me­ngenai tengkuknya! Kemudian Lan Hong mengamuk dengan tongkatnya, membantu dua orang murid Kun-lun-pai itu. Meli­hat ini, dua orang pemuda itu merasa kagum, akan tetapi juga khawatir. Dari gerakannya, mereka dapat menduga bahwa wanita yang mereka tolong itu pandai juga ilmu silat, akan tetapi ia hanya bersenjata sebatang kayu sedangkan pa­ra pengeroyok adalah orang-orang kejam yang semua memegang golok.
Sepuluh orang berpakaian hitam-hitam itu tertawa gembira lalu lari me­ngejar sambil berteriak-teriak. Mereka seperti segerombolan srigala yang me­ngejar dan mempermainkan seekor kelin­ci, yakin bahwa akhirnya kelinci itu takkan terlepas dari terkaman mereka. Mereka mengejar sambil tertawa-tawa dan Lan Hong melarikan diri sekuat te­naga. Ia dapat membayangkan kengerian yang melebihi maut kalau sampai ia tertangkap oleh orang-orang biadab itu. Lebih baik mati dari pada membiarkan dirinya diperkosa dan dihina. Akan te­tapi, sebelum putus asa, ia akan beru­saha sekuat tenaga untuk melarikan diri atau melawan sampai napas terakhir.
Para pengejar itu memang sengaja hendak mempermainkan Lan Hong, maka mereka hanya berlari di belakangnya, ti­dak segera menangkapnya. Lan Hong berlari terus, menurut jalan setapak dan ia melihat sebuah kuil tua di depan.
Karena tidak tahu lagi harus lari ke mana, dan kedua kakinya sudah menjadi semakin lelah, Lan Hong lalu lari menuju ke kuil itu. Siapa tahu penghu­ni kuil dapat menolongnya, pikirnya penuh harapan. Sepuluh orang pria itu mengejar sambil tertawa-tawa.
“Ha-ha-ha, engkau mengajak kami ke kuil itu, manis? Tempat yang enak untuk bersenang-senang!”
Lan Hong tidak memperdulikan ucapan mereka dan berlari terus. Hatinya semakin kecut ketika melihat bahwa ku­il itu adalah sebuah kuil tua yang a­gaknya sudah tidak dipakai lagi. Tentu kosong tidak ada orangnya, pikirnya dengan gelisah. Akan tetapi, ketika ia memandang ragu dan berdiri di ruangan depan, terdengar suara dari dalam.
“Jangan takut, masuklah dan kami yang akan menghadapi gerombolan iblis itu!” Dan nampak dua orang pria yang gagah berlompatan keluar dari ruangan dalam. Mereka adalah dua orang pemuda yang berbangsa Han, berusia kurang le­bih dua puluh tujuh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi besar dengan muka per­segi dan sikapnya gagah. Orang ke dua bertubuh sedang, akan tetapi mukanya yang bulat itu penuh brewok yang rapi sehingga dia kelihatan gagah pula. Di tangan mereka nampak sebatang pedang.
Melihat mereka dan sikap mereka yang baik, Lan Hong segera memberi hormat. “Ji-wi taihiap (dua pendekar perkasa), tolonglah saya,....”
“Enci yang baik, jangan takut. Masuklah dan kami akan membasmi para penjahat itu!” kata yang tinggi besar dan dia berkata kepada orang ke dua yang brewok. “Sute, mari kita hadapi mereka, di depan kuil!” Mereka lalu berloncat­an keluar. Lan Hong cepat menyelinap di balik dinding dan ia mengintai keluar dengan jantung berdebar penuh kete­gangan, akan tetapi lega juga bahwa di situ ia bertemu dengan dua orang gagah yang siap membela dan melindunginya. Ia hanya dapat berharap agar kedua o­rang gagah itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk melawan pengeroyokdn sepuluh orang yang buas itu.
Sepuluh orang berpakaian hitam dengan gambar seekor kala putih di baju bagian dada, tercengang ketika melihat dua orang pemuda gagah berdiri di de­pan kuil dengan pedang di tangan, menghadang mereka.
“Heii, siapa kalian berani menghadang di depan kami? Hayo cepat mengge­linding pergi!” bentak seorang di antara sepuluh orang berpakaian hitam itu.
Pemuda yang tinggi besar itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah mere­ka sambil melintangkan pedang di depan dadanya yang bidang. “Hemm, sudah lama kami mendengar tentang gerombolan Kala Putih yang jahat! Ternyata kabar itu benar, gerombolan Kala Putih bukan ha­nya perampok dan perkumpulan penjahat keji, akan tetapi juga tidak segan un­tuk mengganggu wanita. Sudah sepantas­nya kalau kami membasmi gerombolan ma­cam kalian!”
Sepuluh orang itu terbelalak pe­nuh kemarahan mendengar kata-kata yang amat menghina itu. Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus, me­langkah maju. Agaknya ia mewakili ka­wan-kawannya dan dengan suara meleng­king tinggi diapun membentak.
“Kalian ini bocah-bocah ingusan hendak menentang Kala Putih? Perkenal­kan nama kalian lebih dulu agar kami tidak akan membunuh orang tanpa nama!”
Pemuda tinggi besar itu dengan lantang menjawab, “Kami tidak pernah menyembunyikan nama! Kami adalah murid murid Kun-lun-pai yang selalu akan me­nentang kejahatan. Namaku Ciang Sun dan sute ini adalah Kok Han!”
Memang dua orang pemuda perkasa itu bukan lain adalah Ciang Sun dan Kok Han, dua orang murid Kun-lun-pai yang berani itu. Mereka berdua diutus oleh ketua Kun-lun-pai, yaitu Thian Hwat Tosu, untuk pergi ke daerah Tibet mencari susiok (paman guru) mereka yang bernama Lie Bouw Tek. Lie Bouw Tek adalah murid kepala Kun-lun-pai, murid langsung dari ketua Thian Hwat Tosu dan karena Ciang Sun dan Kok Han adalah murid kelas tiga, maka Lie Bouw Tek terhitung susiok mereka. Mereka berdua mencari-cari Lie Bouw Tek dan membawa sepucuk surat dari ketua Kun-lun-pai untuk murid kepala itu. Seper­ti telah kita ketahui, dalam perjalan­an, mereka pernah berjumpa dengan Pen­dekar Bongkok Sie Liong ketika Sie Li­ong mempertemukan dua orang kekasih yang dipisahkan karena watak ayah si gadis yang mata duitan.
Mendengar bahwa dua orang pemuda itu adalah murid-murid Kun-lun-pai se­puluh orang berpakaian hitam itu menja di semakin marah. “Aha, kiranya orang-orang Kun-lun-pai yang usil dan gatal tangan, hendak mencampuri urusan kami orang Kala Putih! Kami tidak pernah bertentangan dengan Kun-lun-pai, sela­lu bersimpang jalan, kenapa hari ini ada orang Kun-lun-pai yang sengaja hen­dak menentang kami?”
Ciang Sun tersenydm mengejek. “Selama Kala Putih tidak melakukan keja­hatan, kami dari Kun-lun-pai tidak perduli. Akan tetapi, kami selalu akan menentang kejahatan yang dilakukan o­leh siapapun juga. Kalian mengejar-ngejar seorang wanita dengan niat yang kotor dan jahat, tentu saja kami menen­tang kalian!”
“Keparat, sekali lagi, pergilah kalian dan biarkan kami menawan perempuan itu! Kami masih memandang perkum­pulan Kun-lun-pai dan tidak akan menuntut atas sikap kalian yang lancang i­ni!”
“Persetan dengan Kala Putih yang jahat!” bentak Ciang Sun. Sepuluh orang itu tak dapat lagi menahan kema­rahan mereka. Kalau tadi mereka masih meragu dan mencoba untuk membujuk ada­lah karena mereka tahu bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah partai persilatan besar, dan mereka tidak ingin menanam permusuhan dengan perkumpulan itu. Akan tetapi, para anggauta Kala Putih selalu mengandalkan kepandaian dan ke­beranian mereka untuk melakukan keke­rasan memaksakan kehendak mereka, maka melihat sikap kedua orang murid Kun-lun-pai yang menentang itu, merekapun segera mulai menyerang!
Ciang Sun dan sutenya, Kok Han, menggerakkan pedang mereka menyambut serangan golok dan terjadilah perkela­hian yang seru. Sepuluh batang golok berkelebatan dan sinarnya, ketika ter­timpa matahari sore menyilaukan mata. Namun, gerakan kedua orang murid Kun-lun-pai memang indah dan dua orang ini merupakan murid yang cukup pandai se­hingga pedang mereka berubah menjadi dua gulung sinar yang amat kuat, yang mampu menahan semua serangan golok, bahkan sinar pedang itu mencuat ke sa­na-sini melakukan serangan balasan yang membuat sepuluh orang anggauta Kala Putih itu menjadi kacau balau dan terdesak mundur!
Lan Hong yang mengintai dari dalam bingung melihat betapa dua orang peno­longnya dikeroyok oleh sepuluh orang buas itu. Ia ingin sekali membantu me­reka, akan tetapi pedangnya telah hi­lang ketika ia dikeroyok tadi. Ia men­cari-cari dengan matanya di dalam ru­angan kuil itu dan melihat beberapa potong kayu yang agaknya dipergunakan orang membuat api unggun. Lalu dipilih­nya sebatang kayu sebesar lengannya, panjangnya satu meter lebih. Kayu itu cukup kuat dan lumayan untuk dipergunakan sebagai senjata. Lan Hong sudah menjadi nekat. Kalau kedua orang peno­longnya itu kalah, tentu ia akan terjatuh ke tangan sepuluh orang jahat itu. Melarikan diripun tidak ada gunanya, karena hari akan menjadi gelap dan ia tidak mengenal jalan. Lebih baik mem­bantu kedua orang penolongnya itu, me­nang atau kalah bersama mereka! Ia la­lu meloncat keluar dan menyerbu ke da­lam pertempuran itu, menggunakan tong­katnya memukul seorang pengeroyok dari belakang.
“Bukk!” Orang itu terjungkal pingsan karena pukulan Lan Hong tepat me­ngenai tengkuknya! Kemudian Lan Hong mengamuk dengan tongkatnya, membantu dua orang murid Kun-lun-pai itu. Meli­hat ini, dua orang pemuda itu merasa kagum, akan tetapi juga khawatir. Dari gerakannya, mereka dapat menduga bahwa wanita yang mereka tolong itu pandai juga ilmu silat, akan tetapi ia hanya bersenjata sebatang kayu sedangkan pa­ra pengeroyok adalah orang-orang kejam yang semua memegang golok.
“Enci, masuklah ke dalam, biar kami yang menghajar mereka!” teriak Kok Han dengan khawatir.
“Tidak, aku harus membantu kalian membasmi iblis-iblis jahat ini!” jawab Lan Hong yang terus mengamuk dengan tongkatnya. Akan tetapi, dua orang me­ngeroyoknya dengan golok dan Lan Hong terhimpit, lalu sebuah tendangan yang cukup keras mengenai pahanya, membuat wanita itu terguling roboh!
“Hati-hati....!” teriak Ciang Sun yang cepat menerjang dan melindungi tubuh wanita itu dari para pengero­yoknya, dengan pedangnya berkelebat ke kiri merobek pangkal lengan seorang pengeroyok, dan melindungi tubuh Lan Hong dengan putaran pedangnya. Akan tetapi Lan Hong bangkit lagi dan menga­muk lagi, tidak memperdulikan pahanya yang terasa nyeri.
Kini, dua orang murid Kun-lun-pai menjadi semakin sibuk karena mereka harus pula melindungi Lan Hong yang mengamuk seperti seekor harimau betina itu. Namun, diam-diam mereka merasa ka­gum dan tidak menyesal menolong wanita yang ternyata gagah berani ini.
Tiba-tiba terdengar bentakan nya­ring, dengan suara pria yang besar dan parau, “Tahan semua senjata!”
Mendengar suara ini, sembilan o­rang berpakaian hitam itu segera berloncatan ke belakang. Ada yang meno­long kawan yang pingsan oleh pukulan tongkat di tangan Lan Hong, dan ada yang dengan girang berseru, “Toako datang....!”
Melihat para pengeroyok berloncatan mundur, Ciang Sun dan Kok Han memandang orang yang baru datang itu dengan penuh perhatian. Lan Hong juga melon­cat ke belakang dan wanita ini menahan rasa nyeri di pahanya, wajahnya merah sekali, napasnya agak terengah, dahi dan lehernya basah keringat, rambutnya kusut, akan tetapi ia nampak semakin manis menarik dan gagah ketika ia ber­diri tak jauh dari dua orang pemuda Kun-lun-pai itu dengan tongkat di ta­ngan, tongkat yang sudah tidak karuan bentuknya karena berulang kali bertemu dengan golok para pengeroyok yang ta­jam.
Orang yang baru datang itu adalah seorang laki-laki yang usianya antara empat puluh lima sampai lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, kepalanya besar dan botak sedangkan kulit muka dan tangannya putih sekali, putih yang tidak wajar sehingga mudah diketahui bahwa dia adalah seorang bule. Rambut di kepalanya agak kekuningan yang hanya tumbuh di bagian bawah saja, dan bulu-bulu di muka, leher dan lengannya juga kekuningan. Dia pun mengenakan pakaian serba hitam, akan tetapi terbuat dari sutera, dan lukisan seekor kala putih di bajunya lebih besar daripada yang berada di baju anak buahnya. Mudah diduga bahwa tentu dialah kepala dari gerombolan Kala Putih itu.
Dengan suara yang aneh dan asing logatnya, raksasa bule itu berteriak marah. “Heh, siapa yang berani membi­kin ribut di sini dan bahkan melukai seorang anak buahku? Siapa kalian ber­tiga dan mengapa berkelahi melawan a­nak buahku?”
Sebelum dua orang pemuda itu menjawab, seorang anak buah gerombolan i­tu sudah cepat melaporkan, “Toako, mereka berdua itu adalah murid-murid Kun-lun-pai yang sombong. Kami sedang me­ngejar wanita itu yang berani lewat seorang diri di sini, untuk kami tangkap dan kami serahkan kepada toako untuk diambil keputusan. Eh, dua orang ini muncul dan melindunginya, hendak merampasnya dari tangan kami!”
Raksasa bule itu memandang kepada Lan Hong dan wanita itu merasa bulu tengkuknva meremang saking ngerinya. Mata itu sungguh menyeramkan dan begi­tu penuh gairah! Kemudian raksasa itu, setelah menjelajahi seluruh tubuh Lan Hong dengan sinar matanya, tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, kiranya memperebutkan wanita? Aha, baru kuketahui sekarang bahwa orang-orang Kun-lun-pai juga su­ka kepada wanita. Tidak aneh, tidak a­neh!”
“Kami tidak memperebutkan wani­ta!” bentak Ciang Sun marah. “Kami me­lindungi wanita ini karena dikejar-kejar oleh anak buahmu. Kami murid Kun-lun-pai akan menentang semua kejahatan dan melindungi siapa saja yang teran­cam!”
“Ha-ha-ha-ha, tidak perlu malu-malu, sobat muda! Laki-laki mana yang tidak akan suka kepada seorang wanita yang manis dan denok seperti ini? Ka­lau memang kalian tidak suka, serahkan saja kepadaku, mengingat hubungan baik antara Kala Putih dan Kun-lun-pai. Ketahuilah bahwa aku adalah Konga Sang, ketua dan pemimpin Kala Putih yang se­lama ini tidak pernah mengganggu Kun-lun-pai.”
“Kami tidak akan membiarkan siapa saja mengganggu manita ini!” bentak pula Ciang Sun.
“Ho-ho-ha-ha, kiranya kalian mengajak bertanding? Baik, memang wanita ini cukup berharga untuk dijadikan ta­ruhan dalam pertandingan. Kalau kalian dapat mengalahkan aku, Konga Sang, kali­an boleh pergi membawanya dan kami takkan mengganggu. Akan tetapi kalau kalian kalah, wanita ini harus diserahkan kepadaku. Sudah adil, bukan?”
Lan Hong yang sejak tadi diam sa­ja, tiba-tiba membentak dengan suara nyaring, “Iblis jahat, engkau terlalu menghinaku. Dengarlah baik-baik, aku lebih baik mati dari pada menyerah ke­padamu!”
“Konga Sang,” kata Kok Han yang brewok gagah, “kalau engkau memang la­ki-laki sejati, biarkan wanita ini pergi melanjutkan perjalanannya dan jangan diganggu. Sedangkan kalau engkau menghendaki kita untuk bertanding, ka­mi akan menyambut tantanganmu itu. Taruhannya bukan wanita melainkan nyawa kita!”
“Kalian orang-orang muda sombong!” Konga Sang berseru dan sekali tangan kanannya bergerak, dia telah melepaskan sebatang rantai yang tadi melibat pinggangnya. Rantai itu sebesar ibu jari, panjangnya ada dua meter dan di ujung rantai terdapat kaitan baja yang menyeramkan. Inilah senjata raksasa bule itu. Dia memutar rantainya di atas kepala lalu membentak, “Kalau kalian berani, majulah!”
Ciang Sun dan Kok Han maklum bah­wa kepala gerombolan Kala Putih ini tentu lihai, maka merekapun maju de­ngan sikap yang waspada. Ciang Sun berkata kepada Lan Hong, “Enci, engkau mundurlah!”
Lan Hong tahu diri. Iapun maklum bahwa kepala gerombolan ini tidak bo­leh disamakan dengan anak buahnya tentu lihai bukan main dan ia tahu bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh untuk dapat dipergunakan membantu dua orang pendekar Kun-lun-pai itu. Kalau ia me­maksa diri maju, tentu hanya akan menjadi penghalang bagi dua orang peno­longnya. Maka iapun melangkah mundur dan siap dengan tongkatnya untuk membela diri. Ia mengeraskan hatinya, mencoba untuk bersikap tetap tenang dan si­ap menghadapi apapun juga. Hanya satu pegangannya. Ia tidak akan menyerah dan kalau terpaksa, ia akan memperta­hankan diri sampai mati!
“Haiiiiiitt....!” Kakek raksasa itu berteriak dan rantai di tangannya menyambar-nyambar ganas ke arah dua o­rang lawannya. Ciang Sun dan Kok Han mempergunakan kelincahan tubuh mereka untuk mengelak dan merekapun balas me­nyerang dengan pedang mereka. Namun, semua serangan pedang dapat ditangkis oleh sinar rantai yang bergulung-gulung. Setiap kali pedang bertemu ran­tai, terdengar bunyi nyaring dan nam­pak bunga api berpijar. Terjadilah perkelahian yang hebat, lebih seru daripada tadi ketika dua orang itu dikero­yok sepuluh orang anak buah gerombolan Kala Putih.
Akan tetapi, lewat tiga puluh ju­rus lebih, kedua orang murid Kun-lun-pai itu diam-diam mengeluh karena mereka mendapat kenyataan bahwa lawan mereka sungguh amat lihai. Permainan ran­tai itu sungguh dahsyat, selain amat cepat datangnya, juga mengandung tena­ga yang lebih kuat dari pada tenaga mereka berdua sehingga setiap kali pe­dang mereka bertemu rantai, mereka merasa betapa telapak tangan mereka menjadi nyeri dan panas. Bahkan beberapa kali, hampir saja mereka melepaskan pedang karena tidak tahan getaran hebat yang menyerang telapak tangan mereka.
“Ha-ha-ha, mampuslah!” Tiba-tiba raksasa bule itu membentak dan rantainya menyambar dengan tenaga sepenuhnya ke arah Ciang Sun. Pendekar ini melom­pat ke samping, akan tetapi tetap saja kaitan rantai itu mengenai leher bajunya.
“Bretttt....!” Baju itupun terobek sampai ke bawah, dari tengkuk ke pinggang. Masih untung bahwa kulit tubuh Ciang Sun tidak terluka! Pada saat itu, Kok Han sudah menusukkan pe­dangnya untuk melindungi kakak seperguruannya. Konga Sang menangkis dengan ujung rantai, dan tiba-tiba dia melepaskan rantai dari tangan kiri, hanya me­megangi dengan tangan kanan dan tangan kirinya yang berjari besar-besar itu telah menangkap pergelangan tangan Kok Han. Dan dengan sentakan aneh sambil memutar tubuhnya, tak dapat dipertahankan lagi oleh Kok Han, tubuhnya ikut terputar dan diapun terpelanting dan terbanting keras! Kiranya kepala gerombolan Kala Putih itu lihai pula dalam ilmu gulat! Ciang Sun cepat memutar pedangnva menyerang untuk melindungi su­tenya yang cepat menggulingkan tubuh­nya dan melompat bangun kembali. Kembali, kedua orang murid Kun-lun-pai itu menghadapi sambaran rantai dan kini mereka hanya mampu mempertahankan diri saja, tidak mampu lagi balas menye­rang.
“Ha-ha, kalian jaga baik-baik a­gar pengantinku itu tidak melarikan diri! Dua ekor domba ini sebentar lagi akan kusembelih, ha-ha-ha!” Konga Sang berkata kepada anak buahnya karena dia sudah merasa yakin bahwa tak lama lagi dia akan dapat merobohkan dua orang lawannya dan memondong wanita manis itu.
Sambil menyeringai, anak buahnya mendekati Lan Hong. Wanita ini memandang dengan wajah pucat. Iapun tahu bahwa dua orang penolongnya sudah terdesak dan berada dalam bahaya. Ia tahu bahwa mereka kini tidak mampu melindunginya lagi dan untuk melawan para anak buah gerombolan itupun ia tidak akan menang. Oleh karena itu, iapun sudah mengambil keputusan nekat, untuk melawan mati-matian dan kalau tertawan, ia akan membunuh diri! Ia mengangkat tongkatnya sambil berseru, “Majulah, akan kuhancurkan kepalamu!”
Akan tetapi, dua orang di antara para anak buah gerombolan itu, dua orang yang bertubuh tinggi besar, me­langkah maju sambil menyeringai.
“Manis, jangan banyak tingkah. Engkau akan menjadi pengantin pemimpin kami malam ini, ha-ha-ha! Lebih baik menyerah saja!”
Akan tetapi Lan Hong menyambut mereka dengan hantaman tongkatnya! Ia sudah lelah sekali, sudah hampir kehabisan tenaga, akan tetapi ia masih bersemangat dan pukulannya masih kuat. Akan tetapi, dua orang anak buah gerombolan itu adalah dua orang yang terkuat di antara mereka. Yang dihantam tongkat itu miringkan tubuhnya dan ketika tong­kat itu lewat, orang ke dua sudah me­nangkap lengan kanan Lan Hong yang memegang tongkat, sedangkan orang perta­ma sudah merangkulkan kedua lengannya yang panjang dan besar melingkari pinggang ramping Lan Hong.
“Lepaskan! Keparat busuk, lepaskan aku....!” Lan Hong meronta untuk melepaskan diri, namun dua orang itu memiliki tenaga yang kuat sekali.
Pada saat itu, terdengar bentak­an, “Kalian srigala-srigala yang ja­hat!” Bentakan ini disusul berkelebat­nya bayangan orang dan dua orang raksasa yang sedang menangkap Lan Hong yang meronta-ronta itu tiba-tiba saja ter­lempar dan terpelanting, roboh dan ti­dak mampu bangkit kembali. Seorang pe­cah kepalanya dan seorang lagi menge­rang kesakitan dengan beberapa buah tulang iga patah-patah. Kiranya yang muncul adalah seorang laki-laki yang ga­gah perkasa, berpakaian biru, dan tadi begitu muncul, dia menendang roboh dan menampar tewas dua orang anak buah ge­rombolan yang sedang menangkap Lan Hong.
Lan Hong terbelalak dan memandang kepada penolongnya. Seorang pria yang tinggi besar dan gagah perkasa, usia­nya hampir empat puluh tahun, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi, pakaian­nya berwarna biru dan di punggungnya nampak gagang sebatang pedang dengan ronce merah. Ketika Ciang Sun dan Kok Han melihat pria gagah perkasa itu, mereka menjadi girang sekali.
“Lie susiok (paman guru Lie)!” seru mereka dengan gembira dan hampir berbareng.
“Mundurlah kalian dan hajar saja anak buah Kala Putih, biar aku yang menghadapi Konga Sang!” kata pria ga­gah perkasa itu. Dia bernama Lie Bouw Tek, murid kepala Kun-lun-pai yang me­mang sedang dicari-cari oleh dua orang murid Kun-lun-pai itu. Begitu meloncat dan menggantikan dua orang murid kepo­nakannya, Lie Bouw Tek telah mencabut sebatang pedangnya yang mengeluarkan sinar kemerahan. Itulah pedang pusaka Ang-seng-kiam (Pedang Bintang Merah) yang menurut dongeng dibuat dari logam yang berasal dari bintang dan logam i­tu berwarna merah!
“Hemm, siapakah engkau?” Konga Sang membentak ketika melihat bahwa yang menghadapinya adalah seorang laki-laki yang tingginya tidak kalah olehnya, berdada bidang dan kokoh, dengan sinar mata yang tajam dan mencorong.
“Konga Sang, sudah lama aku mendengar akan sepak terjang Kala Putih yang semakin jahat. Sekarang kebetulan sekali kita bertemu di sini, aku tidak akan membiarkan engkau merajalela mengumbar nafsu kejahatanmu. Aku bernama Lie Bouw Tek, murid Kun-lun-pai!”
“Aha, lagi-lagi murid Kun-lun-pai. Sungguh mati, tak kusangka bahwa Kun-lun-pai terdiri dari orang-orang usil dan lancang, suka mencampuri urusan orang lain!”
“Tak perlu banyak cakap, Konga Sang! Bukan hanya murid Kun-lun-pai, akan tetapi seluruh pendekar di dunia ini pasti akan menentang perbuatan ja­hat!”
“Manusia sombong!” Bentak Konga Sang dan rantainya sudah menyambar dahsyat ke arah kepala Lie Bouw Tek. Pen­dekar ini merendahkan tubuhnya dan ke­tika rantai melewati atas kepalanya dia melangkah maju dan pedangnya menu­suk ke bawah lengan kanan lawan! Gerakannya mantap, cepat dan kuat sekali sehingga pedang itu meluncur bagaikan sinar merah yang didahului angin dan suara mendesing! Terkejutlah Konga Sang dan dia terpaksa melempar tubuh ke be­lakang untuk menghindarkan diri. Ran­tainya membuat gerakan memutar dan kembali menyambar ke arah pinggang lawan. Sekali ini Lie Bouw Tek menangkis de­ngan pedangnya sambil mengerahkan tenaga. Melihat lawan menangkis, Konga Sang girang dan dia menarik sedikit rantainya agar ujung yang ada kaitannya dapat melibat pedang lawan.
“Tranggg....!” terdengar suara nyaring dan bukan main kagetnya ha­ti Konga Sang ketika melihat betapa ujung rantainya berikut kaitannya telah putus! Kiranya pedang merah itu merupakan pedang pusaka yang ampuh! Untung baginya bahwa yang buntung hanya ujung sepanjang satu dua jengkal saja sehingga rantainya masih merupakan senjata yang berbahaya walaupun tanpa kaitan. Dengan marah dia mengeluarkan suara gerengan dan rantainya menyambar-nyambar ketika dia memutarnya dan melancarkan serangan bertubi-tubi.
Namun Lie Bouw Tek dapat mengelak dengan langkah-langkah yang teratur, kadang meloncat tinggi dan diapun mem­balas dengan tusukan dan bacokan pe­dang. Terjadi pertempuran yang amat seru di antara kedua orang ini. Ternyata tenaga mereka seimbang, juga kini mereka bertanding dengan hati-hati. Konga Sang jerih terhadap pedang pusaka itu, sebaliknya Lie Bouw Tek juga tidak be­rani sembarangan menangkis. Sekali pedangnya terlibat rantai, dia akan menghadapi bahaya karena diapun tahu bahwa kepala gerombolan ini adalah seorang ahli gulat. Dalam ilmu silat, dia da­pat menandingi kepala gerombolan itu, akan tetapi kalau dalam ilmu gulat, sekali tubuhnya tertangkap, bahaya maut mengancam dirinya!
Sementara itu, Ciang Sun dan Kok Han mengamuk, menghajar anak buah ge­rombolan yang kini tinggal tujuh orang itu. Yang dua tewas oleh Lie Bouw Tek dan yang tadi terkena hantaman tongkat Lan Hong pada tengkuknya, biarpun su­dah siuman akan tetapi masih pening dan tidak mampu berkelahi, agaknya ge­gar otak! Lan Hong juga tidak tinggal diam, ia sudah mengambil golok seorang di antara penjahat yang tewas, lalu ia membantu dua orang murid Kun-lun-pai yang mengamuk, dengan memutar golok itu sekuat tenaga!
Lie Bouw Tek yang sudah lama ber­kelana di daerah ini dan sudah banyak mendengar tentang gerombolan Kala Pu­tih, maklum bahwa gerombolan itu masih mempunyai banyak sekali anak buah dan hanya kebetulan saja sekali ini mereka hanya menghadapi kepala gerombolan de­ngan sepuluh orang anak buah saja. Dia khawatir kalau-kalau akan datang lebih banyak lagi anak buah gerombolan Kala Putih, maka sambil memutar pedangnya sehingga membentuk gulungan sinar me­rah yang merupakan benteng kokoh kuat yang melindungi dirinya, dia berseru keras.
“Ciang Sun! Kok Han! Kalian ajak pergi nona itu, biar aku yang menahan mereka. Cepat!”
Ciang Sun dan Kok Han mengerutkan alisnya. Kenapa susiok mereka menyuruh mereka melarikan diri? Padahal, jelas bahwa susioknya tidak kalah oleh Konga Sang, juga mereka bahkan mendesak tujuh orang anak buah gerombolan itu, malah di antara pihak musuh sudah ada yang tergores pedang. Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu, mereka tidak sempat membantah dan juga tidak berani membantah. Mereka mengenal susiok mereka sebagai seorang gagah perkasa dan kalau susioknya menyuruh mereka pergi lebih dahulu, tentu dia memiliki alas­an yang kuat.
“Mari, enci!” kata Ciang Sun sam­bil menarik tangan Lan Hong, diajak meloncat pergi sedangkan Kok Han melin­dungi mereka. Ketika tiga orang ini melarikan diri, para anak buah gerombol­an tidak berani mengejar. Mereka tidak bodoh. Tadi mereka sudah terdesak dan kalau dilanjutkan, mereka tentu akan roboh semua. Maka, sebaliknya daripada mengejar tiga orang itu, mereka kini membantu pemimpin mereka mengeroyok Lie Bouw Tek!
Lie Bouw Tek mengamuk bagaikan seekor rajawali merah! Pedangnya tidak nampak lagi, berubah menjadi sinar me­rah bergulung-gulung dan bermain di antara sinar golok dan rantai. Kadang-kadang, dari gulungan sinar merah itu mencuat sinar kilat disusul robohnya seorang pengeroyok karena disambar pe­dang Ang-seng-kiam. Lie Bou Tek sebe­tulnya memiliki ilmu yang seimbang de­ngan kepandaian Konga Sang, akan tetapi pedang pusakanya membuat lawan itu merasa jerih. Diapun tahu akan hal i­ni, dan dia tahu pula bahwa kalau Ko­nga Sang menyerang dengan sungguh-sungguh, dibantu beberapa orang anak buahnya, dia akan menghadapi bahaya. Maka, dia memberi waktu bagi dua orang murid keponakannya untuk melarikan di­ri bersama wanita itu, kemudian setelah memutar pedangnya, diapun moloncat jauh dan menghilang di balik semak be­lukar dan pohon-pohon yang mulal dise­limuti kegelapan karena malam telah menjelang tiba.
Konga Sang merasa penasaran dan marah sekali. “Kejar!” teriaknya, dan merekapun melakukan pengejaran. Namun, karena di dalam hati mereka timbul ra­sa jerih menghadapi tiga orang murid Kun-lun-pai itu, maka mereka tidak berani berpencar ketika mengejar dan mencari sehingga gerakan mereka tidak da­pat cepat. Apalagi mereka terhalang oleh kegelapan malam sehingga akhirnya mereka terpaksa menghentikan pengejar­an dan menolong kawan yang terluka atau tewas. Konga Sang mengapal tinju dan berkata dengan geram.
“Orang-orang Kun-lun-pai telah menghinaku! Awas, sekali waktu aku a­kan mengambil tindakan!” Walaupun ucapan ini lebih banyak hanya untuk mengumbar rasa penasaran dan marahnya karena diapun tahu betapa kuatnya Kun-lun-pai yang mempunyai banyak murid yang pan­dai dan pimpinan yang berilmu tinggi itu. Kalau tidak yakin akan kekuatan pasukannya sendiri, penyerbuan ke Kun-lun-pai hanya akan mengakibatkan pasu­kannya hancur.
Mereka duduk mengitari api unggun. Mereka berempat kini berada di puncak bukit, dari mana mereka dapat melihat ke empat penjuru dan tempat itu aman dan baik untuk melewatkan malam. Kalau ada musuh datang, maka dari jauhpun sudah akan dapat mereka lihat atau de­ngar karena sekeliling mereka datar dan merupakan padang rumput.
Tadi Lie Bouw Tek dapat menyusul Ciang Sun dan Kok Han yang mengajak Sie Lan Hong melarikan diri dan dua o­rang pendekar Kun-lun-pai itu segera memberi hormat dan berlutut di depan kaki Lie Bouw Tek.
“Terima kasih atas bantuan Lie susiok,” kata mereka.
Lan Hong juga ikut berlutut dan berkata, “Atas pertolongan taihiap, akupun mengucapkan terima kasih.”
“Bangkitlah kalian berdua, juga engkau, nona. Bangkitlah, tidak perlu dengan segala macam kesungkanan ini. Musuh berada jauh di bawah dan mungkin tidak akan mengejar ke sini. Andaikata mereka datang, kita dapat melihat mereka sebelum mereka dekat. Tempat ini baik sekali untuk melewatkan malam. Ci­ang Sun dan Kok Han, kumpulkan kayu kering dan kita bikin api unggun di sini.”
Demikianlah, mereka kini duduk saling berhadapan, mengelilingi api ung­gun yang bernyala indah, terang dan hangat. Lan Hong memandang kepada pria yang duduk tepat di depannya, terhalang api unggun itu. Sinar api unggun yang kemerahan menerangi wajah pria itu dengan jelas. Dan iapun merasa kagum. Seorang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh enam tahun, tubuhnya tinggi besar akan tetapi perutnya tidak gendut, seperti tubuh seekor kuda balap yang pilihan. Dan wajahnya demikian tenang, penuh wibawa dan gagah perkasa. Wajah yang jantan sekali, bukan tampan kewanitaan, melainkan jantan perkasa. Sikapnya seperti seekor burung garuda, atau seperti seekor harimau. Ya, seperti seekor harimau karena tadi ketika mencari kayu bakar, lenggang dan langkahnya mengingatkan Lan Hong akan seekor harimau. Tanpa ia ketahui, pria di depannya itupun sejak tadi memperhatikannya, walaupun tidak kentara. Dan Lie Bouw Tek juga kagum. Wanita itu sungguh jelita dan tidak mengherankan kalau Konga Sang, kepala gerombolan Kala Putih itu, tertarik dan bertekad untuk menawannya. Seorang wanita yang sudah matang, usianya su­kar ditaksir, nampaknya masih amat mu­da akan tetapi sikap dan gerak gerik­nya, bentuk tubuhnya, wajahnya yang manis, sudah matang seperti seorang wanita yang sudah dewasa benar. Tubuhnya tinggi semampai, dengan pinggangnya yang amat ramping dan pinggul yang be­sar membulat. Wajahnya amat manis, de­ngan kulit yang mulus dan mulut yang membayangkan kealiman, akan tetapi sepasang mata itulah yang amat menarik perhatiannya. Sepasang mata yang indah jeli, namun penuh bayangan duka dan derita.
“Ciang Sun dan Kok Han, sekarang ceritakanlah bagaimana kalian dapat berada di sini dan sampai berkelahi de­ngan orang-orang gerombolan Kala Putih itu,” kata Lie Bouw Tek, suaranya te­nang sekali dan mendatangkan perasaan damai dan aman dalam hati Lan Hong. Ketika pandang mata mereka saling berte­mu, Lan Hong cepat menundukkan mukanya dan pada wajah pria yang gagah itu terbayang suatu keheranan. Memang dia merasa heran sekali mengapa dia demikian tertarik kepada wanita ini. Padahal sejak dikecewakan oleh seorang wanita, ketika dia berusia dua puluh tahun, sampai sekarang berusia tiga puluh enam tahun, belum pernah dia merasa tertarik kepada seorang wanita. Bukan berarti bahwa tidak ada wanita yang jatuh cinta kepadanya. Banyak sudah wanita yang suka kepadanya, bahkan banyak pula ayah dari gadis-gadis cantik menginginkan dia sebagai mantu mereka, namun dia selalu menolak. Dan sekarang dia merasa tertarik kepada seorang wanita yang baru saja dijumpainya, bahkan belum dikenal namanya dan belum diketahui pula riwayatnya.
“Kami berdua memang sengaja datang ke daerah ini untuk mencarimu, susiok. Kami diutus oleh supek (uwa guru) Thi­an Hwat Tosu untuk mencarimu dan menyerahkan surat ini kepadamu.”
“Hemm, toa-suheng (kakak sepergu­ruan tertua) Thian Kwat Tosu yang mengutus kalian? Sudah pasti ada urusan penting sekali,” kata Lie Bouw Tek dan dia menerima sampul surat itu, lalu merobek ujung sampul dan mengeluarkan surat dari dalamnya. Di bawah penerangan api unggun, dibacanya surat itu. Dalam surat, kedua orang suhengnya, yaitu ketua Kun-lun-pai Thian Hwat Tosu dan wakilnya, Thian Khi Tosu, menyerahkan tugas kepadanya untuk menyelidiki keadaan lima orang tokoh di Tibet yang dikenal dengan julukan Tibet Ngo-houw (Lima Harimau Tibet), yaitu Thay Ku Lama, Thay Si Lama, Thay Pek Lama, Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama. Para pimpinan Kun-lun-pai itu merasa penasaran seka­li melihat sikap lima orang tokoh Tibet itu yang pernah mengambil sikap bermusuhan dengan Kun-lun-pai dan hampir terjadi bentrokan hebat antara Kun-lun-pai dengan mereka. Padahal, sejak da­hulu, Dalai Lama sendiri dan para pendeta Lama di Tibet bersikap baik dan bersahabat dengan Kun-lun-pai. Oleh karena itu, mengingat bahwa yang dapat diandalkan di Kun-lun-pai hanyalah Lie Bouw Tek, satu-satunya tokoh Kun-lun-pai yang ­bebas, yaitu tidak menjadi tosu dan tidak bertugas di Kun-lun-pai melainkan menjadi seorang kelana yang bebas, maka para pimpinan Kun-lun-pai mengutus Lie Bouw Tek untuk melakukan penyelidikan itu.
Membaca surat itu, Lie Bouw Tek mengangguk-angguk. “Sampaikan hormatku kepada kedua suheng, dan aku menerima baik tugas yang diberikan kepadaku.” Hanya itulah pesannya kepada dua orang keponakannya itu. “Akan tetapi bagaimana kalian sampi bentrok dengan gerombolan Kala Putih?” Dia mengulang pertanyaannya.
“Hal itu terjadi hanya karena kebetulan saja, susiok. Kami sedang beristirahat di kuil tua di lereng bukit itu ketika tiba-tiba kami melihat enci ini berlari-lari dan dikejar oleh gerombolan Kala Putih menuju ke kuil. Kami sudah mendengar akan kejahatan Kala Putih, maka kami lalu membela enci ini, sampai susiok muncul dan menyelematkan kami semua.”
Lie Bouw Tek mengerutkan alisnya mendengar Ciang Sun menyebut “enci” (kakak perempuan) kepada wanita itu. Mungkin Ciang Sun salah lihat, ataukah dia yang keliru? Wanita itu nampaknya tidak lebih tua dari murid keponakannya itu. Ataukah sebutan itu hanya sebutan akrab saja?
“Hemm, kalau boleh aku mengetahuinya, bagaimana sampai engkau dikejar-kejar oleh mereka, nona? Dan siapakah nona, mengapa pula melakukan perjalan­an seorang diri di tempat ini?” Lalu dia menyambung cepat ketika teringat bahwa dia bertanya nama kepada seorang wanita tanpa lebih dahulu memperkenal­kan diri. “Mungkin nona sudah tahu bahwa kami bertiga adalah murid-murid Kun-lun-pai. Namaku Lie Bouw Tek, sedang­kan dua orang murid keponakanku ini bernama Ciang Sun dan Kok Han.”
Lan Hong memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada, lalu berkata dengan suara lirih namun cukup jelas bagi tiga orang itu. “Namaku Sie Lan Hong dan aku datang dari kota Sung-jan di perbatasan sebelah barat Propinsi Sin-kiang. Akan tetapi, harap Lie Taihiap jangan menyebut nona kepadaku. Aku bukan seorang gadis yang be­lum menikah. Aku pergi untuk mencari seorang adikku, dan juga mencari pute­riku....”
Lie Bouw Tek membelalakkan kedua matanya. Wanita ini sudah menikah, bahkan sudah mempunyai seorang puteri! Kalau begitu, agaknya penglihatan kedua orang murid keponakannya itu yang benar. Dia merasa betapa mukanya menjadi panas dan untunglah bahwa sinar api unggun memang sudah kemerahan dan mem­buat wajahnya merah sehingga perubahan wajahnya tidak akan nampak oleh orang lain.
“Ah, maafkan aku, toanio (nyonya). Kiranya toanio mencari adiknya dan puterinya? Akan tetapi, kenapa engkau mencari mereka seorang diri saja? Mengapa tidak dengan suamimu.... maaf....”
Lan Hong menundukkan mukanya, bu­kan karena sedih melainkan karena malu dan ucapannya lirih sekali. “Dia su­dah meninggal....”
“Ah, maafkan aku, toanio!” seru Lie Bouw Tek dan ingin dia memukul ke­palanya sendiri mengapa ada perasaan lega dan girang di dalam hatinya. Lega dan girang mendengar bahwa suami orang sudah meninggal. Sungguh kejam dan tak tahu malu, makinya pada dirinya sendi­ri. Sementara itu, diam-diam Ciang Sun dan Kok Han merasa heran dan geli melihat betapa susiok mereka yang biasanya berwibawa, tenang dan tegas itu kini telah beberapa kali minta maaf dan menjadi seperti gugup. Akan tetapi mereka pun tentu akan menjadi gugup kalau me­nanyakan suami seorang wanita lalu mendapat jawaban bahwa orang yang mereka tanyakan itu sudah meninggal dunia!
“Tidak mengapa, taihiap. Keduka­an itu telah lewat,” kata Lan Hong.
Kalau saja wanita itu tidak mengeluarkan ucapan ini, agaknya Lie Bouw Tek akan sukar mengeluarkan ucapan la­gi, apalagi untuk bertanya. Kini, se­telah Lan Hong berkata demikian, kei­nginan tahunya mendorongnya untuk ber­tanya lagi.
“Kalau boleh aku bertanya lagi toanio. Ke manakah perginya adikmu dan puterimu itu?”
“Aku tidak tahu benar, akan teta­pi aku hendak mencari mereka di Lasha.”
Lie Bouw Tek mengangguk-angguk, lalu berkata kepada kedua orang murid keponakannya. “Kalian ke Kun-lun-pai dan sampaikan kepada kedua suheng tentang pesanku tadi, sesuai dengan tugas yang mereka berikan kepadaku, aku akan pergi ke Lasha dan karena toanio ini hendak mencari keluarganya di Lasha, maka biar aku menemaninya. Kasihan kalau ia harus melakukan perjalanan seorang diri ke Lasha, hal itu amat berbahaya karena Lasha masih jauh dari sini.”
Dua orang pendekar Kun-lun-pai i­tu mengangguk. “Baik, susiok. Kami be­sok pagi akan berangkat, kembali ke Kun-lun-pai. Dan memang sebaiknya ka­lau anci ini ada temannya ke Lasha. Siapa tahu gerombolan Kala Putih itu akan melakukan pengejaran. Harap susiok berhati-hati karena mereka itu jahat sekali.”
“Aku mengerti. Bagaimana, toanio, setujukah engkau apabila aku menemanimu melakukan perjalanan ke Lasha? Kebetulan sekali akupun hendak pergi ke sana.”
“Tentu saja, ahh, tentu aku merasa senang sekali, taihiap. Tadinya a­ku hampir putus asa melihat betapa su­karnya mencari adikku, dan betapa bar­bahayanya perjalanan ini. Aku berteri­ma kasih sekali kepadamu, taihiap.”
“Sungguh engkau tahan uji dan juga bersemangat besar, toanio. Bagaimana mungkin dapat menemukan seseorang dalam jarak yang begini jauh, dan aku­pun belum dapat memastikan apakah eng­kau akan dapat menemukan adikmu di Lasha. Di sana banyak terdapat orang dan mencari seseorang di antara orang ba­nyak di tempat yang besar....”
“Adikku mudah dicari. Dia.... dia mempunyai cacat, yaitu punggungnya berpunuk dan dia bongkok....”
Tiba-tiba Ciang Sun dan Kok Han saling pandang dan Kok Han segera berseru, “Nanti dulu, enci. Apakah adikmu itu bernama Sie Liong?”
Kini Lan Hong yang terkejut dan memandang heran. “Benar sekali! Bagai­mana engkau bisa tahu?”
“Ah, kiranya Pendekar Bongkok itulah adikmu, enci! Tidak sukar menduga setelah engkau tadi mengatakan bahwa adikmu itu bongkok. Engkau she Sie dan Pendekar Bongkok juga she Sie. Kami pernah bertemu dengan dia!”
Hampir Lan Hong bersorak. Ia merasa gembira sekali. “Di mana dia? Bagaimana keadaannya?”
Juga Lie Bouw Tek menjadi terta­rik mendengar bahwa adik wanita ini yang dicari-cari itu disebut Pendekar Bongkok oleh dua orang murid keponakannya.
“Kok Han, ceritakan tentang Pendekar Bongkok itu. Aku ingin sekali tahu karena belum pernah aku mendengar namanya.”
Kini Ciang Sun yang menjawab. “Aih, susiok. Dia memang baru saja muncul di dunia kang-ouw, masih amat muda akan tetapi namanya cepat sekali menjadi terkenal. Tentang ilmu kepandaiannya, ah, susiok, kami berani mengatakan bahwa selama hidup belum pernah kami ber­temu dengan seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian sehebat yang dimiliki Pendekar Bongkok! Dia lihai bukan main, susiok sehingga kami berdua merasa seperti kanak-kanak tidak berdaya saja kalau dibandingkan dengan dia! Sayang sekali, enci, kami tidak tahu ke ­mana sekarang dia pergi, karena kami berjumpa dengan dia baru-baru ini di sebuah dusun di mana dia melakukan hal yang menggemparkan dan mengagumkan. Bahkan dulu, ketika dia masih kecil, tujuh tahun yang lalu, kamipun pernah bertemu dengan dia. Akan tetapi, baik­lah kami ceritakan saja pengalaman dua kali bertemu dengan adikmu yang aneh dan yang gagah perkasa itu, enci, agar susiok juga mengetahui siapa adanya Pendekar Bongkok yang kami kagumi i­tu.”
Ciang Sun dan Kok Han lalu mence­ritakan pengalaman mereka. Mula-mula pengalaman mereka tujuh tahun yang la­lu ketika mereka menolong seorang tosu yang diseret-seret oleh dua orang pen­deta Lama Jubah Merah. Mereka baru pu­lang berbelanja untuk Kun-lun-pai dan waktu itu usia mereka baru dua puluh tahun. Akan tetapi, dua orang pendeta Lama itu ternyata lihai bukan main sehingga mereka berdua tidak berdaya dan roboh tertotok. Mereka hampir dibunuh oleh dua orang pendeta Lama itu, akan tetapi tosu itu, yang tadi diseret-se­ret dan yang ternyata adalah seorang sakti yang bernama Pek-in Tosu, berba­lik menyelamatkan mereka. Terjadi perkelahian antara Pek In Tosu dan dua o­rang pendeta Lama itu.
“Nanti dulu, bukankah Pek-in Tosu itu seorang di antara Himalaya Sam Lojin?” tanya Lie Bouw Tek yang banyak mengenal tokoh Himalaya dan daerah barat.
“Benar, susiok. Perkelahian itu hebat sekali, akan tetapi ketika dua orang pendeta Lama itu mengeluarkan ilmu sihir melalui suara nyanyian mereka, Pek-in Tosu kewalahan dan hampir roboh. Untunglah, pada saat itu muncul Pendekar Bongkok, pada waktu itu hanya seorang anak laki-laki berusia dua belas atau tiga belas tabun yang bongkok, dan Pek-in Tosu tortolonglah.”
“Apa? Dalam usia dua belas tahun sudah begitu lihainya?” Lie Bouw Tek berseru heran dan kagum.
“Tidak, susiok. Pada waktu itu, dia belum pernah mempelajari silat, a­taupun kalau pernah, masih dangkal se­kali. Akan tetapi dia memang aneh dan cerdik. Mendengar dua orang pendeta Lama itu bernyanyi-nyanyi yang mengan­dung sihir sehingga Pek-in Tosu kewalahan, anak itu lalu menggunakan bambu memukuli batu-batu sehingga suaranya bising sekali. Suara ini yang agaknya mengacaukan ilmu sihir dua orang pendeta Lama itu dan mereka kalah oleh Pek-in Tosu dan melarikan diri. Itulah pertemuan kami yang pertama dengan Pendekar Bongkok.”
“Sungguh menarik sekali!” kata Lie Bouw Tek kagum.
“Ah, kasihan adikku. Taihiap, apakah dua orang pendeta Lama itu tidak marah karena mereka diganggu oleh Sie Liong?” kata Lan Hong.
“Dua orang pandeta Lama itu marah sekali dan mereka menyerang Pendekar Bongkok, akan tetapi Pek-in Tosu yang sudah sadar kembali dari pengaruh si­hir lalu membelanya dan berhasil mengusir dua orang pendeta Lama itu.”
“Dan bagaimana perjumpaan kalian untuk yang kedua kalinya dengan Pende­kar Bongkok?”
“Pertemuan kami dengan dia baru saja terjadi beberapa pekan yang lalu, di sebuah dusun di perbatanan Tibet. Ketika itu kami menjadi tamu kepala dusun yang sedang merayakan pesta perni­kahan puteranya. Akan tetapi pernikah­an itu gagal karena Pendekar Bongkok turun tangan mancampuri. Kiranya dia yang benar karena pernikahan dengan putera kepala dusun itu dipaksakan. Setelah mengetahui duduknya perkara, kami setuju akan tindakan Pandekar Bongkok yang menggagalkan pernikahan itu dan di dalam perjumpaan itulah dia menge­nal kami berdua. Ternyata dia telah menjadi seorang pendekar yang sakti!”
Lan Hong menarik napas panjang mendengar cerita dua orang murid Kun-lun-pai itu. “Ya, memang setelah pu­lang dari perantauannya, adikku telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Menurut pengakuannya, dia telah menjadi murid Himalaya Sam Lojin dan Pek-sim Sian-su.”
“Ahhh....!” Lie Bouw Tek berseru dengan mata terbelalak panuh ka­sum. “Pantas saja adikmu itu menjadi seorang pendekar yang sakti, toanio! Kiranya dia murid orang-orang yang sakti. Menjadi murid Himalaya Sam Lojin sudah hebat apalagi menjadi murid Pek-sim Sian-su! Ah, sungguh hebat sekali adikmu itu, toanio!”
Mendengar pujian-pujian itu, Lan Hong sama sekali tidak menjadi gembi­ra, bahkan diam-diam ia merasa sedih sekali, mengingat akan nasib adiknya. Sejak kecil, adiknya sudah mengalani kesengsaraan, bahkan dibandingkan dengan dirinya sendiri, adiknya itu lebih tersiksa. Tersiksa lahir batin, bahkan kini sedang dicari oleh Bi Sian untuk dibunuh!
Karena melihat Lan Hong kelelahan, Lie Bouw Tek menghentikan percakapan mereka dan mempersilakan wanita itu untuk mengaso. Dia memberikan selimutnya dan Lan Hong rebah miring dekat api unggun. Sebentar saja ia sudah terti­dur karena memang ia sudah lelah sekali. Lie Bouw Tek masih bercakap-cakap lirih dengan dua orang murid koponakannya, akan tetapi tak lama kemudian merekapun mengaso dengan duduk bersila.

***

Mereka berduA menunggang kuda berdampingan dan membiarkan kuda mereka berjalan perlahan menuruni bukit. Lie Bouw Tek membeli dua ekor kuda di du­sun yang baru mereka tinggalkan, di lereng bukit. Lan Hong berterima kasih dan ketika ia hendak membayar harga kuda untuknya, pendekar itu mencegahnya. Diam-diam Lan Hong semakin kagum kepada pendekar yang bertubuh tinggi besar itu. Lie Bouw Tek bukan saja gagah perkasa, pendiam, berwibawa dan tenang sekali, akan tetapi ternyata juga bersikap lembut dan sopan terhadap dirinya. Belum pernah pendekar itu menunjukkan sikap kasar ataupun melanggar kesopanan terhadap dirinya sepanjang melaku­kan perjalanan bersamanya, bahkan di waktu memandangnya, pendekar itu selalu membatasi diri.
Karena senja telah tiba dan malam menjelang datang menggelapknn bumi, mereka terpaksa menghentikan perjalanan di kaki bukit itu. Mereka memilih sebuah guha di daerah yang penuh batu gu­nung itu sebagai tempat melewatkan ma­lam. Mereka membuat api unggun di mu­lut guha dan setelah makan roti dan daging kering, minum anggur yang tidak begitu keras, mereka lalu duduk bercakap-cakap di dalam guha. Api unggun menghangatkan tubuh dan mengusir nya­muk. Mereka duduk berhadapan, terha­lang api unggun. Melihat usia mereka, sepantasnyalah kalau ada orang melihat me­reka akan mengira bahwa mereka adalah sepasang suami isteri.
Keduanya termenung, seolah tenggelam dalam lamunan masing-masing. Padahal, diam-diam mereka itu saling memikirkan. Bagi Lan Hong, perasaannya yang amat kagum dan tertarik kepada pendekar itu merupakan pengalaman yang baru pertama kali ia rasakan. Semenjak masih remaja, hati dan badannya telah direnggut secara paksa oleh mendiang Yauw Sun Kok. Kalaupun akhirnya timbul perasaan cinta kepada Yauw Sun Kok, hal itu adalah karena keadaan. Ia telah menjadi isterinya, bahkan telah melahirkan anak keturunannya, maka ia anggap sudah semestinya dan sewajarnyalah kalau ia bersikap setia dan mencinta suaminya. Akan tetapi betapa seringnya hatinya menderita nyeri yang amat hebat melihat sikap suaminya, pertama sikap Suaminya terhadap adiknya, dan kedua kalinya ketika mereka kehilangan anak mereka sikap suaminya menjadi teramat buruk, bahkan mulai memaki dan memukulnya. Dan selama itu, sama sekali ia tidak pernah bergaul dengan pria lain, bahkan mengangkat muka memandangpun tak pernah. Dan kini, setelah ia menjadi janda, setelah ia bebas, tiba-tiba saja, tanpa disangkanya, ia kini melakukan perjalanan berdua saja dengan seorang pendekar yang dalam segala-galanya jauh berbeda dengan mendi­ang suaminya! Seorang pendekar yang berkepandaian tinggi, berjiwa satria, yang sopan santun dan lembut, namun keras dan jantan bagaikan seekor rajawa­li atau seekor naga jantan.
Di lain pihak, Lie Bouw Tek juga tiada habis herannya melihat kenyataan yang terjadi pada hatinya. Semenjak kegagalan cinta pertama, dia tak pernah mau bergaul dengan wanita, bahkan ada kecondongan menganggap bahwa wanita tidak dapat dipercaya, bahwa di balik kehangatan dan kelembutan itu tersembu­nyi kepalsuan, di balik keindahan itu tersembunyi racun yang jahat. Akan te­tapi mengapa kini dia demikian terta­rik kepada wanita yang sudah menjadi janda ini, yang biarpun tergolong can­tik namun tidaklah luar biasa, bahkan kecantikannya sederhana? Mengapa tim­bul perasaan iba yang mendalam, juga perasaan kagum terhadap wanita ini yang mendorongnya untuk membela dan melindunginya, kalau mungkin selama hidupnya?
“Toanio, engkau mengasolah, biar aku yang berjaga di sini,” akhirnya Lie Bouw Tek berkata kepada wanita itu.
“Aku belum mangantuk, taihiap. Engkau mengasolah biar aku yang berja­ga. Masa satiap kali kita bermalam di tempat terbuka, engkau saja yang mela­kukan penjagaan dan aku yang disuruh tidur.”
Lie Bouw Tek tersenyum. “Sudah sepantasnya begitu. Sudah menjadi kewa­jiban pria sebagai yang lebih kuat un­tuk selalu menjaga dan melindungl wanita yang lemah.”
“Akan tetapi aku tidaklah sedemi­klan lemahnya, taihiap.”
Lie Bouw Tek mengangkat muka menatap wajah itu. Mata itu! Mata yang in­dah akan tetapi sinaraya seperti mata­hari tertutup awan hitam. Dia menarik napas panjang. “Toanio, ada sedikit permintaan dariku, harap engkau tidak berkeberatan untuk memenuhi permintaanku itu.
”Lan Hong balas memandang, sinar matanya tajam menyelidik. Bagaimanapun percayanya kepada pendekar ini, penga­laman-pengalaman pahit selama dalam perjalanan karena ulah pria membuat ia berprasangka buruk dan berhati-hati. “Taihiap, permintaan apakah itu? Apa yang dapat kulakukan untukmu? Tentu saja aku bersedia memenuhi kalau permin­taanmu itu wajar dan baik.”
“Setiap kali engkau menyebut tai­hiap kepadaku, aku merasa amat tidak enak. Kita melakukan perjalanan bersama, berarti kita senasib seperjalanan, menghadapi segala bahaya dan segala kemungkinan berdua. Akan tetapi sebutan yang kaupakai itu membuat aku merasa seperti kita ini saling berjauhan dan asing.”
“Ah, sungguh aneh. Aku sendiripun merasa tidak enak setiap kali engkau menyebut toanio kepadaku. Sebutan itu demikian menghormati aku dan merendah­kan dirimu.”
Mereka saling pandang, lalu keduanya tersenyum. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita saling sebut seperti dua orang sahabat baik, atau seperti ang­gauta keluarga? Kita seperti kakak dan adik, bagaimana kalau engkau menyebut aku toako (kakak) dan aku menyebutmu siauw-moi (adik perempuan)?”
Biarpun wajahnya berubah merah dan jantungnya bardebar agak keras, namun Lan Hong tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, toako. Sejak saat ini aku a­kan menyebutmu Lie Toako.”
“Dan aku akan menyebutmu siaw­moi Sie Lan Hong, atau cukup dengan Hong-moi (adik Hong) saja, bagaimana?”
Kembali mereka saling pandang dan Lan Hong mengangguk. Lalu keduanya di­am, seolah-olah mereka merasa sungkan dan rikuh setdah ada sedikit keakrab­an tadi. Akhirnya, merasa tersiksa oleh kediaman mereka itu, Lie Bouw Tek bertanya. “Hong-moi, aku masih merasa heran sekali mengingat ceritamu bahwa puterimu telah pergi. Apakah ia pergi bersama adikmu, Pendekar Bongkok itu?”
Lan Hong menggeleng kepalanya dan kedua matanya kelihatan semakin sedih. Kalau saja mereka pergi berdua, pikir Lan Hong, tentu hatinya tidak serisau sekarang ini. “Dia pergi sendiri,toako. Ia pergi untuk mencari panannya yang pergi lebih dahulu.”
“Hemm, sungguh berbahaya kalau begitu. Dan sungguh berani sekali puterimu itu. Seorang anak perempuan kecil pergi seorang diri mencari pamannya, ke arah Tibet pula!”
Tiba-tiba Lie Bouw Tek memandang dengan mata terbelalak melihat betapa wanita yang duduk di seberang api unggun itu tertawa geli sambil menutupi mulut dengan punggung tangannya.
“Eh? Kenapa engkau tertawa geli, Hong-moi?”
“Habis, engkau lucu sih, toako. Bi Sian bukan seorang anak kecil lagi! Dia sudah berusia delapan belas tahun dan ia bukan pula seorang gadis lemah!”
“Ah, tidak mungkin! Aku tidak percaya!”
Kini Lan Hong yang terbelalak dan memandang heran. “Apa maksudmu, toako? Engkau tidak percaya kepadaku? Apa kau kira aku membobong?” Dalam suaranya torkandung penasaran. Entah mengapa, hatinya terada nyeri kalau tidak dipercaya oleh pendekar itu.
“Aku tidak mengatakan engkau mem­bohong, Hong-moi, akan tetapi siapa dapat percaya bahwa engkau mempunyai se­orang puteri yang berusia delapan belas tahun? Anakmu sendiri ataukan anak ti­ri, atau anak angkat?”
“Eh? Kenapa begitu, toako? Tentu saja anakku sendiri!”
“Itulah yang tidak mungkin! Kalau puterimu itu berusia tujuh atau dela­pan tahun, baru masuk akal. Akan teta­pi delapan belas tahun?”
Kini mengertilah Lan Hong dan se­nyumnya manis sekali, matanya bersinar dan untuk sejenak kedukaan yang membayang di dalamnya menipis.
“Lie-toako, berapa kaukira usiaku sekarang?”
“Paling banyak dua puluh lima tahun.”
Kembali Lan Hong tertawa geli dan menutupi mulutnya dengan tangan, “Hi-hik, engkau lucu, toako. Umurku tahun ini sudah tiga puluh tiga tahun.”

No comments:

Post a Comment

Post a Comment